Terungkap Rahasia Mbah Marsiyah Tetap Sehat Selama Haji

Mbah Marsiyah diketahui sebagai jemaah haji tertua dari Indonesia dengan usia 104 tahun.

Diterbitkan 22 Juni 2026, 17:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makkah - Di tengah perjalanan panjang ibadah haji yang menguras tenaga, sosok Mbah Marsiyah justru menyimpan cerita berbeda. Di usia yang telah lanjut, jemaah Indonesia tertua dari Kelompok Terbang (Kloter) SUB 112 itu tetap menjalani hari-harinya di Tanah Suci dengan tubuh yang kuat dan langkah yang terjaga.

Selama hampir sebulan berada di Makkah, tidak ada keluhan kesehatan berarti yang menghampiri perempuan berusia 104 tahun tersebut. Ia tetap menjalani aktivitas harian dengan tenang, sementara beberapa orang di sekitarnya sempat mengalami batuk maupun pilek.

Ketua Kloter SUB 112, Aniswatun Nadhiroh, mengaku beberapa kali mendatangi kamar Mbah Marsiyah untuk memastikan kondisinya. Setiap kali dikunjungi, kondisi sang jemaah lansia selalu dalam keadaan baik.

Alhamdulillah, Mbah Marsiyah kondisinya sangat bagus sekali. Selama satu bulan di sini tidak sakit sama sekali. Bahkan anaknya, pendampingnya, dan teman sekamarnya sempat batuk-pilek, tapi beliau tetap sehat,” katanya pada tim Media Center Haji di Makkah, Minggu (21/6/2026).

Bagi Aniswatun, salah satu kunci kebugaran Mbah Marsiyah terletak pada kebiasaan sederhananya: tidak pernah memilih makanan.

Apa pun hidangan yang diberikan pada jemaah selalu diterima dengan lapang. Ia tidak mencari menu khusus atau meminta makanan tertentu, melainkan menikmati setiap sajian sebagai bagian dari perjalanan ibadahnya.

Sikap itu juga terlihat dari keseharian Mbah Marsiyah. Saat berbincang menjelang keberangkatan menuju Madinah, ia mengaku tetap menikmati makanan yang tersedia selama di Tanah Suci. Nasi menjadi salah satu makanan yang paling ia sukai, sementara makanan pedas justru ia hindari.

“Kalau makan tidak pedas,” kata Mbah Marsiyah singkat.

Pendampingnya, Maidah, menyebut nafsu makan yang baik menjadi salah satu hal yang membuat kondisi Mbah Marsiyah tetap terjaga. Ia bahkan rutin membelikan buah untuk menemani keseharian sang jemaah, seperti pisang, jeruk, dan apel.

“Makannya lahap sekali,” ujar Maidah.

Meski usianya tidak lagi muda, Mbah Marsiyah tetap berusaha menjalankan ibadah haji sesuai kemampuan. Beberapa rangkaian ibadah utama berhasil ia lakukan sendiri, seperti umrah wajib, wukuf, tawaf ifadah, hingga tawaf wada.

Namun, untuk ibadah yang membutuhkan kekuatan fisik lebih besar, keputusan diambil dengan mempertimbangkan kondisi tubuh. Pelaksanaan jumrah, misalnya, dibadalkan oleh anaknya.

“Tapi umrah wajib, wukuf, tawaf ifadah, dan tawaf wada semuanya saya sendiri, Alhamdulillah,” ujar Maidah menjelaskan.

Mbah Marsiyah juga tidak mengikuti kepadatan aktivitas di Mina. Ia termasuk jemaah lansia yang mendapat pengaturan khusus melalui tanazul sebagai bentuk perlindungan terhadap kondisi fisiknya.

Menurut Aniswatun, jumlah jemaah lansia di Kloter SUB 112 mencapai ratusan orang. Karena itu, keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap pergerakan jemaah.

Kini, saat bersiap melanjutkan perjalanan ke Madinah, Mbah Marsiyah tidak hanya membawa bekal sederhana berupa buah dan makanan ringan, namub juga keteguhan hati seorang jemaah yang menikmati setiap langkah perjalanan hajinya dengan rasa syukur.