PBB: Permukaan Laut Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat

PBB juga menyoroti upaya apa yang harus diambil dalam upaya mencegah kenaikan air laut.

Diterbitkan 11 Juni 2026, 09:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Sejumlah samudra di dunia menghadapi tekanan berat akibat aktivitas manusia, seiring meningkatnya laju kenaikan permukaan laut dalam satu dekade terakhir.

Temuan tersebut disampaikan dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyoroti urgensi upaya global untuk menekan polusi dan dampak perubahan iklim.

Laporan bertajuk Penilaian Ketiga Samudra Dunia (World Ocean Assessment/WOA III) menyebutkan bahwa tekanan terhadap ekosistem laut bersifat kumulatif, mencakup polusi, eksploitasi sumber daya, hingga industri penangkapan ikan skala besar.

WOA III merupakan satu-satunya penilaian global terintegrasi mengenai kondisi samudra dunia yang mencakup aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Penilaian ini dilakukan untuk periode 2021–2025 dan melibatkan lebih dari 650 ahli lintas sektor dari puluhan negara, dikutip dari Antara News, Kamis (11/6/2026).

Dalam laporan yang dirilis pada Senin tersebut, para peneliti menegaskan bahwa aktivitas manusia telah menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati secara luas serta memberikan tekanan signifikan terhadap sistem samudra global.

Dari sisi perubahan fisik laut, laporan mencatat percepatan kenaikan permukaan laut. Laju kenaikan yang sebelumnya berada di angka sekitar 2 milimeter per tahun sebelum 2015, meningkat menjadi 4,3 milimeter per tahun pada 2023.

 

Percepatan Pemanasan Lautan Dalam

Selain itu, studi tersebut juga menemukan bahwa sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 terjadi hanya dalam periode sejak 2018, menunjukkan percepatan pemanasan lautan dalam beberapa tahun terakhir.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan bahwa laut tidak dapat terus diperlakukan sebagai sumber daya tak terbatas. Ia menyerukan perlunya kolaborasi global yang lebih kuat untuk melindungi ekosistem laut.

“Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya yang tak terbatas. Kolaborasi global yang mendesak diperlukan untuk melindungi ekosistem laut,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dunia perlu membangun hubungan baru dengan laut yang berbasis sains, berlandaskan hukum internasional, serta didukung tanggung jawab bersama antarnegara, sektor, dan generasi.