Bekas Borgol di Tangan Andre Jadi Saksi Misi Kemanusiaan ke Gaza

Andre bersama aktivis Global Sumud Flotilla lainnya dibawa ke kapal penjara milik tentara Israel.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 19:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suasana haru dan senang menyelimuti Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Tempat yang biasanya hanya dipadati lalu lalang pengunjung atau penumpang itu tampal berbeda hari ini, menyusul kedatangan sembilan WNI yang sempat diculik tentara Israel dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla.

Di tengah penyambutan yang hangat dari keluarga dan kerabat, ada cerita tak terlupakan yang dialami WNI selama ditahan. Salah satunya Andre, seorang jurnalis Tempo yang turut bergabung dalam misi kemanusiaan tersebut. Nahas, kapal yang ditumpanginya menuju Palestina diintersepsi oleh tentara Israel di tengah perjalanan.

Andre bersama aktivis lainnya dibawa ke kapal penjara milik tentara Israel. Di tempat itulah, ia mengaku mengalami banyak penyiksaan.

"Saya disitu dimasukin ke kapal penjara, bukan kapal penjara besar. Terus abis itu saya mengalami banyak penyiksaan," ungkap Andre kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).

Kepada wartawan, Andre menunjukan bekas luka yang masih membekas di pergelangan tangan. Bekas tersebut yang menjadi bukti kekerasan yang dialaminya selama ditangkap oleh tentara Israel. Tangannya diikat dengan kabel ties, hingga diborgol secara paksa bersama para aktivis lainnya.

Penyiksaan yang alami aktivis tak berhenti sampai situ. Andre menuturkan, sejumlah aktivis yang berasal dari Eropa menjadi korban penembakan peluru oleh tentara Israel hanya untuk dibangunkan setiap pagi.

Sementara itu, Andre mengaku melakukan mogok makan (hunger strike) selama tiga hari sebagai bentuk protes. Namun, sebelum dipindahkan ke Penjara Ashdod bersama para aktivis lainnya, Andre mulai sedikit makan dan minum untuk memulihkan kondisinya saat di penjara.

"Sebelum saya dilempar ke Ashdod saya makan sedikit dan minum sedikit," ungkapnya.

 

Bahasa Jadi Tantangan

Keterbatasan bahasa menjadi salah satu tantangan yang dirasakan Andre. Meski tak membuka komunikasi dengan mereka, Andre mengaku sempat diminta menandatangani sebuah dokumen.

Namun, karena tidak bisa bahasa Hebrew, ia pun enggan melakukannya. Sebelum pelayaran dimulai, Andre dan para aktivis lainnya telah dibriefing oleh Adalah Lawyer selaku penasehat hukum.

Meski sempat diculik dan mendekam di penjara, hal itu tidak membuat semangatnya surut. Ia justru semakin terdorong untuk terus menyuarakan kemerdekaan Palestina dari penjajahan zionis Israel.

Dengan semangat yang menggebu-gebu, Andre menitipkan pesan kepada pemerintah Republik Indonesia untuk terus berada di jalan perjuangan. Ia berharap, Indonesia terus konsisten menyuarakan kemerdekaan Palestina di tengah konflik yang tak kunjung mereda.

"Yang saya bakal kasih lihat kepada dunia adalah bahwa penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap bangsa Palestina, terhadap negara Palestina itu masih terjadi hingga hari ini," ujar Andre.

Bagi Andre, perjalanan tersebut bukanlah pelayaran laut biasa. Di atas laut internasional, mereka membawa satu tujuan dan harapan, menembus blokade yang terjadi selama bertahun-tahun. Menurutnya, tak ada siapapun yang bisa menghadang misi kemanusiaan tersebut. Apalagi dilakukan di laut internasional, sehingga Israel tak memiliki hak untuk menghalanginya.

“Apa salahnya kami berlayar di lautan internasional, yang tidak ada satu negara pun berhak mengklaimnya,” ungkapnya.

 

Jadi Semangat Perjuangan

Ia berharap, perjuangan yang dilakukan para aktivis lainnya bisa menjadi pemicu bagi masyarakat Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

"Karena masih ada 9.000 warga Palestina yang berdarah-darah, tersiksa hingga meninggal. Anak, ibu, dan perempuan itu masih selalu mendapatkan penderitaan. Mereka kelaparan dan tanah mereka sedikit demi sedikit dijajah oleh Zionis Israel seperti itu," jelas dia.

Andre pulang bersama delapan WNI lainnya dari Turkiye. Mereka adalah Thoudy Badai, Bambang Noroyono, Rahendro Herubowo, Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Hendro Prasetyo, dan Asad Aras Muhammad.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6