Israel Lancarkan Operasi Militer di Tepi Barat, Puluhan Warga Palestina Ditangkap

Penyerbuan berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Nablus, Jenin, Tubas, dan Qalqilya.

Diterbitkan 24 Oktober 2026, 15:02 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Pasukan Israel menggelar operasi militer di sejumlah wilayah Tepi Barat sejak Jumat (23/10/2026) dan menangkap puluhan warga Palestina. Operasi tersebut berlangsung setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan persiapan penutupan total Tepi Barat menyusul serangan di Hebron yang menewaskan dua tentara Israel.

Pada Sabtu (24/10), koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa pasukan Israel telah melakukan penggerebekan di sedikitnya 15 kota dan permukiman di wilayah utara Tepi Barat, termasuk Nablus, Jenin, Tubas, dan Qalqilya.

Di Nablus, pasukan Israel menangkap sejumlah warga dan menggeledah rumah-rumah penduduk di Desa Jalud dan Qaryut. Penangkapan juga dilaporkan terjadi di Arrabeh dan Burqin, dekat Jenin. Sementara itu, pasukan Israel memasuki Tubas dan Kota Aqqaba di sekitarnya.

Di wilayah selatan Tepi Barat, buldoser Israel menghancurkan sebuah bangunan tiga lantai di Hebron. Keluarga yang menempati bangunan tersebut hanya diberi waktu lima menit untuk mengambil barang-barang mereka.

Pasukan Israel juga memerintahkan ratusan keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka secara paksa di kawasan Ein Deir Bahha, Hebron, dan sekitarnya.

Selain itu, tentara Israel mengepung rumah salah satu tersangka pelaku penembakan yang menewaskan dua tentara Israel di Hebron. Penggerebekan dilakukan pula di kawasan al-Jalda, yang masih berada di kota tersebut.

Pada Jumat malam, militer Israel menyatakan bahwa operasi di Hebron akan berlangsung selama "beberapa hari". Operasi serupa juga dilakukan pasukan Israel di "puluhan" wilayah lain di Tepi Barat.

Di bagian timur Tepi Barat, pasukan Israel turut memasuki Jericho dan kamp pengungsi Aqabat Jabr di dekatnya.

 

Kota dan Desa Berubah Menjadi "Penjara Kecil"

Jika penutupan total Tepi Barat diberlakukan, hampir 1.000 pos pemeriksaan dan gerbang akses di wilayah tersebut akan ditutup. Kebijakan ini akan berdampak pada jutaan warga Palestina.

Perintah Netanyahu dikeluarkan pada Jumat, tak lama setelah militer Israel mengumumkan telah menewaskan dua pria bersenjata Palestina. Keduanya disebut menyerang batalion tentara cadangan Israel di dekat permukiman Telem hingga menewaskan dua tentara.

Sebelumnya, layanan ambulans Israel melaporkan sedikitnya lima tentara menjadi korban dalam serangan tersebut. Dua di antaranya meninggal dunia, sedangkan tiga lainnya terluka.

Seluruh permukiman Israel di wilayah pendudukan, termasuk Telem, dinyatakan ilegal berdasarkan hukum internasional.

Serangan dan pengetatan pembatasan di Tepi Barat terjadi di tengah meningkatnya ketegangan akibat aksi kekerasan yang dilakukan pemukim dan tentara Israel terhadap warga Palestina.

Serangan terhadap warga Palestina yang tengah memanen zaitun juga marak terjadi. Kekerasan terus meningkat menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (27/10).

Menanggapi tewasnya dua tentara Israel, Menteri Keamanan Nasional Israel dari kelompok sayap kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, menyerukan agar Israel mengambil alih kendali penuh atas Tepi Barat. Seruan itu muncul ketika pemerintah Israel tengah mendorong pembangunan sejumlah besar permukiman di wilayah tersebut.

Sekretaris Jenderal Partai Inisiatif Nasional Palestina, Mustafa Barghouti, menilai pernyataan provokatif para menteri Israel dari kelompok sayap kanan ekstrem semakin memperburuk keadaan.

Kepada Al Jazeera, Barghouti mengatakan penutupan Tepi Barat membuat setiap kota dan desa berubah menjadi "penjara kecil".

Menurutnya, penutupan pos pemeriksaan dan gerbang akses menghambat warga Palestina mendapatkan layanan kesehatan, menjalankan kegiatan ekonomi, hingga mengakses pendidikan.

Ia memperingatkan bahwa hukuman kolektif terhadap warga Palestina tersebut "akan memicu ledakan" situasi.