Sukses

Ini Sejarah Adanya Bus Salawat untuk Jemaah Haji Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Bus salat lima waktu atau salawat merupakan kendaraan pengangkut jemaah haji Indonesia yang terdapat di Makkah, Arab Saudi. Rute bus salawat adalah hotel-Masjidil Haram pulang pergi (taradudi).

Bus salawat melayani 12 rute yang menjangkau setiap hotel jemaah, dan pada 2018 ini sebanyak 394 bus siap melayani jemaah haji Indonesia selama 24 jam.

Tercatat 12 rute di seluruh Makkah menjadi jalur utamanya, masing-masing bus akan datang menjemput di halte yang telah disediakan tiap lima menit.

Namun bagaimanakah kisah perjalanan bus yang identik dengan warna merah dan hijau ini melayani jemaah haji? Berikut kisahnya seperti dikutip dari laman www.haji.kemenag.go.id, Jumat (21/9/2018).

Bus salawat memulai perjalanannya pertama kali pada 2008 lalu. Pada tahun tersebut, hotel jemaah haji Indonesia jaraknya lebih dari 10 kilometer dari Masjidil Haram, berada di wilayah Aziziyah, Hijrah, Mukhathat Bank, Bakhutmah, Kholidiyah, Syauqiyah, Rushaifah, Awali serta Ka'kiyah. Dan itu sudah paling bagus untuk ditempati jemaah haji Indonesia.

Di tahun yang sama, Menteri Agama saat itu, Maftuh Basyuni melakukan kunjungan kerja ke Arab Saudi untuk melihat persiapan musim haji. Maftuh tidak kuasa menahan tangis karena tidak menyangka pemondokan jemaah haji sampai sejauh ini.

Pemilihan pemondokan ini akibat dari perluasan besar-besaran Masjidil Haram oleh pemerintah Arab Saudi, yang mengakibatkan harga-harga pemondokan di seputaran Masjidil Haram melambung tinggi.

Melihat kondisi seperti itu, akhirnya Maftuh memerintahkan menyediakan bus untuk mengantarkan jemaah ke Masjidil Haram pulang dan pergi. Singkat cerita, akhirnya pemerintah menyewa 600 bus dengan konsekuensi yang terbilang apa adanya, tidak punya sistem, dan tidak punya petugas.

"Sampai akhirnya Pak Maftuh memerintahkan untuk menyediakan bus, enggak punya sistem, enggak punya petugas dan enggak punya gambaran apapun lah, pokoknya asal nyewa aja, perintah itu sebelum jemaah datang, begitu jemaah datang sewa bus lah, 600 bus," ujar Kepala Bidang Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Subhan Cholid saat bercerita mengenang perjalanan bus salawat.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 4 halaman

Tempat Pemberhentian Bus

Subhan menceritakan, karena bus salawat belum memiliki sistem, maka ini berdampak pada jemaah juga, yang mengakibatkan tidak ada juga sistem yang mengharuskan jemaah naik dan turun di suatu tempat pemberhentian yang telah ditetapkan.

Terkadang belum sampai tujuan, jemaah sudah diturunkan di tanah kosong. Yang lebih parahnya lagi, saat mereka mau pulang ke pemondokan setelah beribadah di Masjidil Haram, tempat mereka diturunkan tadi sudah ditutup polisi.

"Karena enggak ada sistemnya, pengendaliannya seperti apa, naikkan jemaah dimana, nurunkan jemaah dimana, di jalan-jalan pada naik, di Haram pun diturunkannya bukan diterminal tapi di tanah kosong aja disitu, begitu jemaah mau pulang itu lapangannya udah ditutup sama polisi," kenang Subhan.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, akhirnya pada 2009 pemerintah Indonesia mulai menjajaki kerjasama dengan Muasassah (Organisasi yang bertugas dan bertanggung jawab melayani akomodasi, transportasi bimbingan ibadah haji dan pelayanan umum dalam musim haji dan umrah) untuk layanan angkutan jemaah haji.

Dari kerjasama dengan Muasassah ini, jemaah Indonesia mendapatkan penyewaan bus dari Syarikah Abu Sarhad. Abu Sarhad merupakan salah satu Syarikah (perusahaan bus) yang mempunyai banyak armada bus dan saat itu Indonesia mendapatkan jumlah yang banyak. Karena saat itu memang tidak tersedianya anggaran untuk menyewa bus setara Saptco, Rawahil, Dalah, dan sebagainya.

