Melania Trump Bantu Wujudkan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina di Oleshky

Kesepakatan ini bertujuan membuka akses bantuan kemanusiaan dan memungkinkan evakuasi warga sipil.

Diterbitkan 24 Oktober 2026, 07:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Gedung Putih pada Jumat (23/10/2026) mengumumkan bahwa Ibu Negara Amerika Serikat (AS) Melania Trump berperan dalam tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina di Kota Oleshky, Ukraina, yang dilanda perang. 

Mengutip laporan Associated Press, gencatan senjata terbatas di wilayah tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 29 Oktober. Dalam pernyataan yang dirilis Gedung Putih, Melania memperingatkan bahwa kondisi di Oleshky sudah berada di ambang bencana.

Gedung Putih menyebut Melania sebagai pihak yang memprakarsai perundingan tersebut. Ia bersama seorang perwakilannya kemudian berkomunikasi langsung dengan para pemimpin Rusia dan Ukraina untuk menyepakati ketentuan gencatan senjata.

Perunding utama Ukraina dalam kesepakatan itu menyampaikan terima kasih atas keterlibatan Melania. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pelaksanaan kesepakatan tersebut akan menghadapi tantangan besar.

"Berdasarkan kesepakatan kami, pertama, gencatan senjata akan diberlakukan. Kedua, bantuan kemanusiaan akan dikirimkan ke Oleshky. Ketiga, warga sipil akan diizinkan meninggalkan Oleshky secara bebas," ungkap Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, dalam pesan video yang diunggah di internet.

"Operasi ini akan dilakukan secara bertahap dan pelaksanaannya akan sangat sulit. Karena itu, saya akan terus memberikan informasi kepada masyarakat Ukraina dan menyampaikan hasilnya," lanjut Lubinets.

Sementara itu, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, Jenderal Valery Gerasimov, menyatakan bahwa pasukannya akan menghentikan serangan di wilayah Kherson mulai Selasa pukul 04.00 waktu Moskow untuk mendukung operasi kemanusiaan di sekitar Oleshky.

Gerasimov mengatakan militer Rusia juga akan melakukan pemeriksaan kondisi medan, termasuk kemungkinan adanya hambatan atau ancaman, guna memastikan konvoi bantuan kemanusiaan dapat memasuki kota tersebut dengan aman.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, turut menyampaikan terima kasih kepada Melania atas upayanya. Menurut Peskov, operasi kemanusiaan tersebut turut dibahas dalam percakapan telepon terbaru antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump.

Peskov memastikan warga Oleshky yang ingin meninggalkan kota itu akan diberi kesempatan untuk mengungsi.

Namun, ia tidak menjelaskan apakah warga yang dievakuasi akan dibawa ke wilayah yang dikuasai Rusia atau Ukraina. Peskov belum dapat memastikan pula berapa lama proses evakuasi akan berlangsung. Ia hanya memperkirakan operasi tersebut membutuhkan waktu beberapa hari.

Fokus pada Penyelamatan Anak-Anak

Perlindungan anak-anak di wilayah konflik menjadi salah satu perhatian utama Melania. Awal tahun ini, ia memimpin pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membahas persoalan tersebut.

Melania juga pernah mengirimkan surat kepada Putin untuk mendorong upaya mempertemukan kembali anak-anak yang terpisah dari keluarga mereka akibat perang.

"Dia ingin menyelamatkan anak-anak. Itulah yang menjadi fokusnya," kata Trump mengenai sang istri saat menjawab pertanyaan wartawan di Washington.

 

Hubungan AS dan Ukraina Kian Tegang

Kesepakatan gencatan senjata di Oleshky tercapai ketika hubungan pemerintahan Trump dengan Ukraina tengah memanas. Ketegangan antara Washington dan Kyiv bahkan telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ukraina menghadapi pembatasan layanan internet satelit yang selama ini diandalkan untuk membantu menangkal serangan Rusia. Di sisi lain, Trump dan sejumlah pejabat tinggi AS memberikan keterangan yang berbeda mengenai siapa yang bertanggung jawab atas pembatasan kinerja sistem Starshield buatan Elon Musk tersebut.

