Serangan Panas Diduga Picu Kematian 3 Singa di Jepang

Fenomena serangan panas di tengah kelembapan tinggi ini menjadi tantangan berat bagi daya tahan tubuh makhluk hidup.

Diterbitkan 04 Agustus 2026, 16:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Tiga singa di sebuah kebun binatang di Tokyo, Jepang, mati karena diduga mengalami heatstroke atau serangan panas. Sejumlah singa lainnya masih menjalani perawatan setelah kesulitan menghadapi cuaca panas dengan kelembapan udara yang tinggi. Demikian disampaikan seorang juru bicara pada Selasa (4/8/2026).

Jepang mengalami musim panas terpanas sepanjang sejarah pencatatan pada tahun lalu. Dalam beberapa pekan terakhir, suhu di sejumlah wilayah bahkan menembus 40 derajat Celsius hingga masuk dalam kategori baru yang disebut "hari dengan panas menyiksa".

Sejak pertengahan Juli, 10 dari 16 singa di Tama Zoological Park menunjukkan gejala seperti kehilangan nafsu makan dan semakin jarang bergerak. Menurut keterangan pihak kebun binatang, tiga singa betina kemudian mati.

Satu ekor mati pada Jumat (31/7), satu lagi pada Minggu (2/8), dan singa ketiga mati pada Selasa (4/8).

"Menurut dokter hewan kami, ketiganya diduga mati akibat heatstroke," kata seorang juru bicara kepada AFP.

Dugaan tersebut diperkuat oleh ditemukannya tanda-tanda dehidrasi dan kegagalan fungsi sejumlah organ.

"Meskipun singa dikenal tahan terhadap cuaca panas, para penjaga dalam beberapa tahun terakhir terus meningkatkan berbagai langkah untuk menghadapi musim panas di Jepang. Cuaca panas di sini disertai kelembapan tinggi, berbeda dengan kondisi panas dan kering di Afrika," ujarnya.

"Namun, tahun ini cuaca panas datang secara tiba-tiba setelah musim hujan berakhir pada akhir Juli."

Pihak kebun binatang kini kembali meningkatkan upaya untuk melindungi singa-singa tersebut dari cuaca panas.

"Kami menyemprotkan air, memperbaiki sirkulasi udara, dan memasang pendingin udara di sejumlah titik."

Sejumlah singa hingga kini masih menjalani perawatan.

Hampir 18.600 orang dibawa ke rumah sakit akibat heatstroke pada periode 20–26 Juli. Menurut Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang, sebanyak 45 orang di antaranya dinyatakan meninggal saat tiba di rumah sakit.

Setiap tahun, sekitar 1.300 orang di Jepang meninggal akibat kondisi yang berkaitan dengan cuaca panas. Pemerintah Jepang menargetkan angka tersebut dapat berkurang hingga separuhnya pada 2030.

Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat cuaca panas ekstrem semakin sering terjadi dan semakin parah, baik di Jepang maupun di berbagai wilayah lain di dunia.

Suhu tertinggi yang pernah tercatat di Jepang mencapai 41,8 derajat Celsius. Rekor itu tercatat di Isesaki, sebelah utara Tokyo, pada 5 Agustus 2025.

Dalam beberapa tahun terakhir, pihak berwenang juga mengubah jadwal sejumlah kegiatan budaya dan olahraga akibat cuaca panas. Salah satunya adalah World Cosplay Summit di Nagoya, yang baru saja menggelar edisi musim panasnya pada akhir pekan lalu.