"Abu Sarhad ini busnya tua-tua dan enggak berkualitas tapi armadanya banyak, kita dapatnya juga banyak. Walaupun sebenarnya waktu itu sudah ada Saptco, Rawahil, dan lain-lain, tapi anggarannya belum ada untuk menyewa bus tersebut," tutur Subhan.

 

3 dari 4 halaman

Libatkan Kementerian Perhubungan

Untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu, Kementerian Agama pada 2010 mulai melibatkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI. Sebagai instansi yang bertanggung jawab pada sektor transportasi publik, Kemenhub dapat membagi ilmunya.

Ilmunya adalah untuk membuat suatu sistem pengendalian transportasi dalam dan luar kota yang akan diterapkan di Arab Saudi. Dari kerjasama itu dirintislah suatu sistem untuk membuat rute sederhana sampai 2012.

"Dari Kerjasama dengan Kemenhub, maka didapatlah ilmu tentang sistem pengendalian angkutan dalam dan luar kota, mulai dari situ dirintis untuk membuat rute yang masih sederhana sampai 2012," kata Subhan yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Transportasi Darat Kemenag ini.

Setelah mempunyai suatu sistem pengendalian, pada 2013 mulai dibentuk tim transportasi secara mandiri yang diketuai oleh Arsyad Hidayat (Kadaker Bandara saat ini) dan selanjutnya pada tahun 2014 diketuai oleh Subhan Cholid.

Menurutnya, saat ini secara sistem mulai dari pengendalian dan pengawasannya sudah sangat mapan. Saat ini, kata Subhan, yang menjadi tantangan baginya adalah memenuhi kenyamanan jemaah, dalam arti yang diinginkan jemaah itu agak sulit karena dalam satu waktu seluruh jemaah ingin ke satu tujuan secara bersama-sama.

"Kalau kita bikin rasio diperkecil dari 450 jemaah ke 250 jemaah itu malah enggak bisa jalan, karena semakin banyak bus di jalan kan semakin macet. Yang kedua juga enggak bisa nampung," kata Subhan.

 

4 dari 4 halaman

Pembagian Terminal Bus

Selain itu, lanjut Subhan, untuk pembagian terminal juga ada aturannya, yaitu jemaah yang tinggal di wilayah tertentu disesuaikan dengan terminalnya, dan semuanya sudah diatur dalam pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah Arab Saudi. Begitu juga dengan rasio pembagian busnya.

Sedangkan untuk menentukan syarikah busnya yang dilakukan sebelum pelaksanaan musim haji, pemerintah Indonesia yang dalam hal ini Kemenag menerjunkan tim transportasi ke Arab Saudi untuk membuka tender penyediaan transportasi jemaah haji antara lain angkutan dalam dan luar kota, angkutan salawat serta angkutan masyair (Arafah-Muzdalifah-Mina).

"Jadi ada aturannya itu ada pedomannnya, kita sewa juga enggak sembarangan sudah diatur juga rasio pembagian busnya, untuk menentukan syarikah busnya kita membuka tender, silahkan mendaftar nanti kita pilih, kita bikin persyaratannya," jelas Subhan.

Berikut rute yang dilayani bus salawat:

1. Aziziah Janubiah-Jamarat

2. Aziziah Syimaliah 1-Jamarat

3. Aziziah Syimaliah 2-Jamarat

4. Jamarat-Mahbas Jin-Bab Ali

5. Syisyah-Syib Amir

6. Syisyah-Raudhah-Syib Amir

7. Syisyah 1-Syib Amir

8. Syisyah 2-Syib Amir

9. Raudhah-Syib Amir

10. Biban/Jarwal-Syib Amir

11. Misfalah-Jiad

12. Rea Bakhsy-Jiad

Jemaah yang mendapatkan layanan bus salawat adalah jemaah haji yang menempati pemondokan pada wilayah dengan jarak diatas 1.500 m dari Masjidil Haram.

Kemudian ada juga wilayah dengan jarak dibawah 1.500 m yang mendapatkan layanan angkutan salawat antara lain Jarwal (1 Hotel), Misfalah (3 Hotel), serta Rea Bakhsy (11 Hotel).

Artikel Selanjutnya
Kisah Masjid dan Doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas
Artikel Selanjutnya
Menyusuri Rekam Jejak Sejarah Nabi dan Islam di Kota Thaif Saudi