Tes Napas Sederhana Ini Bisa Deteksi Bakteri Pemicu Masalah Pencernaan dan Kanker Lambung

Tes napas bernama Urea Breath Test untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri Helicobacter pylori (H.pylori).

Diterbitkan 14 Februari 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tes napas sederhana bernama Urea Breath Test (UBT) bisa membantu mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori (H.pylori).

Bakteri H.pylori biasa berkoloni di mukosa lambung. Bakteri ini kemudian memproduksi enzim urease yang bisa menyebabkan berbagai keluhan seperti dispepsia, gastritis, ulkus lambung.

Fakta lain, pasien yang terinfeksi H. pylori berisiko 3 persen lebih tinggi mengalami kanker lambung. Maka dari itu, bakteri ini diklasifikasikan sebagai bakteri karsinogenik kelas I oleh International Agency for Research on Cancer.

Sudah ada juga bukti yang menunjukkan bakteri H.pylori meningkatkan risiko polip terbentuk di usus besar seperti disampaikan dokter David Reinhard Sumantri Samosir, SpPD-KGEH.

“Penelitian terbaru menunjukkan bahwa infeksi bakteri H. pylori dapat meningkatkan risiko terbentuknya polip di usus besar, termasuk jenis polip tertentu yang bisa menjadi awal kanker lambung," kata dokter dari Siloam Hospitals TB Simatupang ini dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu, 14 Februari 2026.

Maka dari itu, pasien yang sudah sering mengalami gangguan lambung atau pencernaan lain, disarankan untuk mendeteksi ada atau tidaknya bakteri H.pylori. Ada dua cara untuk mengetahui ada tidaknya bakteri tersebut di tubuh Anda yakni dengan endoskopi dan Urea Breath Test (UBT).

"Urea Breath Test (UBT) menjadi pilihan utama dari berbagai pemeriksaan non-invasif untuk mendeteksi infeksi H.pylori dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi," kata David.

Hal sanada pun disampaikan dokter Mudatsir, M. Ked(Surg), SpB, Subsp. BD(K), FINACS terkait pemeriksaan Urea Breath Test (UBT) untuk membantu mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori.

 

Cara pemeriksaan UBT

Pemeriksaan UBT relatif mudah dilakukan dan nyaman bagi pasien. Bagi pasien yang hendak melakukan UBT maka perlu puasa alias tidak makan apapun selama empat jam sebelum prosedur. Namun, diperbolehkan minum air putih.

Lalu, dianjurkan untuk menghentikan penggunaan obat-obatan Proton Pump Inhibitor (PPI) (Co. Omeprazole, Lanzoprazole, Pantoprazole) minimal 14 hari sebelum prosedur, menghentikan penggunaan antibiotik anti-H.pylori (Co. Amoxicilin, Klaritromisin, dan Tetrasiklin) minimal 30 hari sebelum prosedur.

Pasien juga menghentikan terapi bismuth minimal 30 hari sebelum prosedur. Pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terkait hal ini.

Langkah UBT:

  1. Prosedur UBT diawali dengan pasien meniup kantung sampel baseline dalam 1 kali hembusan, kemudian pasien akan diberikan tablet urea yang diminum dengan segelas air.
  2. Pasien kemudian berbaring ke sebelah kiri selama 5 menit, yang diikuti dengan posisi duduk tegak selama 15 menit.
  3. Pasien kemudian akan diberikan kantung sampel ke-2 yang ditiup dalam 1 kali hembusan. Kedua kantung sampel UBT kemudian akan diperiksa di laboratorium.

Di Siloam Hospitals TB Simatupang hasil pemeriksaan UBT bisa keluar dalam 4 jam.

 

Endoskopi, Bagaimana Caranya?

David mengatakan endoskopi juga bisa dilakukan untuk mengetahui ada atau tidak bakteri H.pylori. Endoskopi adalah prosedur medis untuk memeriksa dan mengevaluasi kondisi saluran pencernaan pasien. 

Adapun langkah-langkah persiapan endoskopi tersebut, di antaranya sebagai berikut:

1. Berdiskusi dengan dokter mengenai kondisi medis yang dialami

2. Menginformasikan riwayat alergi dan obat-obatan yang dikonsumsi

3. Memahami risiko dan efek samping prosedur

4. Berpuasa pada malam hari sekitar 8 jam sebelum prosedur

5. Mengenakan pakaian yang nyaman

6. Memiliki pengantar untuk pulang ke rumah setelah prosedur 

7. Mempersiapkan waktu pemulihan

 

Sejuta Kasus Kanker Lambung per Tahun

Setiap tahun ada sekitar satu juga orang di dunia terdiagnosis kanker lambung. Angka kematian kanker ini termasuk tinggi yakni sekitar 700 ribu kematian.

Salah satu faktor yang menyebabkan angka kematian kanker lambung tinggi karena penyakit ini tidak memiliki gejala spesifik di awal perjalanan penyakit. Alhasil, diagnosis kanker lambung sering terlambat. Angka kesintasan di Amerika Serikat dalam 5 tahun sebesar 15%.