Canggih, China Pakai AI untuk Pantau Migrasi Ikan di Bendungan Tibet

Bagaimana cara kerja dari alat pemantau ikan yang dikembangkan oleh China?

Diterbitkan 10 Agustus 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - China menggunakan sistem identifikasi ikan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memantau spesies ikan yang melintasi jalur migrasi di salah satu bendungan terbesar di Tibet. Teknologi tersebut memungkinkan pemantauan dilakukan secara terus-menerus sekaligus mengidentifikasi sejumlah spesies ikan yang hanya ditemukan di Daerah Otonomi Tibet.

Sebelumnya, pemantauan ikan di jalur migrasi tersebut dilakukan secara manual. Kini, proses penghitungan dan identifikasi dilakukan menggunakan sistem yang disebut sebagai teknologi "pengenalan wajah ikan" berbasis AI, demikian dilaporkan Global Times.

Mengutip South China Morning Post, Senin (10/8/2026), teknologi itu digunakan di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Zangmu, yang berada di hulu Sungai Yarlung Tsangpo. PLTA setinggi 116 meter tersebut mulai beroperasi pada 2015.

Sejak beroperasi, jalur migrasi atau tangga ikan yang dibangun di kawasan PLTA Zangmu telah membantu sekitar 570.000 ikan langka bergerak menuju hulu sungai.

Direktur bidang keselamatan dan perlindungan lingkungan di bendungan tersebut, Yang Xiaocheng, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan populasi ikan di hulu Sungai Yarlung Tsangpo tetap stabil.

"Dari hasil pemantauan, populasi ikan di hulu Sungai Yarlung Tsangpo sangat stabil dan tidak mengalami penurunan akibat pembangunan PLTA," kata Yang kepada Global Times.

Menurut Yang, kondisi ekosistem perairan di kawasan tersebut juga menunjukkan perkembangan positif. "Sebaliknya, ekologi perairan dan kehidupan flora serta fauna di seluruh bagian ngarai tengah sungai tersebut justru menunjukkan perubahan positif," ujarnya.

PLTA merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dapat menyediakan pasokan listrik secara relatif stabil, sekaligus berperan dalam pengendalian banjir. Pembangkit listrik tenaga air juga dapat melengkapi sumber energi seperti tenaga surya dan angin yang produksinya bergantung pada kondisi cuaca.

Namun, pembangunan bendungan juga memiliki dampak terhadap ekosistem sungai. Perubahan struktur badan air dapat mengganggu habitat dan jalur migrasi alami berbagai spesies ikan.

Stanford University menyebut bendungan PLTA dapat menghambat pergerakan ikan di antara wilayah mencari makan dan tempat berkembang biak. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu siklus reproduksi dan mengancam keberlangsungan populasi ikan.

Dampak pembangunan bendungan terhadap ikan juga terlihat di Sungai Yangtze. Chinese paddlefish dan Yangtze sturgeon, dua spesies yang pernah ditemukan di sungai tersebut, telah dinyatakan punah.

Pegiat konservasi dan ilmuwan mengaitkan kepunahan kedua spesies itu dengan sejumlah faktor, termasuk penangkapan ikan berlebihan serta pembangunan infrastruktur PLTA, salah satunya Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam).

Struktur Bendungan

Tetapi, ada beberapa cara untuk mengurangi dampak bendungan terhadap spesies air, seperti pembangunan struktur buatan yang membantu ikan yang sedang bermigrasi berenang melintasi bendungan.

Menurut Departemen Energi AS, struktur tersebut biasanya dilengkapi dengan serangkaian anak tangga rendah atau kolam yang memperlambat aliran air deras agar ikan dapat melintasi bendungan secara bertahap.

PLTA Zangmu adalah proyek pembangkit listrik tenaga air dengan ketinggian 200 meter dan kapasitas 510 megawatt. Untuk merancang jalur migrasi ikan di bendungan tersebut, para anggota tim melakukan kunjungan ke Kanada dan AS untuk belajar dari proyek-proyek serupa.

Jalur ikan Zangmu dibangun dengan kemiringan yang landai untuk mengakomodasi spesies air dingin setempat yang kemampuan berenangnya lebih lemah dibanding spesies Amerika Utara. Kecepatan aliran yang optimal juga digunakan untuk menarik ikan agar bergerak ke hulu, kata seorang insinyur perancang bendungan tersebut,  Zhang Lianming.

Tujuh spesies ikan yang hanya ditemukan di sungai tersebut melewati jalur migrasi ikan di PLTA. Di antaranya terdapat spesies yang dilindungi seperti Glyptosternon maculatum, sejenis lele yang hidup di dataran tinggi.

Zhang berkata saat jalur migrasi ikan tersebut selesai dibangun, proyek tersebut merupakan yang terbesar dan berada di ketinggian tertinggi di China untuk jenisnya. Ini juga membuktikan bahwa pembangunan jalur migrasi ikan semacam itu dapat dilakukan untuk bendungan dengan ketinggian lebih dari 40 meter.

Awalnya, jalur migrasi ikan ini menggunakan pemantauan manual melalui jendela ruang pengamat untuk menghitung dan memverifikasi ikan. Tetapi, proses tersebut lambat dan tidak dapat diberikan angka yang akurat seiring meningkatkan jumlah spesies yang bermigrasi.

Pemanfaatan Teknologi

Sebagai gantinya, sistem identifikasi berbasi AI yang dilatih menggunakan rekaman historis digunakan untuk melacak spesies yang bermigrasi lewat jalur tersebut dan meningkatkan efisiensi.

Dengan memanfaatkan teknologi sonar dan optik, sistem ini mengidentifikasi spesies, menghitung jumlah ikan yang melintas, dan juga menganalisis ciri-ciri seperti postur berenang dan karakteristik sirip dengan akurasi 95 persen. Sistem ini juga mengumpulkan data mengenai waktu migrasi dan suhu air untuk mengevaluasi efektivitas jalur migrasi ikan. Data tersebut juga bisa dibagikan ke lembaga penelitian dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air lainnya di China.

Teknologi pengenalan ikan canggih seperti drone, AI, dan kamera stereo 3D juga digunakan di AS oleh Alaska Fisheries Science Centre untuk memantau spesies seperti walleye pollock, menurut publikasi industri perikanan, The National Fisherman.

Innovasea, penyedia teknologi perairan asal Kanada, juga telah menjalin kemitraan dengan Nova Scotia Power untuk mengembangkan teknologi untuk mendeteksi, mengklasifikasi, dan menghitung ikan yang melewati bendungan PLTA di provinsi Kanada tersebut.

Untuk memastikan kelestarian populasi ikan langka di Sungai Yarlung Tsangpo, program pembiakan dan pelepasan di fasilitas Zangmu telah melepaskan hampir 2 juta ekor ikan kembali ke alam liar sejak fasilitas tersebut beroperasi, menurut Global Times.

Saat ini, China sedang membangun bendungan raksasa dengan kapasitas 60 gigawatt di hilir Sungai Yarlung Tsangpo di Kabupaten Medog, yang  terletak dekat perbatasan yang disengketakan dengan India. Proyek ini, yang berkapasitas tiga kali lebih besar dari Bendungan Tiga Ngarai, PLTA terbesar di dunia saat ini, telah menimbulkan kekhawatiran terkait potensi dampak lingkungan, baik di wilayah setempat maupun di hilir di India, yang mana sungai tersebut dikenal sebagai Brahmaputra, dan Bangladesh.