Belakangan, Trump juga memberikan pengecualian terhadap penerapan sanksi baru bagi Rusia, mencapai kesepakatan dengan Moskow untuk mengimpor bahan bakar diesel, serta mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy agar menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari 2022.

Di tengah upaya terbaru menghidupkan kembali perundingan damai, utusan Trump, Steve Witkoff, mengunjungi Norwegia pekan ini untuk bertemu Zelenskyy. Setelah itu, Witkoff bertemu Putin di St. Petersburg, Rusia.

Zelenskyy sendiri tidak menyinggung kesepakatan gencatan senjata di Oleshky ketika berbicara secara virtual dalam sebuah acara di Hudson Institute, lembaga kajian yang berbasis di Washington.

Namun, ia mengungkapkan bahwa pasokan rudal pencegat AS untuk sistem pertahanan udara Patriot masih tertunda. Pembatasan kecepatan layanan Starshield dan Starlink juga masih diberlakukan.

Dalam kesempatan tersebut, Zelenskyy menekankan pentingnya keterlibatan AS dalam menghidupkan kembali upaya diplomasi untuk mengakhiri perang. Ia menyinggung kemungkinan pertemuan bersama dengan Trump dan Putin.

Warga Oleshky Terancam Kelaparan dan Penyakit

Kondisi kemanusiaan di Oleshky semakin memprihatinkan. Selama berbulan-bulan, warga kesulitan mendapatkan makanan dan obat-obatan.

Kota yang terletak di tepi Sungai Dnipro itu berada di bawah pendudukan Rusia. Sungai tersebut memisahkan pasukan Ukraina dari wilayah Oleshky yang dikuasai Rusia.

Warga yang masih bertahan harus hidup tanpa listrik, pemanas ruangan, maupun air ledeng. Jalan-jalan menuju kota dipenuhi ranjau dan bangkai kendaraan yang hangus terbakar. Pesawat nirawak atau drone juga terus beterbangan di atas wilayah tersebut.

Sebelum perang, Oleshky memiliki sekitar 24.000 penduduk. Kota itu jatuh ke tangan pasukan Rusia pada hari pertama invasi besar-besaran Moskow ke Ukraina pada Februari 2022.

Pertempuran menyebabkan berbagai bangunan rusak akibat serangan artileri dan kebakaran. Infrastruktur kota juga mengalami kerusakan.

Pada Juni 2023, Oleshky dilanda banjir besar setelah Bendungan Kakhovka jebol akibat ledakan. Investigasi Associated Press menemukan bahwa ledakan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh militer Rusia. Ratusan warga tewas dalam bencana itu.

Kini, warga yang masih bertahan di kota yang berada di sepanjang garis depan pertempuran di Ukraina tenggara tersebut menghadapi ancaman kematian akibat kelaparan dan penyakit. Kondisi mereka semakin mengkhawatirkan menjelang datangnya musim dingin yang berat.

Pemerintah Ukraina telah berulang kali meminta pemberlakuan gencatan senjata terbatas agar evakuasi warga sipil dapat dilakukan.

Sementara itu, berdasarkan hukum internasional, Rusia sebagai pihak yang menduduki wilayah tersebut berkewajiban memastikan warga sipil di bawah kekuasaannya mendapatkan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.

 

Rencana Evakuasi Warga

Dalam pernyataan yang dirilis Gedung Putih, Melania menjelaskan bahwa perwakilan sipil dari Ukraina dan Rusia akan mendatangi warga Oleshky untuk mengetahui bantuan apa saja yang mereka butuhkan.

"Warga yang ingin mengungsi akan mendapatkan bantuan dan transportasi yang diatur bersama menuju tempat tujuan pilihan mereka," kata Melania.

"Saya memperkirakan sebagian warga ingin pergi ke Rusia dan sebagian lainnya ke Ukraina," lanjutnya.

Melania juga mengatakan sebuah organisasi media independen asal Amerika Serikat akan mendampingi tim Rusia dan Ukraina selama menjalankan operasi kemanusiaan di lapangan. Organisasi media tersebut akan mendokumentasikan seluruh prosesnya.

"Hal ini akan berperan penting untuk memastikan keinginan setiap keluarga benar-benar dihormati," ujar Melania.

Namun, pernyataan Gedung Putih tidak menyebutkan nama organisasi media yang akan dilibatkan dalam operasi tersebut.