BI Genjot Ekonomi Syariah, Green Sukuk Indonesia Tembus Rp 137,8 Triliun

Ekonomi Syariah Indonesia berada di posisi empat secara global.

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui perluasan pembiayaan berkelanjutan, penguatan ekosistem halal, dan transformasi digital untuk meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Upaya tersebut dilakukan di tengah peluang pasar keuangan syariah yang masih terbuka, baik di dalam maupun luar negeri.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam State of the Global Islamic Economy Report 2025–2026. Namun, Indonesia masih perlu memperkuat pengembangan ekonomi syariah untuk memanfaatkan posisinya sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

“Ekonomi syariah, alhamdulillah, kalau kita lihat, kita sekarang sudah nomor 4 secara global. Tapi apakah ini kita puas? Insyaallah tidak, karena kita sebagai negara pertama kita negara muslim terbesar,” ujar Destry dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Rabu (14/10/2026).

Destry menilai ekonomi dan keuangan syariah memiliki peluang pertumbuhan karena prinsipnya mencakup inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan. Prinsip tersebut membuka peluang pengembangan bisnis syariah tidak hanya di negara dengan mayoritas penduduk muslim, tetapi juga di pasar global yang lebih luas.

“Model ekonomi berbasis syariah akan sangat memperhatikan masalah inklusif. Jadi, tidak ada pihak mana pun yang terlewatkan atau no one left behind,” katanya.

Dari sisi pembiayaan berkelanjutan, pemerintah telah menerbitkan Green Sukuk Indonesia sejak 2018 dengan nilai kumulatif mencapai US$ 7,7 miliar atau Rp 137,8 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.900). Di pasar domestik, nilai green sukuk mencapai Rp 108,9 triliun, meskipun porsinya masih relatif kecil dibandingkan total obligasi pemerintah.

 

Berpotensi Menarik Investor Global

Destry mengatakan produk keuangan syariah berpotensi menarik investor internasional karena memiliki aset dasar (underlying asset) dan karakteristik yang mendukung pembiayaan berkelanjutan. Investor dari Amerika Serikat dan Eropa juga membeli sukuk Indonesia, sehingga pasar tersebut tidak terbatas pada negara-negara muslim.

“Produk keuangan syariah itu relatif stabil karena dia punya underlying-nya. Ini yang menjadi peluang juga untuk kita di keuangan syariah,” ujarnya.

BI juga mendorong pengembangan variasi produk keuangan syariah untuk memenuhi permintaan pasar yang dinilai masih besar. Penguatan produk tersebut diharapkan dapat memperluas sumber pembiayaan bagi kegiatan ekonomi sekaligus meningkatkan penetrasi keuangan syariah di dalam negeri.

Selain pembiayaan, BI menyoroti pentingnya penguatan rantai nilai halal (halal value chain). Destry menyebut sektor tersebut tumbuh 5,5% pada triwulan II, tetapi ia menilai pengukuran kontribusi ekonomi syariah terhadap produk domestik bruto (PDB) masih perlu diperkuat melalui penyusunan data resmi bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

 

 

Perluas Akses UMKM

BI juga memperluas akses pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke pasar melalui rangkaian kegiatan Road to Syariah di Palembang, Mataram, dan Pulau Jawa. Program tersebut menyeleksi UMKM potensial untuk mempertemukan mereka dengan pembeli dan investor melalui kegiatan business matching di ISEF.

Pada penyelenggaraan tahun ini, BI memperkuat kolaborasi ISEF dengan Trade Expo Indonesia 2026 untuk mempertemukan pelaku usaha, pembeli, dan investor. BI juga memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau generasi muda melalui kompetisi ISEF World di platform Roblox.

ISEF ke-13 turut menghadirkan peluncuran Islamic Financial Market Code of Conduct sebagai pedoman transaksi pasar keuangan syariah, pembaruan Indeks Implementasi Zakat Core Principles untuk memperkuat tata kelola zakat, serta program beasiswa internasional melalui kerja sama BI dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Destry menegaskan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, regulator, pelaku usaha, asosiasi, dan komunitas. BI mengusung tema akselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah berkelanjutan melalui sinergi dan transformasi digital dalam ISEF yang berlangsung selama empat hari.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6