Trump Luncurkan Project Freedom untuk Bebaskan Kapal yang Terjebak di Selat Hormuz

Di bawah CENTCOM, AS mengerahkan belasan ribu personel militer untuk mendukung misi ini.

Diterbitkan 05 Mei 2026, 10:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat (AS) meluncurkan operasi militer yang digagas oleh Donald Trump untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz bagi ratusan kapal yang terjebak bersama awaknya di kawasan Teluk. Langkah ini kembali membawa kawasan tersebut ke ambang konflik berskala penuh, seiring Iran berupaya menegaskan kembali blokade yang diberlakukannya.

Operasi AS, yang dimulai pada Senin (4/5/2026) setelah diumumkan sebagai "Project Freedom" oleh Trump pada Minggu (3/5) malam melalui media sosialnya, secara drastis meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya berada dalam situasi tidak menentu selama sebulan terakhir.

Berbicara beberapa jam setelah operasi dimulai, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper seperti dikutip dari laporan The Guardian mengklaim bahwa pasukan AS telah menghancurkan enam kapal kecil milik Iran serta mencegat rudal jelajah dan drone Iran. Ia juga "sangat menyarankan" agar pasukan Iran menjauh dari aset militer AS di kawasan tersebut, yang mencakup kapal perusak berpemandu rudal, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, drone, serta 15.000 personel militer.

Iran dengan cepat membantah klaim AS. Dalam serangkaian klaim dan bantahan sepanjang hari, Iran menolak pernyataan CENTCOM bahwa dua kapal dagang berbendera AS telah berhasil melintasi selat tersebut. Sementara itu, kapal perusak berpemandu rudal Angkatan Laut AS dilaporkan bergerak ke arah berlawanan, menuju barat, dan mulai melakukan patroli di kawasan Teluk.

Pada Senin malam, perusahaan pelayaran kontainer Maersk menyatakan bahwa kapal pengangkut kendaraan berbendera AS, Alliance Fairfax, telah keluar dari Teluk melalui selat tersebut dengan pengawalan aset militer AS.

Dalam konferensi pers saat situasi semakin tidak stabil dan berbahaya, Trump meremehkan ketegangan dengan mengatakan bahwa Iran telah melepas beberapa tembakan namun tidak menimbulkan kerusakan berarti, selain kerusakan pada sebuah kapal kargo Korea Selatan yang melaporkan adanya ledakan dan kebakaran yang belum diketahui penyebabnya.

"Selain kapal Korea Selatan itu, hingga saat ini tidak ada kerusakan dalam pelayaran melalui selat tersebut," ujar Trump melalui platform Truth Social, di tengah lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan.

Namun, dalam wawancara pada Senin, presiden AS tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi baru. Trump mengatakan kepada Fox News bahwa Iran akan "dihancurkan dari muka Bumi" jika menyerang kapal-kapal AS yang menjalankan Project Freedom, sekaligus mengklaim rezim Iran kini menjadi "jauh lebih fleksibel" dalam perundingan damai.

Di pihak lain, Iran—yang sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap kapal Angkatan Laut AS yang mendekati selat akan ditembaki—mengklaim telah mengenai sebuah fregat AS di kawasan tersebut dengan dua rudal.

Pada Minggu malam, setelah pengumuman Trump, sebuah kapal tanker melaporkan terkena "proyektil tak dikenal". Uni Emirat Arab (UEA) kemudian menyatakan bahwa kapal tanker minyak MV Barakah yang dioperasikan oleh Abu Dhabi National Oil Company telah menjadi sasaran serangan drone Iran di lepas pantai Oman. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Kementerian Pertahanan UEA menyebutkan bahwa pihaknya berhasil mencegat tiga rudal yang ditembakkan dari Iran di atas wilayah udara teritorialnya, sementara satu rudal lainnya jatuh ke laut.

