Cerita 5 Hari Heru di Penjara Israel: Ditelanjangi, Disetrum, Diteror Granat

Di balik sambutan hangat saat kepulangan, ada luka tak terlupakan yang dialami Heru selama ditahan oleh tentara Israel.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 20:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta terlihat berbeda dari biasanya pada Minggu (24/5/2026) sore. Tampak sejumlah keluarga, kerabat, hingga relawan menyambut sembilan WNI yang sempat ditangkap Israel ketika menjalani misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla, salah satunya Rahendro Herubowo alias Heru.

Senyum lega dan haru pecah saat para relawan tiba dari pintu kedatangan internasional. Mereka disambut dengan kemeriahan sebagai rasa syukur bisa kembali ke tanah air dengan selamat.

Namun, dibalik sambutan hangat, ada luka dan pengalaman yang tak akan pernah dilupakan oleh Heru dan yang lainnya. Dia bersama aktivis GSF diculik secara paksa oleh tentara Israel di laut mediterania timur.

Kala itu, mereka sedang berlayar menuju Palestina dengan membawa kebutuhan makanan maupun obat-obatan untuk warga Gaza, hingga kemudian diblokade oleh Israel.

Di sana, Heru mengalami langsung kekerasan yang selama ini hanya ia dengar. Di ruang sempit dengan puluhan relawan lainnya, Heru harus bertahan di suhu dingin dengan pakaian seadanya.

"Tidur saja sulit dan kondisi suhu di atas kapal itu kan dingin. Kita ditelanjangin semua yang di badan kita itu, ada boleh pakai kaos dalam yang tipis banget," ungkap Heru kepada wartawan.

Heru masih ingat betul momen saat pertama kali dirinya ditangkap. Ia diminta tentara Israel tidur telungkup menghadap ke bawah.

Dalam posisi tersebut, bukan tangan yang menopang tubuhnya, melainkan kepala agar tubuhnya tidak jatuh.

"Air ngalir di kapal itu sengaja kita dibikin basah," jelas dia.

Tentara Israel pun mengambil seluruh paspor para relawan GSF yang diculik. Heru menuturkan, mereka dimasukan di sebuah ruangan eksekusi sebelum bertemu rombongan lainnya.

Kepala dan badan dipukul, diinjak ketika jatuh, bahkan disetrum, menjadi bagian dari tindakan keji tentara Israel kepada Heru dan aktivis lainnya. Ia harus berteriak sekencang mungkin supaya setruman tersebut dapat lepas dari tubuhnya.

 

Siksaan 5 Hari

Selama di penjara, kekerasan bukan hanya dilakukam secara fisik, tapi juga tekanan psikologis yang datang tanpa henti. Para aktivis, kata Heru, sengaja dibuat tidak nyaman selama di penjara. Beberapa momen seperti saat ingin makan, mereka kerap kali harus berhadapan dengan granat.

"Selain penyiksaan fisik juga psychological treatment-lah bisa saya bilang seperti itu. Jadi kita dibikin nggak nyaman, kita diteror terus," tandasnya.

Sama seperti Andre dan yang lainnya, Heru pun mogok makan. Itupun hanya disediakan roti dan air yang sangat terbatas. Namun, kondisi yang menurun membuat Heru terpaksa harus makan.

Menjelang dipindahkan ke kantor imigrasi, kekerasan terhadap Heru dan aktivis GSF tak kunjung usai. Heru menceritakan saat dirinya bersama yang lain dijemur di bawah teriknya matahari.

Tepat pukul 12.00, mereka dijemur berjam-jam sambil mendengar lagu-lagu Israel yang diputar tanpa henti. Menurut Heru, momen ini menjadi salah satu situasi paling menguras tenaga.

Kemudian, para aktivis dibawa ke kantor imigrasi. Namun nyatanya, perlakuan kasar belum benar-benar selesai. Mereka kembali diminta telungkup hingga dua jam sambil menunggu antrean.

"Bangun sedikit di-apa diteriakin sama mereka, 'Head down! Head down!," tuturnya.

Heru menjadi salah satu orang yang paling lama diculik oleh tentara Israel. Ia mendekam dan mendapat siksaan selama lima hari.

Meski begitu, Heru menegaskan dirinya tidak kapok untuk terus menyuarakan kemerdekaan Palestina. Baginya, penderitaan yang dirasakan rakyat Palestina jauh lebih menyakitkan. Momen ini juga menguatkan bahwa Israel masih terus melakukan penjajahan di tanah Palestina.

"Enggak kapok karena apa yang kita alami ini jauh lebih ringan daripada penderitaan rakyat Gaza di Palestina," kata Heru.

Kini, Heru bersama delapan orang lainnya kembali menginjakkan kaki di Indonesia dengan selamat. Meski begitu, kondisi kesehatan masih menjadi perhatian utama baginya.

Dia mengaku berencana medical check up untuk memastikan tubuhnya baik-baik, setelah mengalami kekerasan yang dialaminya selama di penjara.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6