Kisah Tragis Denise Cosco Soroti Beratnya Hidup sebagai Saksi Mafia di Italia

Denise Cosco bersaksi melawan ayahnya sendiri dan jaringan mafia 'Ndrangheta dalam kasus pembunuhan ibunya.

Diterbitkan 24 September 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Roma - Kematian Denise Cosco, perempuan yang pernah bersaksi melawan ayah dan mantan kekasihnya dalam kasus pembunuhan sang ibu, kembali memicu perdebatan di Italia mengenai perlindungan bagi saksi yang berani melawan mafia.

Denise meninggal pada 10 September 2026 setelah empat hari dirawat di rumah sakit akibat jatuh dari apartemen yang ia tinggali bersama suami dan putranya yang berusia empat tahun di Roma. Ia berusia 35 tahun.

Jaksa kini menyelidiki apakah mafia memiliki kaitan dengan kematiannya, termasuk kemungkinan adanya tekanan yang mendorong Denise melakukan dugaan bunuh diri. Ia tidak meninggalkan catatan yang menjelaskan kondisi pikirannya sebelum jatuh.

Ponsel dan perangkat elektronik Denise telah disita untuk mencari tahu apakah ia menerima ancaman dari orang-orang yang terkait dengan pembunuhan ibunya, Lea Garofalo. Penyidik juga mendalami kemungkinan tekanan, rasa bersalah, dan kesedihan akibat perjalanan hidupnya menjadi beban yang terlalu berat.

Kasus tersebut mendapat perhatian besar karena Denise pernah hidup bertahun-tahun di bawah perlindungan negara setelah bersaksi melawan ayahnya, Carlo Cosco, dan mantan kekasihnya, Carmine Venturino, dalam kasus pembunuhan Lea.

Kisah Denise tidak dapat dilepaskan dari perjuangan ibunya melawan 'Ndrangheta, sindikat kejahatan terorganisasi yang berasal dari Calabria, Italia.

Berawal dari Kesaksian Sang Ibu

Pada November 2009, Denise pergi berlibur bersama ayahnya, Carlo Cosco, dan ibunya, Lea Garofalo. Denise mengira perjalanan itu menjadi kesempatan bagi kedua orang tuanya untuk berdamai setelah Lea memberikan kesaksian kepada aparat mengenai bisnis narkoba suaminya yang terkait dengan 'Ndrangheta.

Namun, Carlo ternyata tidak berniat memaafkan Lea.

Lea kemudian diculik, disiksa, dibunuh, dan tubuhnya dimutilasi sebelum dibakar.

Sisa jasadnya baru ditemukan sekitar tiga tahun kemudian setelah Venturino mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan, penyembunyian, dan pembakaran tubuh Lea. Ia kemudian menunjukkan kepada penyidik lokasi jasad tersebut disembunyikan.

Di antara sisa tulang yang hangus, penyidik menemukan sebuah kalung.

Denise langsung mengenalinya sebagai milik ibunya.

"Ketika mereka menunjukkan kalung itu di antara sisa tulangnya yang hangus, saya langsung tahu bahwa itu miliknya dan bahwa dia telah menyerahkan hidupnya untuk menyelamatkan saya," kata Denise seperti dilaporkan CNN.

"Saya tidak akan pernah bisa cukup berterima kasih kepadanya."

Pembunuhan Lea dinilai sebagai aksi balas dendam setelah ia memberikan kesaksian mengenai dugaan perdagangan narkoba yang melibatkan suaminya, saudara laki-lakinya, dan sejumlah orang lain di Milan.

Keputusan Lea bekerja sama dengan aparat didorong oleh keinginannya melindungi Denise agar putrinya tidak tumbuh dalam keluarga mafia.

Kesaksiannya membuat Lea menjadi salah satu saksi negara yang paling dikenal di Italia dalam perkara kejahatan terorganisasi. Setelah kematiannya, sejumlah jalan, taman, dan sekolah diberi namanya sebagai penghormatan atas keberaniannya.

 

Bersaksi Melawan Ayah dan Kekasih Sendiri

Setelah pembunuhan ibunya, Denise memberikan kesaksian terhadap ayahnya sendiri dan Venturino dalam kasus penculikan, penyiksaan, mutilasi, serta pembunuhan Lea.

Carlo dan Venturino dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, meskipun hukuman Venturino kemudian dikurangi.

Kesaksian tersebut membuat Denise harus hidup dalam program perlindungan saksi Italia. Selama enam tahun, ia menjalani kehidupan dengan identitas palsu yang dibuat negara.

Pada pemakaman ibunya pada Oktober 2013, Denise yang saat itu berusia 22 tahun berbicara dari balik kaca antipeluru.

"Hari ini sangat berat bagi saya, tetapi Mama memberi saya kekuatan," katanya.

"Saya tidak akan pernah berhenti berterima kasih kepadamu."

Lea dan Denise termasuk sedikit perempuan yang memilih atau mampu keluar dari keluarga kriminal mereka. Namun, keputusan tersebut membawa konsekuensi besar.

Keduanya pernah hidup di bawah perlindungan negara dan kemudian sama-sama meninggalkan program itu dalam keadaan kecewa terhadap negara Italia.

Hidup Baru, tetapi Tidak Selalu Merasa Aman

Menurut Kementerian Dalam Negeri Italia, sekitar 6.000 orang terdaftar dalam program perlindungan saksi negara tersebut.

Jaksa anti-mafia Alessandra Cerreti, yang telah membujuk puluhan perempuan untuk memberikan kesaksian melawan keluarga kriminal di berbagai sindikat kejahatan Italia, mengatakan risikonya tetap tinggi.