 

Banyak Kapal Terjebak

 

Lebih dari 850 kapal diperkirakan terjebak di kawasan Teluk sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian memberlakukan blokade terhadap pelayaran asing melalui Selat Hormuz dan Trump merespons dengan blokade balasan terhadap kapal yang menggunakan pelabuhan Iran pada 13 April.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan dan diumumkan oleh Trump pada awal April menghentikan permusuhan, tetapi gagal membuka kembali jalur selat tersebut.

Sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di kapal tanker, kapal curah, kapal kontainer, dan berbagai kapal lainnya, sehingga memunculkan kekhawatiran serius terkait keselamatan mereka. Operasi AS yang diluncurkan tidak melibatkan pengawalan militer, melainkan bertujuan menyediakan koordinasi dan panduan bagi kapal komersial melalui rute selatan di selat tersebut, yang sebagian besar berada di wilayah perairan Oman.

Para eksekutif perusahaan pelayaran menanggapi langkah ini dengan hati-hati, mengingat ketidakpastian mengenai efektivitasnya. Richard Hext, Ketua Vanmar Shipping dan Asosiasi Pemilik Kapal Hong Kong, menekankan Iran sebelumnya telah menyatakan bahwa pelayaran tanpa persetujuan melalui selat akan dianggap sebagai "pelanggaran terhadap gencatan senjata" yang disepakati bulan lalu.

"Dalam kondisi seperti ini, kita harus berhati-hati," ujar Hext kepada CNN.

Respons internasional juga cenderung berhati-hati. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa satu-satunya cara membuka kembali Selat Hormuz adalah melalui pembukaan yang terkoordinasi antara AS dan Iran. Macron, yang berbicara dalam pertemuan para pemimpin Eropa di Armenia, menambahkan, "Kami tidak akan ikut serta dalam operasi militer dalam kerangka yang bagi saya masih belum jelas."

Dalam pengumumannya di Truth Social, Trump mengaku bahwa AS telah diminta oleh berbagai negara untuk membantu mengeluarkan kapal-kapal mereka dari selat tersebut dan akan menggunakan upaya terbaik untuk melakukannya. Tanpa memberikan rincian teknis, ia menggambarkan langkah ini sebagai tindakan kemanusiaan "atas nama AS, negara-negara Timur Tengah, dan khususnya Iran".

"Saya telah memerintahkan perwakilan saya untuk memberi tahu mereka bahwa kami akan menggunakan upaya terbaik untuk mengeluarkan kapal dan awak mereka dengan aman dari selat. Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak akan kembali hingga kawasan tersebut aman untuk pelayaran, dan hal-hal lainnya," kata Trump.

Ia menambahkan, "Jika dalam proses kemanusiaan ini terjadi gangguan maka gangguan tersebut, sayangnya, harus ditangani dengan tegas."

 

Peringatan Iran

Pada Senin pagi, organisasi militer pimpinan AS Joint Maritime Information Center (JMIC) menyatakan bahwa AS telah menetapkan "zona keamanan yang ditingkatkan" di selatan jalur pelayaran sebelum perang di selat tersebut. Jalur ini akan membawa kapal melalui wilayah perairan Oman dan karena diperkirakan akan terjadi kepadatan lalu lintas tinggi, operator kapal diminta berkoordinasi dengan otoritas Oman melalui radio.

Kapal-kapal disarankan untuk menghindari jalur pelayaran utama yang biasa digunakan karena dianggap sangat berbahaya akibat keberadaan ranjau yang belum sepenuhnya dipetakan dan dinetralisir.

Sementara itu, komando militer Iran menegaskan bahwa kapal yang melintas harus berkoordinasi dengan mereka.

"Kami akan mengelola keamanan Selat Hormuz dengan seluruh kekuatan dan menginformasikan kepada semua kapal dagang dan tanker untuk tidak mencoba melintas tanpa koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran yang ditempatkan di Selat Hormuz agar tidak membahayakan keamanan mereka," ujar Mayor Jenderal Ali Abdollahi seperti dilaporkan kantor berita Mehr.

Sebelumnya, Abdollahi menyatakan bahwa Iran akan menyerang setiap kekuatan bersenjata asing yang mencoba mendekati atau memasuki selat tersebut, terutama tentara AS yang agresif.