7 Maret 1969: Israel Punya Perdana Menteri Perempuan Pertama

Pada 7 Maret 1969, sejarah tercipta dengan terpilihnya perdana menteri perempuan pertama di tanah Israel

Diterbitkan 07 Maret 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Pada 7 Maret 1969, politik di Israel mencatat sejarah ketika Golda Meir ditunjuk sebagai perdana menteri perempuan pertama negara tersebut. Politikus senior yang dijuluki “wanita besi” itu resmi dicalonkan oleh Partai Buruh Israel setelah meraih dukungan mayoritas dalam pemungutan suara komite pusat di Tel Aviv.

Perempuan berusia 70 tahun itu memperoleh 287 suara dari anggota komite pusat partai. Ia kemudian dijadwalkan secara resmi menggantikan perdana menteri sebelumnya, Levi Eshkol, yang meninggal akibat serangan jantung beberapa hari sebelumnya.

Menanggapi penunjukan tersebut, Meir mengakui tantangan besar yang akan dihadapinya dalam memimpin negara, dikutip dari BBC, Sabtu (6/3/2026).

“Saya telah menghadapi masalah-masalah sulit di masa lalu, tetapi tidak ada yang seperti yang saya hadapi sekarang dalam memimpin negara ini,” ujarnya.

Meir, yang sebelumnya telah pensiun dari dunia politik karena alasan kesehatan, menyatakan komitmennya untuk menjaga persatuan nasional. Ia juga meminta para pejabat yang sebelumnya bekerja bersama Eshkol untuk tetap melanjutkan kerja sama dalam pemerintahan yang baru.

“Saya tidak pernah menolak keputusan partai dan saya tidak akan menolaknya sekarang. Saya telah menghadapi masalah sulit di masa lalu, tetapi tidak ada yang seperti yang saya hadapi sekarang dalam memimpin negara,” kata Meir.

Penunjukan Meir terjadi setelah dua tokoh penting Partai Buruh, yakni pelaksana tugas perdana menteri Yigal Allon dan Menteri Pertahanan Moshe Dayan, memutuskan menunda pencalonan mereka hingga akhir tahun. Keputusan itu menjadikan Meir sebagai satu-satunya kandidat dalam pemilihan internal partai.

Sebelum menjadi perdana menteri, Meir dikenal sebagai diplomat senior yang menjabat Menteri Luar Negeri Israel selama sekitar satu dekade. Latar belakangnya bahkan dimulai sebagai seorang guru sekolah di Amerika Serikat sebelum terjun ke dunia politik.

Pada awalnya, sebagian kalangan menganggap pengangkatannya hanya sebagai solusi sementara untuk menjaga stabilitas politik hingga pemilihan umum yang dijadwalkan pada Oktober 1969. Namun, Meir justru berhasil memenangkan pemilu tersebut dan memperkuat posisinya sebagai pemimpin Israel.

Selama masa pemerintahannya, Meir memimpin melalui koalisi politik yang kompleks dan harus menjaga hubungan kerja dengan Dayan, meski keduanya kerap memiliki perbedaan pandangan.

Kepemimpinannya kemudian mendapat kritik tajam setelah pecahnya Perang Yom Kippur pada 1973 antara Israel dan negara-negara Arab. Meski Israel akhirnya mampu membalikkan keadaan melalui serangan balasan, reputasi Meir terlanjur terdampak.

Ia memang kembali memenangkan pemilihan umum pada 1973, tetapi tekanan politik yang terus meningkat membuatnya mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri pada April 1974. Meir meninggal dunia empat tahun kemudian.