Program Pembekuan Sperma untuk Tentara Ukraina: Upaya Menjaga Masa Depan di Tengah Perang

Perang di Ukraina yang mendekati tahun keempat turut memicu krisis demografi yang kian mengkhawatirkan.

Diterbitkan 18 Februari 2026, 10:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kyiv - Di tengah perang yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, sejumlah tentara Ukraina mulai memikirkan bukan hanya keselamatan mereka di medan tempur, tetapi juga kelangsungan keturunan dan masa depan bangsa.

Maxim (35), seorang prajurit Garda Nasional Ukraina yang bertugas di garis depan wilayah timur, secara terbuka membicarakan keputusannya membekukan sperma. Berbicara melalui sambungan telepon dari posisinya di dekat garis pertempuran, ia mengatakan lebih banyak anggota militer seharusnya memikirkan masalah kesuburan mereka.

"Pria-pria kami sekarat. Kolam genetik Ukraina sedang sekarat. Ini tentang kelangsungan hidup bangsa kami," ujar Maxim seperti dikutip dari BBC.

Saat cuti beberapa waktu lalu, istrinya membujuknya untuk mengunjungi sebuah klinik di Kyiv dan meninggalkan sampel sperma. Sampel tersebut dibekukan tanpa biaya sebagai bagian dari program yang ditujukan untuk membantu tentara aktif.

Jika Maxim gugur, istrinya dapat menggunakan sampel tersebut untuk mencoba memiliki anak yang selama ini mereka impikan. Namun menurutnya, pembekuan sperma tetap penting meskipun ia selamat dari perang.

"Entah Anda berada tepat di 'titik nol' garis depan atau 30 bahkan 80 kilometer di belakangnya, tidak ada jaminan Anda aman," katanya, merujuk pada ancaman drone Rusia yang terus beroperasi di atas kepala mereka. "Itu berarti stres dan ini bisa berdampak pada kemampuan reproduksi. Jadi kami harus memikirkan masa depan dan masa depan bangsa Ukraina."

Program Cryopreservation untuk Tentara

Klinik fertilitas swasta mulai menawarkan prosedur pembekuan sel reproduksi atau cryopreservation kepada prajurit sejak 2022, saat Rusia melancarkan invasi skala penuh. Para tentara pria dan wanita dapat membekukan sperma atau sel telur mereka secara gratis sebagai langkah antisipasi, apabila sewaktu-waktu mereka terluka dalam pertempuran atau mengalami gangguan kesuburan akibat dampak perang. 

Pada tahun berikutnya, parlemen Ukraina mengatur praktik tersebut melalui undang-undang dan menyediakan pendanaan negara.

Anggota parlemen Oksana Dmitrieva, yang membantu menyusun undang-undang itu, menjelaskan tujuan kebijakan tersebut.

"Para tentara kami membela masa depan kami, tetapi mungkin kehilangan masa depan mereka sendiri, jadi kami ingin memberi mereka kesempatan itu," katanya. "Ini untuk mendukung mereka agar mereka bisa menggunakan sperma mereka nanti."

Namun, kebijakan awal sempat memicu kemarahan publik karena mengatur bahwa seluruh sampel harus dimusnahkan jika pendonornya meninggal dunia. Ketentuan itu terungkap ketika seorang janda perang berusaha menggunakan sperma beku suaminya dan ditolak.

Undang-undang tersebut kemudian diamendemen. Kini, seluruh sampel tentara akan disimpan secara gratis hingga tiga tahun setelah kematian dan dapat digunakan oleh pasangan dengan persetujuan tertulis sebelumnya.

 

Krisis Demografi yang Memburuk

Program ini juga menjadi bagian dari upaya mengatasi krisis demografi yang sudah ada sebelum invasi Rusia, namun semakin parah akibat tingginya jumlah pria yang tewas dalam pertempuran, banyak di antaranya masih muda dan dalam kondisi fisik prima.

Selain itu, jutaan warga—terutama perempuan—meninggalkan Ukraina sebagai pengungsi. Empat tahun sejak invasi dimulai, banyak di antara mereka masih berada di luar negeri karena kondisi hidup di Ukraina belum membaik.

Dampak perang terlihat jelas ketika Oksana berbicara di lobi sebuah hotel di Kyiv tanpa melepas mantel karena serangan rudal Rusia yang terus-menerus ke jaringan listrik membuat ribuan bangunan di ibu kota menjadi sangat dingin selama musim dingin.

