Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Krisis Seks yang Melanda Pria Zaman Now

Liputan6.com, Jakarta Saat ini rupanya tengah terjadi krisis kesuburan pria. Akibatnya, pasangan semakin sulit untuk mendapatkan keturunan. Bahkan para ahli memperkirakan, jumlah sperma pria mengalami penurunan sampai 52 persen dalam empat dekade terakhir.

Namun, seperti dikutip dari iNews, Selasa (27/3/2018), para ilmuwan belum mengetahui secara pasti hubungan antara penurunan jumlah sperma dengan tingkat kesuburan pria.

Meskipun demikian, para akademisi menunjukkan kedua hal itu secara logika berhubungan.

Berbeda dengan kesuburan wanita, pemahaman tentang kesuburan pria sangat jarang diketahui, seperti kapan bisa menurun dan bagaimana itu bisa terjadi.

Singkatnya, menurut Profesor Richard Sharpe, dari Universitas Edinburgh, pemahaman tentang masalah kesuburan pria tidak berkembang dari tahun 1990-an.

"Kami masih tidak tahu apa yang menyebabkan sebagian besar kasus kemandulan pria, yang berarti kami tidak memiliki alat untuk memperbaikinya," katanya.

"Dan seperti sisi lain dari koin, adalah bahwa kita tidak dapat menyebabkan kemandulan untuk tujuan kontrasepsi. Kita belum mengembangkan kontrasepsi pria yang efektif selain kondom," tambah Profesor Sharp.

Akhirnya, di antara pertanyaan besar yang belum terjawab, para ilmuwan masih tahu sedikit tentang produksi sperma, pendorong utama kesuburan pria.

“Kami tahu itu benar-benar tergantung pada kadar testosteron yang tinggi. Tapi kita harus tahu cara kerjanya dan kita masih belum tahu itu,” tutup Prof Sharp.

Saksikan juga video berikut: 

2 dari 2 halaman

Makin banyak pasangan sulit punya anak

Diperkirakan bahwa sekitar 1 dari 6 pasangan, atau sekitar 3,5 juta orang di Inggris terserang kemandulan.

Lebih dari separuh kasus, masalahnya terletak pada pria, misalnya jika ia memiliki jumlah sperma yang rendah atau spermanya adalah perenang yang buruk.

"Meskipun masalah kesuburan laki-laki sering terjadi, sangat tidak ada yang bisa kami resepkan, atau menambah sperma untuk menyembuhkannya," kata Dr Sarah Martins Da Silva, dari University of Dundee.

“Jadi pasangan bergantung pada perawatan kesuburan seperti IVF yang mahal dan invasif dan tidak menjamin kesuksesan,” tambahnya.

"Saya pikir kesuburan laki-laki berada dalam sedikit krisis, kualitas bukti yang kami punya di daerah ini jauh tertinggal dari cabang-cabang kedokteran lainnya dan itu adalah sesuatu yang perlu kita ubah,” tambah Profesor Allan Pacey, dari Universitas Sheffield.

Krisis kesuburan pria ini juga mengakibatkan sulitnya untuk hamil atau memiliki anak secara alami. 

Penulis: eha. Sumber: Sooperboy.com

Loading
Artikel Selanjutnya
Benarkah Ari Lasso dan Ashraff Sinclair Berciuman?
Artikel Selanjutnya
Melly Bradley jadi Transgender, Ini Alasannya