Tangis WNI Usai Ditahan Tentara Israel: Kami Diperlakukan Seperti Hewan

Hal menyedihkan dialami sembilan WNI yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla, saat ditahan oleh tentara Israel.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 18:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Sembilan WNI misi kemanusiaan Gaza diduga disiksa tentara Israel di laut.
  • Relawan Herman Budiyanto bersaksi disiksa 4 hari, alami luka berat dan pelecehan.
  • Perlakuan keji termasuk patah tulang, pelecehan seksual, dan kondisi tidak manusiawi.

Liputan6.com, Jakarta - Misi kemanusiaan yang bertujuan mengirimkan bantuan ke Gaza justru berujung dugaan penyiksaan oleh tentara Israel. Hal itu dialami sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla.

Mereka sebelumnya berlayar membawa bahan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya menuju Gaza sebelum akhirnya ditangkap saat masih berada di tengah laut.

Salah satu aktivis kemanusiaan, Herman Budiyanto, mengungkapkan pengalaman yang dialaminya selama penahanan oleh tentara Israel.

"Kami menyampaikan bahwa memang penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IOF itu nyata. Sangat keji, sangat brutal. Dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang, sekitar 4 hari melakukan penyiksaan-penyiksaan itu," tutur Herman kepada awak media di terminal kedatangan internasional Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026).

Herman mengatakan, dampak dari penyiksaan tersebut membuat banyak relawan mengalami luka berat. Relawan dari berbagai negara disebut turut menjadi korban kekerasan, mulai dari patah tulang rusuk, patah tangan, patah kaki, hingga patah hidung.

 

Ada Dugaan Pelecehan Seksual

Ia juga mengaku melihat ada relawan yang terkena tembakan. Selain itu, menurutnya, terjadi pula dugaan pelecehan seksual terhadap relawan laki-laki maupun perempuan.

"Diperlakukan seperti hewan. Yang kami harus berjalan dengan merangkak dengan lutut kami, kami harus berjalan dengan selalu menunduk tidak boleh menatap mereka. Dan pun tidur di lantai yang tidak ada selimut, tidak ada," ujar Herman.

Meski mengalami perlakuan tersebut, Herman menilai penderitaan yang dialami dirinya dan relawan lain belum sebanding dengan yang dialami rakyat Palestina selama bertahun-tahun.

"Bahwa saudara kita yang di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan kami. Kami ini hanya debu-debu yang beterbangan, yang tentu tidak tidak patut untuk berbangga. Tidak patut untuk menjadi orang yang merasa penting," ujarnya sembari menangis, sebelum kemudian dikuatkan oleh Duta Besar Palestina, Abdalfatah A.K. Alsattari.

Herman berharap penyiksaan terhadap rakyat Palestina dapat segera berakhir. Ia juga berharap ribuan warga Palestina yang masih berada dalam tahanan dapat segera dibebaskan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6