Berdasarkan hukum Italia, penyidik memiliki waktu 180 hari untuk bekerja dengan calon kolaborator guna memastikan apakah keterangannya benar atau apakah orang tersebut sebenarnya masih setia kepada keluarga kriminalnya.

"Kami memiliki waktu yang singkat untuk memahami seluruh situasinya," kata Cerreti kepada CNN.

Menurut dia, proses tersebut juga kerap terkendala keterbatasan anggaran serta minimnya orang lain yang dapat menguatkan kesaksian, terutama tidak lama setelah seseorang melarikan diri dari keluarga kriminalnya.

Jika diterima dalam program, perlindungan akan dievaluasi setiap empat tahun untuk mengetahui apakah saksi masih bekerja sama, telah kembali kepada keluarga mafia, atau menghilang.

Mereka dapat diberikan tempat tinggal, identitas palsu, pekerjaan, serta riwayat kehidupan baru yang dapat dikonfirmasi jika diperiksa orang lain.

Namun, Cerreti mengatakan mereka hidup dengan uang yang sangat terbatas dan jarang benar-benar merasa aman.

Lea sendiri keluar dari program perlindungan pada 2009, tahun ketika ia dibunuh. Sebelumnya, ia menyembunyikan Denise di biara-biara dan kota-kota kecil di berbagai wilayah Italia.

Lea menyebut kesulitan keuangan serta ancaman terus-menerus kehilangan perlindungan sebagai alasan keluar dari program. Saat itu, negara kesulitan menguatkan sejumlah keterangannya karena tidak ada saksi lain yang dapat mendukung kesaksiannya.

Berdasarkan hukum Italia, perlindungan dapat dihentikan apabila kesaksian seorang kolaborator tidak dapat dikuatkan atau ancaman terhadap dirinya dinilai sudah tidak ada.

"Jika kami memiliki lebih banyak waktu, kami bisa melindungi mereka yang bersedia berbicara dengan lebih baik, dan itu akan memudahkan orang lain untuk melakukan hal yang sama," kata Cerreti.

"Tetapi sering kali melarikan diri terasa sama berisikonya dengan tetap tinggal."

Kematian Denise Masih Diselidiki

Suami Denise berada di rumah ketika istrinya jatuh dari jendela apartemen.

Ia telah dimintai keterangan oleh penyidik, tetapi tidak berstatus tersangka. Belum diketahui apakah sang suami mengetahui bahwa Denise pernah hidup dalam program perlindungan saksi.

Pihak berwenang baru menyebutnya sebagai Denise Cosco setelah ia meninggal pada 10 September.

Ayahnya, Carlo, melalui pengacaranya dari penjara mengatakan hubungan mereka mulai membaik. Namun, belum ada penjelasan lebih jauh mengenai apa yang dimaksud dengan rekonsiliasi tersebut.

Penyelidikan pidana telah dibuka untuk mencari tahu apa yang terjadi sebelum Denise jatuh.

Penyidik ingin mengetahui apakah ia menghadapi ancaman dari orang-orang yang terkait dengan pembunuhan ibunya atau apakah tekanan, rasa bersalah, dan kesedihan dari perjalanan hidupnya telah menjadi beban yang terlalu berat.

Pengacara Denise, Enza Rando, yang membantunya bersaksi melawan ayah dan kekasihnya pada 2009, menilai negara juga turut bertanggung jawab karena tidak memberikan perlindungan dan dukungan yang memadai kepada orang-orang yang berani melawan kelompok kriminal.

"Mafia membunuh dengan banyak cara," kata Rando.

"Mafia membunuh dengan menciptakan monster nyata dalam kehidupan mereka yang ditinggalkan."

Dikhawatirkan Membuat Saksi Lain Takut

Kematian Denise mengguncang kalangan penyidik anti-mafia.

Jaksa Napoli Nicola Gratteri, yang telah membantu ratusan informan meninggalkan keluarga kriminal mereka untuk bekerja sama dengan pengadilan, mengatakan kematian Denise menjadi kemunduran dalam perjuangan melawan kejahatan terorganisasi.

Menurut dia, kasus tersebut dapat semakin menyulitkan aparat membujuk orang lain untuk memberikan kesaksian.

Kegelisahan juga dirasakan mereka yang masih hidup di bawah perlindungan.

Giuseppe Carini, yang hidup dengan identitas palsu setelah menjadi saksi dalam kasus pembunuhan seorang pastor Katolik yang menentang mafia Cosa Nostra di Sisilia pada 1993, menulis surat terbuka setelah kematian Denise.

Dalam surat yang dibagikan pengacaranya, Carini mengatakan Denise telah dikecewakan oleh "tingkat tertinggi negara dan pemerintah".

Ia juga menegaskan bahwa para saksi tidak seharusnya hanya dikenang sebagai orang pemberani setelah meninggal.

"Dikatakan bahwa saksi keadilan adalah orang-orang pemberani, bahwa Lea dan Denise adalah perempuan pemberani dan karena itu tidak akan pernah mati," tulisnya.

"Tetapi kami tidak menginginkan batu nisan atau epitaf yang dipahat di marmer. Saksi keadilan memiliki hak yang suci untuk hidup dan menjalani kehidupan yang normal."

Setelah Denise meninggal, bibinya, Marisa Garofalo, mengunggah foto Denise sedang memegang kaus bertuliskan nama mendiang ibunya.

Karena selama bertahun-tahun hidup dengan identitas palsu, hanya anggota keluarga yang dipercaya yang mengetahui seperti apa wajah Denise.

"Sekarang aku bisa menunjukkan matamu yang indah," tulis Marisa.

"Tidak akan ada lagi yang bisa menentukan hidupmu. Kamu tidak perlu bersembunyi lagi."