Israel Bangun Tanggul Raksasa yang Membelah Jalur Gaza

Citra satelit menunjukkan pembangunan tanggul oleh Israel di Gaza terus diperluas di tengah mandeknya pelaksanaan gencatan senjata.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 08:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Militer Israel diam-diam membangun tanggul tanah raksasa yang memisahkan lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza yang dikuasainya dari kawasan lain di wilayah tersebut. Pembangunan ini semakin mengukuhkan pembelahan wilayah kantong Palestina itu. 

Menurut laporan Associated Press, dalam beberapa bulan terakhir, Israel telah membangun tanggul sepanjang lebih dari 23 kilometer. Tanggul tersebut membentang melintasi permukiman-permukiman Palestina yang sebelumnya dihancurkan militer.

Panjangnya setara dengan lebih dari separuh bentang Gaza, wilayah pesisir yang memiliki panjang sekitar 40 kilometer, lebar 11 kilometer, dan dihuni lebih dari 2 juta warga Palestina.

Setelah diperlihatkan citra satelit tersebut, militer Israel mengonfirmasi kepada Associated Press bahwa mereka membangun penghalang fisik di sekitar garis kuning. Garis itu menjadi batas penarikan pasukan Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas pada Oktober.

Dalam kesepakatan yang didukung Amerika Serikat (AS) tersebut, garis kuning dimaksudkan sebagai pembatas sementara sebelum pasukan Israel ditarik lebih jauh dari Gaza.

Namun, pelaksanaan gencatan senjata kini mengalami kebuntuan. Israel justru tampak semakin memperkuat keberadaannya di wilayah yang dikuasai, sehingga memicu kekhawatiran warga Palestina bahwa garis kuning perlahan berubah menjadi perbatasan.

Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang bertugas memantau gencatan senjata, tidak memberikan komentar mengenai tanggul tersebut. Dewan Perdamaian, badan pimpinan Presiden AS Donald Trump yang direncanakan mengawasi Gaza, juga tidak bersedia berkomentar.

Selain membangun tanggul, militer Israel mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka mengembangkan sebuah "zona keamanan" di sekitar garis kuning. Kawasan itu dilengkapi perangkat intelijen dan teknologi.

Ketika ditanya sejauh mana tanggul akan diperpanjang, militer Israel menolak memerinci jalurnya. Mereka menyatakan penghalang tersebut dibangun untuk mencegah penyusupan serta melindungi pasukan Israel dan komunitas Israel di dekat Gaza.

Pembangunan Tanggul Berlangsung Cepat

Sejak gencatan senjata diberlakukan, warga Palestina di Gaza khawatir Israel tidak akan menarik diri dari wilayah yang kini dikuasainya.

Namun, pembangunan tanggul-tanggul tersebut belum banyak diketahui warga karena mendekati kawasan itu sangat berbahaya. 

Citra satelit yang disediakan Planet Labs PBC menunjukkan salah satu bagian jaringan tanggul di Gaza selatan bertambah panjang lebih dari 2 kilometer hanya dalam dua pekan pada bulan ini.

Pada 1 Juli, tanggul tersebut baru membentang sekitar 500 meter. Pada 15 Juli, panjangnya telah mencapai sekitar 2,4 kilometer.

Tanggul itu memisahkan reruntuhan Kota Rafah yang dikuasai Israel dari Muwasi, kawasan yang menampung sejumlah kamp tenda Palestina terbesar di Gaza.

Apabila pembangunan berlanjut ke arah yang sama, ruas tanggul itu akan tersambung dengan bentangan penghalang terpanjang yang telah dibangun. Jalur itu membentang hampir tanpa putus sepanjang sekitar 17 kilometer, dari Khan Younis di selatan hingga mendekati Kota Gaza di utara.

Pembangunan jalur sepanjang 17 kilometer itu dimulai pada Februari. Berdasarkan citra satelit, pekerjaan untuk memperpanjangnya ke arah selatan masih terus berlangsung.

Dalam rentang 21 Juni hingga 7 Juli, panjang tanggul bertambah lebih dari 1 kilometer. Tanggul itu membentang di dekat pangkalan militer Israel yang dibangun di atas reruntuhan Bani Suheila, dekat Khan Younis.

