Kedubes Iran Kecam Serangan yang Tewaskan Ratusan Siswi Sekolah di Minab

Pemerintah Iran menyebut, serangan ke fasilitas pendidikan dan kawasan sipil tidak sejalan dengan prinsip kemanusiaan maupun norma hukum internasional.

Diterbitkan 15 Maret 2026, 13:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyampaikan kecaman keras atas serangan yang menewaskan ratusan anak sekolah di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan Sabtu (14/3/2026), Kedutaan Besar Iran menyebut sedikitnya 175 siswi sekolah dasar meninggal dunia dan lebih dari 95 anak lainnya mengalami luka-luka.

Menurut pernyataan tersebut, para korban merupakan siswi dari Sekolah Dasar “Shajareh Tayyebeh” yang saat kejadian tengah mengikuti kegiatan belajar di kelas. Kedutaan Besar Iran menyebut insiden itu terjadi akibat serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran.

“Anak-anak yang hadir di sekolah untuk belajar dan membangun masa depan mereka justru menjadi korban kekerasan akibat serangan rudal,” demikian pernyataan Kedutaan Besar Iran yang diterima Liputan6.com pada Minggu (15/3).

Pemerintah Iran menilai serangan terhadap fasilitas pendidikan dan kawasan sipil tidak sejalan dengan prinsip kemanusiaan maupun norma hukum internasional. Dalam pernyataannya, Kedutaan Besar Iran menegaskan bahwa warga sipil—terutama anak-anak—serta fasilitas pendidikan seharusnya mendapat perlindungan penuh dalam situasi konflik bersenjata.

Menurut Iran, insiden tersebut juga terjadi ketika pemerintahnya tengah menempuh jalur diplomasi dan dialog untuk meredakan ketegangan kawasan. Dalam kondisi tersebut, serangan terhadap wilayah Iran dinilai sebagai tindakan yang tidak hanya menyentuh isu kedaulatan negara, tetapi juga berdampak pada upaya penyelesaian sengketa secara damai di tingkat internasional.

Kedutaan Besar Iran menilai serangan terhadap sekolah dasar tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional, termasuk ketentuan dalam Konvensi Jenewa yang mengatur perlindungan terhadap warga sipil dalam konflik bersenjata.

Dalam pernyataannya, Iran juga menyinggung sejumlah peristiwa dalam sejarah yang menimbulkan korban sipil, termasuk insiden penembakan pesawat penumpang Iran pada 1988 oleh kapal perang Amerika Serikat yang menewaskan 290 orang, termasuk anak-anak.

 

Dampak Konflik Lain

Selain itu, Kedutaan Besar Iran juga menyoroti dampak konflik di kawasan lain, termasuk korban sipil dalam operasi militer Israel di Jalur Gaza, yang menurut mereka menjadi pengingat pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dalam setiap konflik.

Melalui pernyataan tersebut, Kedutaan Besar Iran juga menyerukan kepada komunitas internasional, organisasi Islam, lembaga hak asasi manusia, serta organisasi perlindungan anak untuk memberikan perhatian serius terhadap insiden tersebut.

“Kami berharap komunitas internasional dapat mengambil langkah untuk mengungkap fakta, mendorong akuntabilitas, serta mencegah terulangnya tragedi serupa,” demikian pernyataan itu.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, Kedutaan Besar Iran di Jakarta juga menggelar acara doa bersama pada Sabtu (14/3) di kediaman Duta Besar Iran. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah anak Indonesia sebagai simbol solidaritas kemanusiaan terhadap para korban.

Kedutaan Besar Iran menyatakan bahwa peringatan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat internasional akan pentingnya perlindungan terhadap anak-anak dalam situasi konflik, serta mendorong upaya bersama untuk menciptakan perdamaian dan keamanan bagi generasi masa depan.