Dari Pangan hingga AI, Menakar Peluang Kerja Sama Ekonomi Indonesia-AS

Kerja sama Indonesia-Amerika Serikat (AS) kini berkembang ke sektor-sektor bernilai tambah tinggi, mulai dari pangan, penerbangan, hingga AI.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 08:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington - Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat memasuki fase yang semakin strategis. Tidak lagi sebatas perdagangan komoditas, kerja sama kedua negara kini berkembang ke sektor-sektor bernilai tambah tinggi, mulai dari pangan, penerbangan, pertambangan, pertahanan, teknologi, hingga pengembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Gambaran tersebut mengemuka dalam pertemuan antara jajaran perusahaan besar Amerika Serikat dengan Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, yang digelar pada 28 Juli 2026 atas inisiatif US-ASEAN Business Council (US-ABC). Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pelaku industri Amerika Serikat dari berbagai sektor, termasuk Ketua US-ABC sekaligus mantan Duta Besar AS untuk Indonesia Brian McFeeters, serta mantan Duta Besar AS untuk Indonesia Joseph Donovan dan Robert Blake.

Pertemuan itu memperlihatkan luasnya spektrum kepentingan bisnis Amerika Serikat di Indonesia. Di sektor penerbangan, Boeing memiliki hubungan jangka panjang dengan Indonesia melalui penggunaan pesawat komersial oleh maskapai nasional, sekaligus membuka peluang penguatan rantai pasok dan industri komponen pesawat di dalam negeri.

Di bidang pertahanan dan kedirgantaraan, Lockheed Martin menjadi salah satu perusahaan yang melihat peluang kerja sama dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan serta penguatan kapasitas industri nasional. Sementara di sektor pertambangan, Freeport-McMoRan melalui PT Freeport Indonesia terus menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya mineral, termasuk investasi pada infrastruktur pertambangan dan fasilitas pengolahan serta pemurnian mineral.

Sektor pangan juga menjadi salah satu fondasi penting hubungan ekonomi kedua negara. Cargill memiliki peran dalam perdagangan komoditas seperti jagung, kedelai, dan gandum. Caterpillar telah memasok peralatan berat untuk sektor pertambangan dan konstruksi di Indonesia sejak 1971. Di sektor konsumsi dan keberlanjutan, PepsiCo menjalankan berbagai inisiatif lingkungan, termasuk pengelolaan kemasan dan penanaman pohon.

Sementara itu, perkembangan teknologi menghadirkan dimensi baru dalam hubungan ekonomi Indonesia–AS. NVIDIA, misalnya, terlibat dalam pengembangan talenta Artificial Intelligence bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Walmart Foundation turut mendorong penguatan rantai pasok berkelanjutan dan kesejahteraan petani, sedangkan Chubb berkontribusi dalam pengembangan literasi keuangan dan manajemen risiko.

Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Tessal Maharizky Febrian, dalam pertemuan tersebut memaparkan bahwa investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada Semester I-2026 telah mencapai sekitar US$ 1,7 miliar.

Pada 2025, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai sekitar US$ 31 miliar atau sekitar 11 persen dari total ekspor Indonesia ke dunia. Sementara nilai perdagangan bilateral kedua negara tercatat sekitar US$ 43,8 miliar.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke AS antara lain produk elektronika sekitar US$ 6 miliar, tekstil US$ 4,9 miliar, alas kaki US$ 2,8 miliar, minyak sawit US$ 2,1 miliar, furnitur US$ 1,4 miliar, serta produk perikanan sekitar US$ 1,2 miliar.

 

Indonesia Impor Kedelai hingga Pesawat Terbang

Di sisi lain, Indonesia mengimpor berbagai produk dari Amerika Serikat, antara lain kedelai, kapas, gandum, pesawat terbang dan produk ruang angkasa atau satelit, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi.

Menurut Indroyono Soesilo, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat memiliki fondasi yang kuat, tetapi masih menyimpan ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar.

“Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat tidak boleh berhenti pada angka perdagangan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perdagangan dan investasi tersebut menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membawa teknologi baru ke Indonesia,” ujar Indroyono.

Para pelaku usaha Amerika Serikat dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan sejumlah masukan mengenai iklim investasi di Indonesia. Reformasi perizinan melalui PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis Risiko dinilai sebagai langkah positif dalam menciptakan kepastian dan kemudahan berusaha.

Namun demikian, masih terdapat sejumlah hal yang dinilai perlu diperkuat, antara lain perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual, konsistensi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah, efisiensi logistik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Berbagai masukan tersebut menjadi penting karena kompetisi untuk menarik investasi global semakin ketat. Indonesia tidak hanya bersaing untuk mendapatkan modal, tetapi juga harus mampu menjadi tempat di mana teknologi, talenta, industri, dan rantai pasok global dapat tumbuh bersama.

Dengan pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang strategis, posisi geografis yang penting, serta agenda transformasi digital dan industrialisasi yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas kemitraan dengan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.

Kerja sama tersebut pada akhirnya diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan nilai investasi dan ekspor, tetapi juga membawa Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global—dari pemasok bahan mentah menjadi negara yang semakin kuat dalam industri pengolahan, teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia.