26 Juni 1974: Bunyi Bip yang Mengubah Dunia Perdagangan Selamanya

Kini barcode dapat ditemukan pada hampir setiap produk. Penggunaannya secara komersial berawal dari satu momen bersejarah.

Diterbitkan 26 Juni 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 26 Juni 1974 menjadi salah satu tonggak paling penting dalam sejarah perdagangan modern. Menurut IBM, pada pagi hari itu sebuah bungkus permen karet Wrigley's Juicy Fruit seharga 67 sen menjadi produk pertama di dunia yang dipindai menggunakan Universal Product Code (UPC) di kasir sebuah supermarket. Peristiwa yang berlangsung hanya dalam hitungan detik itu kemudian mengubah cara miliaran transaksi dilakukan setiap hari di seluruh dunia.

Smithsonian Magazine melaporkan, peristiwa bersejarah tersebut terjadi sesaat setelah pukul 08.00, tepatnya sekitar 08.01 waktu setempat, di Marsh Supermarket, Kota Troy, Negara Bagian Ohio, Amerika Serikat (AS). Ketika kasir mengarahkan kemasan permen ke atas pemindai laser, terdengar bunyi "bip" yang kini menjadi suara paling akrab di pusat-pusat perbelanjaan modern. Bunyi sederhana itu menandai dimulainya era baru otomatisasi perdagangan.

Di balik momen tersebut tersimpan perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade. History.com menjelaskan, gagasan mengenai barcode pertama kali lahir pada 1949 ketika penemu Norman Joseph Woodland menggambar pola garis di pasir pantai sebagai pengembangan dari kode Morse. Bersama Bernard Silver, ia kemudian memperoleh paten pada 1952. Namun, keterbatasan teknologi pada masa itu membuat sistem tersebut belum dapat diterapkan secara komersial. Baru setelah perkembangan teknologi laser dan komputer pada dekade 1960-an, barcode mulai memungkinkan digunakan di dunia nyata.

Meski Woodland menjadi pencetus konsep barcode, desain yang akhirnya digunakan secara luas merupakan hasil penyempurnaan insinyur IBM, George Laurer. Menurut IBM, industri sempat mempertimbangkan desain berbentuk lingkaran (bull's-eye), tetapi model tersebut mudah mengalami distorsi saat dicetak. Laurer kemudian mengembangkan pola garis vertikal berbentuk persegi panjang yang lebih mudah diproduksi dan dibaca mesin. Pada 1973, desain tersebut resmi dipilih sebagai standar Universal Product Code (UPC) untuk industri ritel AS.

Smithsonian Institution mencatat, pemindaian perdana dilakukan menggunakan sistem kasir komputer buatan National Cash Register (NCR) yang dipadukan dengan pemindai laser Spectra-Physics Model A. Menariknya, produk pertama yang dipilih bukanlah kebetulan. Permen karet dipilih karena banyak pihak meragukan barcode dapat dicetak dengan jelas pada kemasan sekecil itu. Keberhasilan pemindaian tersebut sekaligus membuktikan barcode dapat diterapkan pada produk berukuran kecil.

Sempat Ada Penolakan

Walaupun kini barcode dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, teknologi tersebut sempat menghadapi penolakan. Sebagian konsumen meragukan keakuratan harga yang dibaca mesin, sementara kelompok lain khawatir barcode akan menjadi alat pengawasan terhadap perilaku belanja masyarakat. Di sisi lain, banyak pelaku usaha juga menilai investasi perangkat pemindai dan pelabelan produk terlalu mahal. Namun, seiring waktu manfaat teknologi ini terbukti jauh melampaui biaya implementasinya.

Keuntungan barcode segera terasa. Proses pembayaran menjadi jauh lebih cepat, kesalahan pencatatan harga berkurang drastis, dan toko dapat memantau stok barang secara real time. Data penjualan yang sebelumnya dicatat secara manual berubah menjadi informasi digital yang dapat dianalisis untuk mengelola persediaan, memprediksi permintaan pasar, hingga meningkatkan efisiensi rantai pasok. IBM menyebut penerapan UPC mampu mempercepat proses pembayaran di kasir sekitar 40 persen dibandingkan metode manual.

Lima dekade kemudian, warisan dari pemindaian pertama itu terus berkembang. Barcode tidak lagi hanya digunakan di supermarket, tetapi juga menjadi tulang punggung berbagai sektor, mulai dari logistik, manufaktur, layanan kesehatan, penerbangan, perpustakaan, hingga perdagangan elektronik. Datalogic mencatat, teknologi barcode satu dimensi kini telah berevolusi menjadi QR Code, Data Matrix, hingga sistem identifikasi digital yang mampu menyimpan informasi jauh lebih kompleks.

Sebungkus Wrigley's Juicy Fruit yang menjadi saksi sejarah tersebut kini diabadikan sebagai koleksi di National Museum of American History, bagian dari Smithsonian Institution. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa sebuah inovasi sederhana—yang diawali oleh bunyi "bip" di sebuah supermarket kecil di Ohio—telah mengubah wajah perdagangan global dan menjadi fondasi sistem ritel modern yang digunakan hingga hari ini.