20 Ribu Orang Banjiri Kota di Spanyol untuk Perang Tomat

Para turis di festival ini terinspirasi dari film "Zindagi Na Milegi Dobara."

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Madrid - Ribuan orang memadati kota Bunol, Spanyol, pada Rabu (26/8/2026) untuk mengikuti La Tomatina, festival perang tomat tahunan yang menjadi salah satu tradisi paling unik di negara tersebut.

Dikutip dari AP News, Senin (31/8), sekitar 20 ribu peserta diperkirakan ambil bagian dalam festival yang digelar setiap Rabu terakhir pada Agustus tersebut. Berton-ton tomat yang sudah terlalu matang dilemparkan ke tengah kerumunan hingga mengubah jalan-jalan kota Bunol menjadi lautan berwarna merah.

Truk-truk bermuatan tomat bergerak perlahan melewati kerumunan. Orang-orang yang berada di atas bak truk melemparkan tomat ke arah peserta, yang kemudian saling membalas dengan melemparkan buah tersebut satu sama lain.

Para peserta yang sebagian besar mengenakan pakaian putih pun harus bersiap melihat pakaian mereka berubah warna menjadi merah muda hingga merah akibat terkena tomat. Musik pop juga diputar melalui pengeras suara sepanjang perayaan.

Sempat terjadi ketegangan ketika polisi menggunakan semprotan merica untuk membubarkan sebagian kerumunan. Namun, suasana pesta kembali meriah setelah insiden tersebut.

Perang tomat berlangsung selama lebih dari satu jam. Sebelum festival dimulai, sejumlah bangunan di sekitar lokasi telah ditutupi terpal untuk melindunginya dari tumpukan tomat.

La Tomatina berawal dari insiden pertarungan makanan yang terjadi pada 1945. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi festival tahunan, sebelum dilarang oleh pemerintahan diktator Spanyol, Jenderal Francisco Franco, pada 1950-an.

Festival itu kembali digelar setelah mendapat perhatian media televisi pada 1980-an. Sejak saat itu, La Tomatina berkembang menjadi salah satu festival yang menarik wisatawan dari berbagai negara.

Tahun ini, lebih dari 20 ribu orang diperkirakan mengikuti La Tomatina. Kantor berita Spanyol EFE melaporkan sekitar 40 persen peserta dalam tiga tahun terakhir merupakan wisatawan asing.

Jumlah wisatawan asal India yang datang ke festival tersebut juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu faktor yang disebut mendorong popularitas La Tomatina di India adalah film Bollywood Zindagi Na Milegi Dobara yang dirilis pada 2011.

Film tersebut mengisahkan perjalanan tiga sahabat yang melakukan perjalanan darat melintasi Spanyol dalam rangka merayakan pesta lajang. Salah satu adegannya menampilkan mereka mengikuti La Tomatina, sehingga festival tersebut semakin dikenal oleh penonton India.

Banyak Turis Terinspirasi

Film ini menampilkan kembali festival La Tomatina, sehingga memperkenalkan festival ini ke banyak orang India.

Film inilah yang menarik Romali Khokhar, pria 27 tahun dari Mumbai untuk mengunjungi Bunol. Ia berada di sana pada Rabu pagi, semangat untuk mengikuti pertempuran makanan untuk ketiga kalinya.

Mazhar dan Sanya Khan yang sama-sama berumur 40 tahun juga terinspirasi dari film tersebut.

“Acaranya sangat luar biasa dan dikelola dengan sangat baik,” tutur Mazhar Khan. “Kamu dari India dan ini adalah pertama kalinya kami mengikuti La Tomatina. Ini sudah menjadi impian kami selama lebih dari 10 tahun.”

Tak hanya menarik warga India, film tersebut juga menarik seorang wisatawan asal Polandia berumur 32 tahun, Joanna Wytrzyszczewska. “Lebih gila dari yang kami pikirkan,” tuturnya. “Kami datang karena kami terinspirasi film tersebut. Acara ini lebih baik dibanding yang ada di filmnya.”

Acara lempar tomat yang serupa juga pernah digelar di Florida, London, Amsterdam, dan kota Sutamarchan di Kolombia dan Hyderabad, India.

Peserta non-lokal membayar tiket seharga 15 euro (Rp 309 ribu). Satu-satunya aturan yang berlaku adalah hancurkan dulu tomat sebelum melemparnya untuk menghindari cedera. Tetap banyak partisipan yang menggunakan kacamata renang dan penyumbat telinga untuk perlindungan.

Setelah waktu pertempuran berakhir, suara meriam menjadi tanda berakhirnya pesta dan para pengunjung membersihkan diri di pancuran umum dekat lokasi. Jalan-jalan kota juga akan disemprot air sampai bersih.

Walaupun noda pakaian bisa jadi permanen, asam sitrat dari tomat berfungsi sebagai bahan pembersih. Hal ini menyebabkan jalanan di Bunol sering kali lebih bersih dari sebelumnya.