29 September 1982: Misteri Tylenol Dicampur Sianida, 7 Orang di Chicago Tewas

Bagaimana kronologi pembunuhan sianida lewat obat di tanggal 29 September 1982 ini?

Diterbitkan 29 September 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Salah satu misteri pembunuhan dalam sejarah adalah ketika tiga warga Chicago jatuh sakit kemudian meninggal dunia setelah mengonsumsi obat Tylenol Extra-Strength yang ternyata sudah dicampur dengan sianida pada 29 September 1982.

Dikutip dari History.com, Selasa (29/9/2026), mereka adalah tiga dari tujuh korban yang kehilangan nyawanya setelah minum obat pereda nyeri yang dijual bebas tersebut dan kemasannya sudah dirusak. Kasus ini menyebabkan kepanikan nasional tentang keamanan obat-obatan yang dijual bebas dan mendorong kebijakan standar baru untuk kemasan obat pil.

Seorang siswi kelas tujuh Mary Ann Kellerman adalah korban pertama yang meninggal setelah mengonsumsi obat tersebut semalaman untuk meredakan sakit tenggorokan. Korban selanjutnya, Adam Janus, tidak bangun dari tidurnya dan berakhir di ruang gawat darurat dalam keadaan kritis, dan kemudian meninggal dunia.

Seusai mengunjungi kakak laki-lakinya di rumah sakit, Stanley Janus pulang ke rumah Adam bersama istrinya, Theresa. Untuk meredakan sakit kepala akibat stres, mereka berdua minum kapsul dari botol Tylenol yang terbuka dan tergeletak di meja dapur. Mereka pun keracunan, Stanley meninggal pada hari itu sedangkan Theresa meninggal keesokan harinya setelah sempat koma.

Korban-korban lainnya adalah Mary Reiner yang merasakan sakit kepala setelah melahirkan, wanita berumur 31 tahun bernama Mary McFarland, dan seorang pramugari bernama Paula Prince.

Setelah kematian Prince, dua pemadam kebakaran di Windy City, Richard Keyworth dan Philip Cappitelli, menyadari bahwa ketujuh korban telah menelan Tylenol Estra-Strength sebelum akhirnya jatuh sakit. Hasil investigasi menunjukkan bahwa beberapa botol dari kapsul Tylenol telah diracuni oleh sianida.

Walaupun botol-botol Tylenol Extra-Strength ditarik dari peredaran di seluruh negeri, kapsul-kapsul yang terkontaminasi hanya ditemukan di wilayah Chicago.

Seorang yang berpotensi sebagai pelaku teridentifikasi ketika para penyidik menemukan surat-surat yang menuntut uang sebesar US$ 1 juta (Rp 17,7 miliar) supaya pembunuhan-pembunuhan itu berhenti tapi kurangnya bukti menghalangi vonis bersalah.

Pembunuhan massal ini akhirnya memicu pengembangan wadah obat baru yang tidak bisa dimanipulasi. Peristiwa ini juga menimbulkan serangkaian kejahatan tiruan, di mana pihak lain berusaha memeras perusahaan dengan modus ancaman peracunan yang sebagian besar ternyata adalah ancaman palsu.

Â