Cara Membuat Kolam Lele di Bawah Kandang Ayam, Solusi Budidaya Hemat Tempat

Cara membuat kolam lele di bawah kandang ayam, sistem longyam mengintegrasikan peternakan ayam dan lele untuk efisiensi.

Diterbitkan 06 September 2026, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cara membuat kolam lele di bawah kandang ayam bisa menjadi pilihan bagi kamu yang ingin memanfaatkan lahan secara lebih efisien. Konsep ini menggabungkan peternakan ayam dan budidaya lele dalam satu area, sehingga ruang yang tersedia dapat digunakan untuk dua kegiatan sekaligus.

Sebelum mulai membuatnya, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, mulai dari menentukan ukuran kolam, memilih material, hingga membangun kandang yang kokoh. Cara membuat kolam lele di bawah kandang ayam juga perlu memperhatikan jarak kandang dengan permukaan air agar kolam tetap mudah dirawat.

Selain konstruksi, kualitas air dan pengelolaan limbah ayam juga tidak boleh diabaikan. Dengan memahami cara membuat kolam lele di bawah kandang ayam yang tepat, sistem longyam dapat diterapkan secara lebih aman, teratur, dan tetap memperhatikan kondisi ikan serta lingkungan.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang cara membuat kolam lele di bawah kandang ayam, Rabu (2/9/2026).

1. Tentukan Lokasi dan Ukuran Kolam

Langkah pertama adalah memilih lokasi yang cukup luas, memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik, serta mudah mendapatkan sumber air. Pastikan area tersebut juga mudah dijangkau saat pemberian pakan, penggantian air, maupun proses panen. Posisi kolam sebaiknya tidak berada di tempat yang mudah tergenang agar konstruksinya tetap aman saat musim hujan.

Ukuran kolam perlu disesuaikan dengan jumlah lele yang akan dibudidayakan. Sebagai gambaran, kolam berukuran 2 x 4 meter dapat digunakan untuk menampung sekitar 1.000 bibit lele, tetapi kepadatan tetap perlu disesuaikan dengan sistem aerasi dan kemampuan pengelolaan air. Jangan terlalu memaksakan jumlah ikan karena kepadatan berlebih dapat membuat kualitas air lebih cepat menurun.

2. Pilih Jenis Kolam yang Sesuai

Setelah menentukan lokasi, pilih jenis kolam yang paling sesuai dengan kondisi lahan dan anggaran. Kolam terpal menjadi pilihan praktis untuk lahan terbatas karena pemasangannya relatif mudah, biaya pembuatannya lebih terjangkau, dan kondisi air lebih mudah dikontrol. Jenis ini juga dapat dibongkar atau dipindahkan apabila diperlukan.

Kolam beton memiliki konstruksi yang lebih kuat dan umur penggunaan yang panjang, tetapi membutuhkan biaya serta proses pembangunan yang lebih besar. Sementara itu, kolam tanah cenderung lebih murah dibuat, tetapi lebih sulit dalam mengontrol kebocoran dan kondisi air. Apa pun jenisnya, pastikan kolam cukup kuat untuk menahan volume air dan mudah dibersihkan.

3. Bangun Kandang Ayam di Atas Kolam

Setelah kolam ditentukan, buat struktur kandang ayam di atasnya menggunakan material yang kuat, seperti kayu, bambu, besi hollow, atau kombinasi beberapa bahan. Ketinggian kandang dapat disesuaikan agar terdapat ruang yang cukup untuk merawat kolam dan memudahkan aktivitas peternak. Struktur penyangga juga harus kokoh supaya tidak mudah bergeser atau roboh.

Lantai kandang sebaiknya dirancang agar kotoran ayam mudah dikumpulkan dan dikelola. Hindari membuat kotoran ayam jatuh langsung ke kolam, terutama dalam jumlah banyak. Gunakan wadah atau sistem penampungan limbah sehingga kotoran dapat diproses terlebih dahulu dan tidak langsung meningkatkan beban organik maupun risiko pencemaran air.

4. Siapkan Kolam Sebelum Diisi Benih

Kolam yang baru selesai dibuat tidak sebaiknya langsung digunakan untuk menebar benih. Isi kolam dengan air dan endapkan sekitar satu hari untuk membantu mengurangi sisa zat atau bau yang mungkin berasal dari material baru, seperti semen atau terpal. Setelah itu, air dapat dibuang dan dinding kolam dibersihkan menggunakan sikat atau bahan alami yang aman.

Hindari penggunaan sabun maupun deterjen saat membersihkan kolam karena residunya dapat mengganggu kondisi air. Setelah selesai dibersihkan, isi kembali kolam menggunakan air bersih. Pastikan tidak ada sisa bahan kimia, kotoran, atau material lain yang berpotensi membahayakan ikan sebelum masuk ke tahap berikutnya.

5. Kondisikan Air dan Pasang Aerasi

Kualitas air menjadi salah satu faktor penting dalam budidaya lele. Sebelum penebaran benih, pastikan kondisi air sudah stabil dan kolam dilengkapi aerator untuk membantu menjaga ketersediaan oksigen. Mikroorganisme dan plankton dapat berkembang secara alami dalam air, tetapi warna air saja tidak cukup untuk memastikan bahwa kondisinya sudah ideal bagi lele.

