Pengakuan Trump soal Diam-diam Tinggalkan Air Force One dengan Truk Katering

Trump menyatakan bahwa ia hanya mengikuti permintaan tim keamanan.

Diterbitkan 12 Agustus 2026, 13:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membenarkan bahwa ia diam-diam berganti pesawat saat meninggalkan KTT NATO di Turki bulan lalu karena adanya kemungkinan ancaman terhadap keselamatannya.

"Saya mengikuti arahan Secret Service dan militer. Mereka meminta saya menggunakan penerbangan dan pesawat yang berbeda," kata Trump kepada wartawan seperti dilaporkan BBC. "Saya hanya melakukan apa yang mereka minta."

Pernyataan Trump itu muncul setelah sejumlah laporan mengungkap bahwa ia sempat menaiki Air Force One pada 8 Juli di depan kamera televisi. Namun, Trump kemudian diam-diam meninggalkan pesawat dengan bantuan truk katering sebelum dibawa ke pesawat militer lain.

Pergantian pesawat pada saat-saat terakhir itu memunculkan pertanyaan mengenai keselamatan orang-orang yang tetap berada di Air Force One yang digunakan sebagai pengalih perhatian. Namun, Trump pada Selasa (11/8/2026) mengatakan pesawat militer yang membawanya justru menghadapi "risiko lebih besar".

Sejumlah pejabat mengatakan kepada CBS News bahwa Washington mendeteksi ancaman kredibel dari Iran untuk menembakkan rudal ke pesawat tersebut. The New York Times melaporkan intelijen AS menerima informasi mengenai seseorang di sekitar lokasi KTT NATO yang terlihat membawa rudal portabel yang dapat ditembakkan dari bahu.

Para jurnalis dan sejumlah staf Gedung Putih yang berada di Air Force One saat itu tidak mengetahui bahwa Trump telah diam-diam dipindahkan ke pesawat lain. Langkah tersebut merupakan bagian dari skenario pengelabuan untuk mengantisipasi kemungkinan ancaman dari Iran.

Trump sebelumnya mengatakan dirinya merupakan "target nomor satu" Iran selama KTT di Ankara.

"Saya kira memang ada ancaman," kata Trump pada Selasa saat berada di Air Force One dalam perjalanan menuju sebuah acara di Ohio. "Saya tidak terlalu banyak bertanya soal itu. Saya menerima banyak ancaman."

"Ada banyak ancaman terhadap saya yang tidak kalian ketahui," tambahnya.

Operasi rahasia tersebut dilakukan sehari setelah AS kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran menyusul gagalnya perundingan Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang.

Trump tiba di Turki dengan Boeing 747-8 yang lebih baru dan diberikan oleh Qatar. Namun, ia kemudian mengumumkan akan meninggalkan Turki dengan Air Force One lama "demi mengenang masa lalu".

Pada 8 Juli, rekaman video memperlihatkan Trump menaiki pesawat kepresidenan tersebut di Bandara Ankara.

Namun, menurut The Washington Post, Trump kemudian diam-diam turun dari Air Force One melalui sebuah truk katering yang dinaikkan hingga sejajar dengan pintu pesawat di sisi berlawanan dari tempat ia sebelumnya terlihat naik.

Trump lalu dibawa secara diam-diam menuju C-32A, pesawat militer yang lebih kecil. Pesawat modifikasi Boeing 757 itu kerap digunakan oleh wakil presiden AS.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menaiki C-32A secara terpisah melalui tangga di luar pesawat. Menurut The Washington Post, langkah itu dilakukan agar penerbangan tersebut tampak seperti penerbangan biasa.

Sementara itu, para jurnalis dan sejumlah staf Gedung Putih tetap menaiki Air Force One. Mereka dilaporkan diminta menutup tirai jendela tanpa diberi tahu bahwa presiden sudah tidak berada di dalam pesawat.

Seorang produser dari rombongan media Gedung Putih yang berada di pesawat mengatakan permintaan untuk terus menutup tirai jendela terasa tidak biasa. Seorang fotografer sempat membuka tirai sebentar, tetapi langsung diminta menutupnya kembali.

Keterangan tersebut tercantum dalam laporan White House Correspondents' Association yang dirilis pada Selasa.

Laporan itu juga mencatat adanya dua truk katering di bagian depan dan belakang pesawat ketika rombongan pers tiba. Selain itu, kendaraan yang membawa awak media cetak dan fotografer lokal berada terlalu jauh di belakang dalam iring-iringan, sehingga mereka kehilangan momen untuk memantau sisi lain pesawat setelah Trump naik.

Secara teknis, "Air Force One" merupakan tanda panggil untuk setiap pesawat Angkatan Udara AS yang sedang membawa presiden.

Namun, dalam penerbangan kali ini, C-32A yang membawa Trump menggunakan tanda panggil "Reach 18". Adapun pesawat yang membawa para jurnalis tetap menggunakan tanda panggil "AF1" untuk mempertahankan pengelabuan tersebut.

Trump kemudian terbang ke Inggris dalam perjalanan kembali ke AS. Di sana, ia kembali menaiki Air Force One lama dan kemudian terlihat turun dari pesawat tersebut setelah mendarat di RAF Mildenhall.

Belum diketahui bagaimana Trump berpindah dari C-32A kembali ke pesawat kepresidenan lama tersebut.

Trump kemudian berpindah lagi ke pesawat baru yang diberikan Qatar untuk melanjutkan perjalanan ke Washington.

Dalam penerbangan itu, Trump berbicara kepada wartawan di dalam pesawat dan menyinggung ancaman dari Iran. Namun, ia tidak mengatakan bahwa sebelumnya telah berganti pesawat.

Ketika ditanya mengapa para wartawan diminta menutup tirai jendela dalam penerbangan dari Turki, Trump saat itu menjawab, "Karena kalian mungkin berada dalam penerbangan yang berbahaya akibat orang-orang berengsek yang harus kami hadapi."

Trump mengatakan ancaman terhadap nyawanya muncul "sepanjang waktu" dan menyebut dirinya berada di urutan "nomor satu" dalam "daftar" Iran.

Direktur Regional Amerika Committee to Protect Journalists (CPJ) Jose Zamora mengatakan pemerintahan Trump "bertanggung jawab memastikan jurnalis yang meliput presiden tidak ditempatkan dalam bahaya yang sebenarnya dapat dihindari".

"Jurnalis harus diberi tahu mengenai ancaman keamanan yang kredibel agar mereka dapat mengambil keputusan dengan mempertimbangkan keselamatan mereka sendiri," kata Zamora.