Drone Bermuatan Peledak Gegerkan Bandara Leipzig Jerman

Drone yang membawa bahan peledak ditemukan di Bandara Leipzig Jerman.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Berlin - Jerman dibuat geger setelah sebuah drone yang membawa bahan peledak ditemukan di Bandara Leipzig, salah satu pusat logistik kargo dan militer terpenting di negara itu. Otoritas kini menyelidiki kemungkinan bahwa insiden tersebut merupakan bagian dari operasi sabotase yang melibatkan kekuatan asing.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (8/6/2026), Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, menyebut insiden itu sebagai "tingkat ancaman baru" bagi Jerman. Menurutnya, penyelidikan mengarah pada dugaan bahwa aksi tersebut bukan dilakukan oleh pelaku amatir, melainkan merupakan bagian dari "skenario ancaman hibrida profesional".

"Kami menghadapi persaingan yang mungkin juga melibatkan kekuatan asing. Hal itu akan menjadi bagian dari penyelidikan, karena tampaknya ada pihak yang ingin menciptakan ketidakpastian yang besar di Jerman," kata Dobrindt.

Insiden bermula ketika seorang pegawai bandara menemukan sebuah drone jenis quadcopter yang dipasangi bahan peledak di area keamanan zona operasi kargo dekat landasan pacu selatan Bandara Leipzig. Polisi segera mengerahkan robot penjinak bom untuk menjinakkan dan menghancurkan perangkat tersebut.

Di tengah penanganan insiden, sebuah pesawat kargo DHL yang sebelumnya membatalkan pendaratan di Bandara Leipzig dilaporkan bertabrakan dengan objek tak dikenal saat kembali menanjak setelah meninggalkan bandara. Pesawat itu kemudian mendarat dengan selamat di Hanover, meski ditemukan kerusakan ringan setelah pemeriksaan.

Penyelidik juga mengungkapkan adanya dugaan objek terbang tak dikenal kedua yang menabrak pesawat tersebut setelah lepas landas.

Meski pemerintah Jerman belum secara terbuka menyebut Rusia sebagai pihak yang dicurigai, perhatian mengarah ke Moskow karena Bandara Leipzig merupakan pusat logistik NATO, fasilitas militer Jerman, sekaligus basis operasional Antonov Airlines Ukraina di Eropa. Rusia sebelumnya juga pernah dituduh melakukan aksi sabotase di sejumlah negara Eropa, meski tuduhan tersebut dibantah Kremlin.

Sejumlah pakar keamanan menilai apabila nantinya terbukti Kremlin berada di balik insiden ini, maka kasus tersebut akan menjadi eskalasi serius dalam ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa.

Menurut laporan media, drone bermuatan bahan peledak itu ditemukan di dekat pesawat kargo Antonov milik Ukraina. Beberapa armada Antonov diketahui menggunakan slogan patriotik seperti "Be Brave Like Kherson" dan "Be Brave Like Bucha".

Mengenai jenis bahan peledak yang digunakan, tabloid Bild melaporkan perangkat tersebut diduga dibuat dari pupuk dan bensin. Sementara itu, hasil investigasi NDR, WDR, dan surat kabar Süddeutsche menyebut bahan peledak itu mengandung pentaerythritol tetranitrate (PETN), yang merupakan bahan utama semtex dan masih satu kelompok kimia dengan nitrogliserin.

 

Dubes Ukraina Tuding Rusia

Duta Besar Ukraina untuk Jerman, Oleksii Makeiev, secara terbuka menuding Rusia berada di balik insiden tersebut. "Siapa lagi kalau bukan Rusia?" ujarnya kepada Welt TV. Hingga kini, Moskow belum memberikan tanggapan.

Politikus Partai Hijau Jerman, Konstantin von Notz, mendesak penyelidikan dilakukan secepat mungkin. Ia mengatakan apabila nantinya terbukti ada negara yang menjadi dalang aksi tersebut, maka insiden itu bukan sekadar terorisme, melainkan terorisme negara yang ditujukan kepada Republik Federal Jerman dan warganya.

Sementara itu, Ketua Komite Pengawasan Intelijen Parlemen Jerman dari CDU, Marc Henrichmann, menilai insiden tersebut tampak sebagai upaya untuk menargetkan perusahaan yang memiliki arti penting bagi Ukraina. Menurutnya, jika seluruh rincian kejadian itu terkonfirmasi, maka insiden tersebut akan menjadi bentuk eskalasi baru dalam pola serangan semacam itu.

Akibat penemuan drone tersebut, sejumlah penerbangan, termasuk pesawat penumpang dari Mallorca, dialihkan ke bandara lain. Operasional di bagian utara Bandara Leipzig kembali dibuka sekitar dua jam kemudian, sementara landasan pacu selatan tetap ditutup untuk kepentingan penyelidikan.

Polisi dan jaksa memastikan tidak ada ancaman terhadap keselamatan penumpang maupun staf bandara. Operasional penerbangan penumpang juga dinyatakan tidak terdampak.

 

Penerbangan Drone Ilegal

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran Jerman dan sejumlah negara Eropa terhadap serangkaian penerbangan drone ilegal di bandara, fasilitas militer, pelabuhan, dan perusahaan logistik. Sejumlah insiden sebelumnya juga dikaitkan dengan dugaan aktivitas agen Rusia, meski Moskow membantah seluruh tuduhan tersebut.

Jerman sendiri merupakan pemasok bantuan militer terbesar bagi Ukraina dari sisi negara tunggal. Berlin juga menuduh Rusia menjalankan kampanye sabotase, spionase, dan disinformasi terhadap Jerman, tuduhan yang kembali dibantah Kremlin.

Secara terpisah, media Die Zeit melaporkan bahwa badan intelijen Rusia diduga merencanakan serangan terhadap Stefan Thumann, pimpinan perusahaan pembuat drone Jerman, Donaustahl.

Penyelidik Jerman disebut menerima informasi dari badan intelijen asing pada akhir tahun lalu, sebelum akhirnya menangkap seorang pria asal Ukraina dan seorang perempuan asal Rumania pada musim semi tahun ini. Thumann kini disebut berada di bawah perlindungan polisi.

Pada 2024, badan intelijen Amerika Serikat juga dilaporkan menggagalkan dugaan rencana Rusia untuk membunuh Armin Papperger, CEO Rheinmetall, perusahaan persenjataan terbesar Jerman. Dugaan rencana itu disebut sebagai salah satu dari beberapa skema yang menargetkan para petinggi industri pertahanan di Eropa yang mendukung Ukraina.