Aerator sebaiknya dinyalakan secara rutin, terutama pada kolam dengan kepadatan ikan yang cukup tinggi. Kondisi air juga perlu dipantau secara berkala, termasuk bau, warna, dan perilaku ikan. Jika kualitas air mulai menurun, lakukan penggantian sebagian air secara bertahap, bukan menguras kolam hingga habis, agar perubahan kondisi lingkungan tidak terlalu drastis.

6. Pilih dan Tebar Benih Lele

Gunakan benih lele yang sehat, aktif bergerak, ukurannya relatif seragam, dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Pemilihan benih yang baik dapat membantu mengurangi risiko kematian sekaligus membuat pertumbuhan ikan lebih seragam. Hindari mencampurkan benih dengan ukuran yang terlalu berbeda karena dapat meningkatkan persaingan dan risiko kanibalisme.

Sebelum ditebar, lakukan aklimatisasi agar lele dapat menyesuaikan diri dengan suhu dan kondisi air kolam. Masukkan benih secara perlahan dan hindari langsung menuangkannya dalam jumlah besar. Kepadatan ikan juga harus disesuaikan dengan ukuran kolam, kualitas air, serta kemampuan aerasi agar lele dapat tumbuh dengan baik.

7. Atur Pemberian Pakan dan Pengelolaan Limbah

Lele tetap membutuhkan pakan tambahan berupa pelet dengan kandungan nutrisi yang sesuai. Berikan pakan secukupnya dan sesuaikan jumlahnya dengan ukuran serta jumlah ikan. Pemberian pakan secara berlebihan justru dapat menyisakan makanan di dasar kolam, meningkatkan bahan organik, dan membuat kualitas air lebih cepat menurun.

Pada sistem longyam, kotoran ayam tidak sebaiknya sengaja dijadikan sumber pakan langsung bagi lele. Limbah dari kandang perlu ditampung dan dikelola secara terpisah. Cara ini membantu mengurangi masuknya bakteri patogen, amonia, dan bahan organik berlebih ke dalam air sehingga kondisi kolam lebih mudah dikendalikan.

8. Lakukan Pemeliharaan Secara Rutin

Selama masa pemeliharaan, perhatikan perilaku ikan, kondisi air, kebersihan kolam, serta sistem aerasi. Lele yang terlihat lemas, sering muncul ke permukaan, atau mengalami perubahan perilaku perlu segera diperiksa karena bisa menjadi tanda adanya masalah pada kualitas air. Penyortiran juga dapat dilakukan secara berkala untuk memisahkan ikan berdasarkan ukuran sekaligus mengurangi risiko kanibalisme.

Kondisi kandang ayam juga perlu diperiksa secara rutin agar limbah tidak masuk ke kolam secara berlebihan. Jika kualitas air mulai menurun, lakukan penggantian sebagian air dan periksa kembali sistem aerasi. Pengelolaan limbah yang baik menjadi bagian penting dalam sistem longyam agar kegiatan peternakan dan perikanan dapat berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.

9. Panen Lele dan Kelola Sistem Secara Berkelanjutan

Lele umumnya dapat dipanen setelah sekitar 2–3 bulan, tergantung ukuran benih, pakan, kepadatan, serta kondisi pemeliharaan. Sebelum panen, ikan dapat dipuasakan sementara agar proses penangkapan lebih mudah dan jumlah sisa pakan dalam saluran pencernaan maupun air kolam dapat dikurangi.

Setelah seluruh lele dipanen, kolam perlu dibersihkan dan diperiksa sebelum digunakan kembali untuk siklus berikutnya. Evaluasi juga perlu dilakukan terhadap jumlah ayam, kepadatan lele, kualitas air, sistem aerasi, serta pengelolaan kotoran. Dengan pengelolaan yang tepat, konsep longyam dapat membantu memanfaatkan lahan secara efisien sekaligus tetap memperhatikan kesehatan ikan, ayam, dan lingkungan.

Pertanyaan Seputar Cara Membuat Kolam Lele di Bawah Kandang Ayam

Apa yang perlu diperhatikan saat membuat kolam lele di bawah kandang ayam?

Pastikan lokasi memiliki akses air yang mudah, sirkulasi udara yang baik, serta ruang yang cukup untuk merawat kolam dan kandang. Struktur kandang juga harus kokoh dan limbah ayam sebaiknya dikelola agar tidak langsung masuk ke kolam.

Jenis kolam apa yang cocok untuk sistem longyam?

Kolam terpal bisa menjadi pilihan praktis untuk lahan terbatas karena mudah dibuat dan kondisi air lebih mudah dikontrol. Kolam beton juga dapat digunakan jika menginginkan konstruksi yang lebih kuat dan tahan lama.

Apakah kotoran ayam boleh langsung jatuh ke kolam lele?

Sebaiknya tidak. Kotoran ayam segar dapat membawa bakteri patogen serta meningkatkan kandungan bahan organik dan amonia dalam air. Lebih aman jika kotoran ditampung dan dikelola secara terpisah.

Bagaimana cara menjaga kualitas air kolam lele?

Gunakan aerator untuk membantu menjaga kadar oksigen dan pantau kondisi air secara rutin. Jika kualitas air menurun, lakukan penggantian sebagian air secara bertahap tanpa menguras seluruh kolam.

Berapa lama lele dapat dipanen?

Lele umumnya dapat dipanen sekitar 2–3 bulan setelah ditebar, tetapi waktunya dapat berbeda tergantung ukuran benih, pemberian pakan, kepadatan ikan, dan kondisi pemeliharaan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6