Kebakaran Hutan di Spanyol dan Prancis Paksa 250.000 Orang Mengungsi

Prancis telah meminta bantuan internasional, sementara Spanyol menetapkan status darurat nasional.

Diterbitkan 25 Juli 2026, 22:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Madrid - Lebih dari 250.000 orang terpaksa meninggalkan rumah dan kawasan wisata akibat kebakaran hutan besar-besaran yang masih belum terkendali di Prancis dan Spanyol.

Petugas pemadam kebakaran Spanyol pada Sabtu (25/7/2026) berupaya mengendalikan kebakaran yang berkobar di sekitar Madrid. Namun, perubahan arah angin yang sulit diprediksi dikhawatirkan memperluas kobaran api, sementara asap kelabu pekat menyelimuti langit di sebelah barat ibu kota.

Kepala Penanganan Darurat Pemerintah Regional Madrid Carlos Novillo mengatakan kebakaran di sekitar ibu kota telah mencapai fase paling kritis.

"Kebakaran sedang berada pada puncaknya dan saat ini sudah melampaui kemampuan petugas pemadam untuk mengendalikannya," kata Novillo seperti dilaporkan Al Jazeera.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan api telah menghanguskan hampir 10.000 hektare lahan di wilayah Madrid serta sekitar 13.000 hingga 15.000 hektare di Provinsi Avila yang berbatasan dengannya.

Secara keseluruhan, luas wilayah yang terbakar lebih dari dua kali luas Paris, ibu kota Prancis.

Kementerian itu menyebutkan pula bahwa sekitar 70.000 orang telah dievakuasi.

Dua titik kebakaran yang sebelumnya terpisah menyatu pada Jumat (24/7) dan membentuk satu kobaran api raksasa. Kebakaran tersebut juga hampir menyatu dengan titik api lain di wilayah Castilla y Leon.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan prioritas utama pemerintah adalah menyelamatkan nyawa. Ia memperingatkan bahwa upaya mengatasi kebakaran masih akan menghadapi situasi yang sulit.

"Prioritas, perhatian, dan tujuan kami adalah menjaga keselamatan Anda, menyelamatkan nyawa, serta melindungi kawasan permukiman," tutur Sanchez kepada wartawan setelah menghadiri rapat darurat pada Sabtu di Cenicientos, sebuah desa yang berada di pusat wilayah terdampak kebakaran.

"Kita akan menghadapi beberapa jam yang sulit. Meskipun suhu telah menurun, kita belum mengetahui secara pasti bagaimana arah angin akan berubah dan seberapa kencang angin akan bertiup."

 

Militer Prancis Turun Tangan

Di Prancis, pihak berwenang pada Sabtu mengevakuasi ribuan warga dari kawasan pinggiran Bordeaux karena kebakaran di sekitar kota tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sophie Brocas, kepala pemerintahan daerah Nouvelle-Aquitaine dan Gironde yang mencakup wilayah Bordeaux, mengatakan evakuasi dilakukan di Le Haillan, Eysines, dan Merignac.

Bordeaux dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil anggur utama di Prancis. Kota itu menjadi simpul transportasi penting bagi wisatawan yang hendak menuju berbagai kawasan wisata di pesisir Atlantik.

Sekitar 44.000 orang meninggalkan Semenanjung Cap Ferret di sebelah selatan Bordeaux setelah satu-satunya akses jalan dari kawasan itu terancam kobaran api.

Ratusan orang dievakuasi menggunakan kapal, sementara warga lainnya meninggalkan semenanjung tersebut dengan kendaraan.

Cap Ferret dikenal sebagai kawasan hunian mewah yang dihuni banyak jutawan. Lebih dari 50 rumah di wilayah itu telah hancur.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengatakan sebanyak 197.000 orang sejauh ini telah dievakuasi dari wilayah Gironde dan Landes.

"Kebakaran yang melanda negara kita telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Lecornu di platform X pada Sabtu.

 

Militer Prancis telah dikerahkan untuk membantu operasi penanganan kebakaran. Presiden Emmanuel Macron meminta bantuan Uni Eropa dan memerintahkan pengerahan pesawat angkut militer guna mendukung upaya pemadaman.

"Sekitar 100 petugas pemadam kebakaran dari Paris turut dikirim ke wilayah terdampak," ujar Komandan Brigade Pemadam Kebakaran Paris Arnaud de Cacqueray kepada kantor berita AFP.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menuturkan kebakaran di berbagai wilayah negara itu telah menghanguskan hampir 98.000 hektare lahan. Ia menyebut angka tersebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

"Masih ada sejumlah kebakaran di berbagai wilayah negara yang belum berhasil dikendalikan," terangnya.

Sejumlah wilayah di Eropa telah mengalami sedikitnya dua gelombang panas sejak Mei.

Menurut kajian kelompok World Weather Attribution yang diterbitkan pekan ini, kekeringan yang diperparah oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah meningkatkan risiko kebakaran hutan tahun ini.