Laporan Liputan6.com di Turki: Aktivis Ungkap Detik Mencekam di Kamp Israel

Helmi menceritakan detik-detik mencekam ketika kapalnya diintersepsi hingga perlakuan kekerasan yang dialami selama penahanan. Tubuh Helmi dihempaskan ke tanah. Saat itu terasa, Sepatu lars tentara mendarat di tubuhnya.

Diterbitkan 07 Mei 2026, 12:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aktivis Global Sumud Flotilla asal Malaysia, Helmi Ghani, membagikan kesaksiannya setelah dibebaskan dari dugaan penculikan saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza. Kepada jurnalis Liputan6.com Nanda Farikh Ibrahim, Helmi menceritakan detik-detik mencekam ketika kapalnya diintersepsi hingga perlakuan kekerasan yang dialami selama penahanan. 

Kapal yang ditumpangi Helmi bernama Bianca itu berlayar dari Barcelona menuju Italia. Sebelum direncanakan melanjutkan perjalanan ke Gaza. Namun, perjalanan mereka terhenti saat diintersepsi di perairan internasional.

Malam itu, sekitar pukul 20.30. Kapal yang ditumpangi Helmi diintersepsi di jarak sekitar 725 mil laut dari Gaza. Mereka sama sekali tidak menduga kejadian itu. 

“Sepanjang sejarah misi flotilla, belum pernah ada intersepsi sejauh itu,” kata Helmi kepada Liputan6.com di Marmaris, Turki, 5 Mei 2026.

Awalnya, Helmi mengira kapal yang mendekat adalah aparat Yunani. Situasi berubah saat kapal tersebut mendekat dan memberikan peringatan keras.

“Mereka berteriak ‘Israel, Israel’, dan meminta kami berhenti atau akan ditembak,” ungkapnya.

Saat itu juga, akses komunikasi mereka langsung dilumpuhkan. Sinyal internet diacak. Helmi sempat merekam video. Tetapi tidak sempat mengirim atau siaran langsung.

Sekitar enam tentara naik ke kapal mereka. “Kami dipaksa berhenti sebelum ditembak,” katanya.

Helmi diintimidasi. Moncong senjata ditodong ke kepala. “Senapan diarahkan tepat ke kepala saya, dengan laser hijau mengenai tubuh kami, agar kami tidak melakukan apa pun,” tuturnya.

Mereka mencoba menjelaskan secara persuasif. Misi yang mereka jalankan bersifat damai tanpa kekerasan atay non-violence miasion. Tapi penjelasan itu tak membuat mereka terhindar dari ancaman dan kekerasan yang dilakukan pasukam Israel. 

Helmi dan teman-temannya dipaksa naik ke kapal militer. “Kami diculik di perairan internasional dan dibawa ke kapal fregat milik Israel,” ujar Helmi.

Ditahan di Kamp Konsentrasi

Di atas kapal, barang-barang diambil. Hanya disisakan pakaian yang melekat. Padahal malam itu, suhu udara sekitar 8-10 derajat. Mereka ditempatkan dalam ruang sempit di atas kapal. Mereka diperlakukan tidak manusiawi.

“Kami dimasukkan ke dalam semacam kamp konsentrasi yang menampung lebih dari 180 peserta,” jelasnya.

Kira-kira, selama dua hari mereka ditahan di atas kapal. Tanpa akses komunikasi maupun bantuan hukum. Selama itu pula, mereka hanya diberi makan roti. “Kami hanya diberi roti dalam plastik sampah,” katanya.

Ditembak, Dipukul, dan Diinjak

Momen paling berat, saat kekerasan fisik terjadi. Beberapa rekan Helmi ditembak, dipukul, ditendang.

"Saya sendiri ditendang dan dipukul,” ungkapnya.

Tubuh Helmi dihempaskan ke tanah. Saat itu terasa, Sepatu lars tentara mendarat di tubuhnya. “Saya dipaksa berbaring dengan tangan di belakang kepala, lalu dipijak,” katanya. 

Pengalaman pahit itu tak membuat komitmen Helmi untuk terlibat dalam misi kemanusiaan menjadi luntur. Ini bentuk partisipasinya yang kedua setelah mengikuti misi serupa pada 2025.

“Jika diberi kesempatan, saya akan terus ikut serta. Saya akan terus berjuang membantu Gaza,” ujarnya.

Helmi menilai misi tersebut merupakan bagian dari upaya kemanusiaan yang lebih besar. “Kami percaya ini adalah bagian dari perjuangan untuk membebaskan Palestina, termasuk Al-Aqsa,” katanya.