Sukses

Studi Temukan 2 Gejala Long COVID yang Bisa Bertahan 9 Bulan

Liputan6.com, Jakarta - Para ahli mengingatkan bahwa infeksi Virus Corona penyebab COVID-19 yang ringan sekali pun bisa menyebabkan long COVID. Apa itu long COVID-19?

Long COVID adalah kondisi yang terjadi pada orang yang pernah terinfeksi COVID-19 dan terus mengalami gejala yang menetap lama setelah sembuh.

Oleh sebab itu, diingatkan bagi siapa saja yang tiba-tiba mengalami gejala ringan setelah pulih dari COVID-19 untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan.

Sampai sekarang, beberapa gejala jangka panjang telah mengemuka. Namun, penelitian masih berlangsung dan para ilmuwan terus berupaya mengindetifikasi gejala baru dan tidak biasa yang terkait dengan long COVID-19.

Dengan begitu diharapkan dapat mengembangkan perawatan yang ditargetkan.

Dikutip dari situs Times of India pada Minggu, 15 Mei 2022, sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam Journal of Infection menemukan adanya 'gejala sisa' COVID-19 yang dapat berlangsung selama beberapa bulan setelah terinfeksi.

Penelitian ini melibatkan 465 pasien COVID-19 yang bergejala (54 persen pria dan 51 persen dirawat di rumah) berumur lebih dari 18 tahun.

Mereka dinyatakan positif COVID-19 di Verona University Hospital, Italia, selama periode 29 Februari hingga 2 Mei 2020.

Para peneliti menemukan bahwa 37 persen dari peserta menunjukkan setidaknya empat gejala dan 42 persen melaporkan gejala yang berlangsung selama lebih dari 28 hari.

Selain itu, 20 persen pasien masih tanpa gejala pada bulan kesembilan dengan gejala COVID yang klasik.

 

2 dari 4 halaman

Kelelahan Bagian dari Long COVID

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan kelelahan yang bertahan lama.

Menurut ulasan yang diterbitkan di Open Forum Infectious Disease, 46 persen pasien melaporkan kelelahan berminggu-minggu dan berbulan-bulan setelah pulih.

Ulasan yang sama juga menyoroti bahwa di sebagian besar studi kohord COVID-19, kelelahan persisten dilaporkan oleh 13 persen hingga 33 persen orang pada 16 s/d 20 minggu setelah timbulnya gejala.

Studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam Journal of Infection menemukan bahwa selain kelelahan, sesak napas juga merupakan gejala umum yang berlangsung lama pada sekitar 20 persen peserta, lazim sembilan bulan setelah pemulihan.

Studi di masa lalu juga menghubungkan sesak napas jangka panjang dengan kerusakan jantung.

 

3 dari 4 halaman

Tekanan Psikologis Bagian dari Long COVID-19

Selain itu, peneliti juga mencatat bahwa 18 persen pasien tidak kembali ke kesehatan fisik pra-Covid yang optimal, dan 19 persen melaporkan adanya tekanan psikologis pada bulan kesembilan setelah pulih.

Para peneliti menemukan bahwa pasien rawat inap dan gejala yang menetap pada hari ke-28 dan bulan kesembilan merupakan prediktor independen dari kesehatan fisik yang kurang optimal.

Sedangkan jenis kelamin perempuan dan persistensi gejala pada hari ke-28 dan bulan kesembilan merupakan prediktor untuk tekanan psikologis.

 

4 dari 4 halaman

Faktor Risiko Long COVID

Terlepas dari gejala dan durasi long COVID, penelitian ini juga menemukan faktor risiko tertentu yang dapat memberi tahu siapa yang lebih mungkin mengembangkan kondisi long COVID-19.

Menurut para peneliti, pasien di atas 50 tahun yang membutuhkan rawat inap dan menunjukkan empat atau lebih gejala cenderung memiliki gejala yang menetap beberapa bulan setelah pemulihan.

Para peneliti, mengatakan,"Pasien dengan usia lanjut, tinggal di ICU dan beberapa gejala saat onset lebih mungkin menderita gejala jangka panjang, yang berdampak negatif pada kesejahteraan fisik dan mental.".

"Studi ini berkontribusi untuk mengidentifikasi populasi target dan konsekuensi long COVID untuk perencanaan intervensi pemulihan jangka panjang," mereka menambahkan