Di ujung utara Gaza, beberapa ruas tanggul yang belum tersambung terlihat membentang di luar Beit Lahia, kota yang sebagian besar telah rata dengan tanah.

Belum diketahui berapa tinggi tanggul-tanggul tersebut. Di beberapa lokasi, penghalang itu terlihat dibangun melewati garis kuning.

Israel Hancurkan dan Kosongkan Sebagian Besar Wilayah Gaza yang Dikuasainya

Penduduk Gaza kini berdesakan di kawasan pesisir sebelah barat garis kuning. Sebagian besar tinggal di kamp-kamp tenda dengan kondisi memprihatinkan dan menggantungkan hidup pada bantuan kemanusiaan.

Di sisi lain garis tersebut, citra satelit menunjukkan pasukan Israel telah meratakan sebagian besar bangunan menggunakan buldoser dan bahan peledak.

Sejumlah kota nyaris lenyap, termasuk Rafah yang sebelumnya dihuni lebih dari 250.000 orang.

Pasukan Israel juga membuka jaringan jalan baru serta mendirikan pangkalan-pangkalan militer di atas reruntuhan kota-kota Palestina. Lahan pertanian di wilayah tersebut turut dihancurkan.

Militer Israel menyatakan penghancuran itu menyasar infrastruktur yang digunakan Hamas.

Garis kuning tidak pernah ditetapkan secara jelas, baik dalam kesepakatan gencatan senjata maupun dalam penjelasan pejabat Israel dan AS. Penandaannya di lapangan pun tidak konsisten.

Militer Israel mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka sedang memperjelas penandaan garis tersebut untuk "mengurangi gesekan dan mencegah orang-orang yang tidak terlibat menjadi korban".

Pasukan Israel sendiri telah menewaskan sejumlah warga Palestina yang mendekati atau melintasi garis kuning.

Militer Israel menyatakan tembakan diarahkan kepada orang-orang yang dianggap sebagai anggota kelompok bersenjata dan mengancam pasukannya.

Namun, korban juga mencakup anak-anak dan warga sipil lain yang diyakini kuat tidak mengetahui keberadaan garis tersebut.

Sejumlah tentara Israel mengaku tidak selalu mengetahui siapa yang mereka tembak. Mereka mengatakan mendapat perintah untuk membunuh siapa pun yang melintasi batas itu.

Serangan Israel Tewaskan Ratusan Warga Palestina Sejak Gencatan Senjata

Sejak gencatan senjata diberlakukan, pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 1.100 warga Palestina. Sebagian besar korban tewas akibat serangan udara dan serangan pesawat nirawak di berbagai wilayah Gaza.

Dalam periode yang sama, serangan kelompok bersenjata menewaskan lima tentara Israel.

Pada Selasa (21/7) dini hari, serangan Israel di Kota Gaza menewaskan Firas al-Masri, istrinya, dan empat anak mereka yang berusia 6 hingga 13 tahun. Demikian menurut Rumah Sakit Shifa.

Militer Israel hanya menyatakan bahwa pada waktu tersebut mereka melancarkan serangan terhadap anggota Hamas di kawasan yang sama.

Ahmad al-Masri, saudara laki-laki Firas yang tinggal di dekat lokasi, mengatakan mendengar suara anak-anak itu saat ledakan terjadi.

"Mereka memanggil saya, 'Paman! Paman!'," katanya.

"Namun, api berkobar hebat dan kami tidak bisa berbuat apa-apa."

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, Israel pada akhirnya harus menarik pasukannya hingga ke tepi Gaza. Posisi mereka kemudian akan digantikan oleh pasukan keamanan internasional.

Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut telah terhenti selama berbulan-bulan.

Seorang mantan diplomat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang kini bertugas mengoordinasikan gencatan senjata menyebut kebuntuan terjadi karena Hamas tidak melucuti senjatanya.

Perundingan yang beberapa kali digelar untuk merumuskan mekanisme penonaktifan senjata Hamas sejauh ini hanya menghasilkan sedikit kemajuan. Hamas, sebaliknya, menuduh Israel melanggar gencatan senjata.

Perang pecah setelah kelompok bersenjata pimpinan Hamas menyerang sejumlah komunitas Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut diklaim menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera.

Israel kemudian melancarkan operasi militer besar-besaran yang menurut otoritas Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 orang.

Â