Antrean BBM di Bali Mengular, ESDM Ungkap Penyebabnya

Kementerian ESDM mengungkap penyebab antrean BBM di Bali, mulai dari keterlambatan kapal hingga kendala distribusi akibat cuaca.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 13:25 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Bali terjadi akibat kendala distribusi bahan bakar minyak (BBM). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan ketahanan stok BBM masih berada pada level aman, sementara penyaluran dipercepat untuk mengatasi gangguan pasokan di lapangan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, antrean BBM di Bali dipicu keterlambatan kedatangan kapal pengangkut BBM. Setelah kapal tiba, distribusi langsung dikebut melalui operasi selama 24 jam.

“Iya, itu masalah proses distribusi saja. Jadi kemarin memang ada keterlambatan kapal. Kapalnya sudah tiba, sejak di sana kemarin sudah dilakukan operasi pasar 24 jam. Semoga, mungkin hari ini atau besok sudah selesai permasalahannya,” ujar Laode saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (14/10/2026).

Laode menjelaskan, ketahanan stok BBM saat ini masih berkisar 18–20 hari. Menurut dia, gangguan yang terjadi bukan semata-mata disebabkan oleh ketersediaan BBM, melainkan kendala dalam proses pengiriman hingga sampai ke konsumen.

“Ketahanan masih aman, 18-20. Jadi masalah yang ada ini lebih disebabkan oleh pola distribusi karena musim,” katanya.

 

Cuaca dan Kendala Transportasi Hambat Distribusi BBM

Laode memaparkan, faktor cuaca dan kondisi transportasi menjadi tantangan dalam distribusi BBM, terutama di wilayah yang mengandalkan jalur perairan.

Di sejumlah daerah, pengiriman BBM yang biasanya menggunakan angkutan sungai dapat terganggu ketika debit air menurun akibat musim kering. Dalam kondisi tersebut, distribusi harus dialihkan menggunakan truk yang membutuhkan waktu lebih lama dan memiliki kapasitas angkut terbatas.

Selain itu, gelombang tinggi juga dapat menghambat kapal pengangkut BBM untuk bersandar di pelabuhan. Akibatnya, proses bongkar muat dan penyaluran BBM ke wilayah tujuan ikut tertunda.

“Tapi begitu sudah nyender, kayak di Bali kemarin, langsung dilaksanakan distribusi 24 jam. Jadi dikejar,” ujar Laode.

Ia menambahkan, persoalan distribusi serupa tidak hanya terjadi di Bali. Laode menyebut kondisi di Makassar juga menghadapi tantangan yang relatif serupa.

“Sama-sama, ini yang saya jelaskan ini kan penyebab untuk semua, bukan hanya masalah Bali kemarin juga kan di Makassar, saya ke sana juga sama relatiflah permasalahan-permasalahan gitu,” katanya.

Percepatan distribusi diharapkan dapat mengurai antrean kendaraan di SPBU Bali. Meski demikian, pemerintah masih perlu memastikan penyaluran kembali berjalan normal agar masyarakat dapat memperoleh BBM tanpa harus menghadapi antrean panjang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6