"Kami memikirkan masa depan dan banyaknya anak muda yang gugur dalam perang ini. Kami perlu menggantikan mereka," bebernya. "Ini adalah satu langkah kecil untuk memperbaiki situasi demografi."

Dalam kunjungannya ke garis depan, Oksana mendorong para tentara untuk berbicara tentang kehidupan seksual dan masalah kesuburan mereka, serta mempertimbangkan pembekuan sperma.

"Awalnya mereka memang merasa malu. Tetapi setelah kami berbicara dan saya mendorong mereka untuk menyampaikan informasi ini kepada rekan-rekannya, akhirnya mereka datang ke klinik dan menjalani prosedurnya," ujarnya. "Kalau ada kesempatan seperti ini, mengapa tidak? Prosedurnya juga tidak menyakitkan."

Harapan dari Klinik Reproduksi

Sejak Januari, Pusat Reproduksi Medis milik negara di Kyiv mulai melayani anggota militer yang ingin mengikuti program pembekuan sperma. Sejauh ini baru sekitar belasan orang yang mendaftar, namun pihak klinik optimistis jumlah itu akan meningkat.

"Kami memperkirakan permintaan besar. Kami punya harapan tinggi," kata Direktur Oksana Holikova saat menunjukkan laboratorium tempat 'biomaterial' dikumpulkan, diproses, dan disimpan.

Di lain sisi, perang berdampak pula pada angka kehamilan. Di koridor klinik yang sunyi, hanya terdengar satu bayi yang baru lahir dan satu perempuan yang sedang dalam proses persalinan. Jumlah pasien hamil di klinik tersebut turun hingga setengah sejak perang skala penuh dimulai.

"Jika perempuan stres, mereka bisa mengalami gangguan siklus menstruasi. Semuanya saling terkait," tutur Holikova. "Sekitar 60 persen pasien saya mengonsumsi antidepresan, termasuk mereka yang mengalami serangan panik karena rudal dan drone."

Ia turut menyinggung fenomena "delayed life syndrome", yaitu kecenderungan menunda keputusan besar dalam hidup, termasuk memiliki anak.

"Perempuan takut untuk hamil jika pada akhirnya mereka harus berlari ke tempat perlindungan bom," ungkap Holikova.

 

Perjuangan Janda Perang

Katerina Malyshko dan suaminya, Vitaly, telah lama mencoba memiliki anak. Katerina meyakini kesulitan mereka untuk hamil secara alami diperburuk oleh perang.

"Semua ini karena stres dan malam-malam tanpa tidur," sebutnya. "Setiap malam seperti berjudi dengan nasib: kita tidak pernah tahu apakah akan bangun keesokan paginya."

Musim dingin lalu, pasangan itu memiliki tiga embrio yang layak di klinik fertilitas dan Katerina dijadwalkan menjalani prosedur transfer embrio ke rahimnya. Namun, Vitaly tewas akibat serangan bom berpemandu langsung.

"Bom itu menghantam langsung, sehingga dia tidak memiliki peluang untuk selamat," kenang Katerina.

Setelah kematian suaminya, klinik menyatakan Katerina tidak berhak melanjutkan perawatan menggunakan embrio beku atau sperma Vitaly.

"Mereka akan menyimpannya, tetapi saya tidak bisa menggunakannya," katanya.

Oksana mengakui undang-undang baru masih perlu penyempurnaan dan sejumlah amendemen akan dipilih pada musim semi mendatang. Sementara itu, Katerina terpaksa membawa kasusnya ke pengadilan.

Enam bulan kemudian, hakim memutuskan mendukungnya.

"Saya membaca putusan itu dan duduk sambil menangis. Itu keluarga kami. Kami sudah menunggu begitu lama dan melalui begitu banyak hal," kisahnya.

Meski telah memenangkan haknya, Katerina belum siap mencoba memiliki anak. Ia merasa masih terlalu rapuh dan tidak yakin perang akan segera berakhir.

"Jika kita berkompromi sekarang, lalu untuk apa begitu banyak orang mati?" katanya menanggapi gagasan Ukraina menyerahkan wilayah yang dipertahankan suaminya demi menghentikan invasi Rusia.

Namun ia ingin tetap memiliki pilihan untuk memiliki anak dari suaminya suatu hari nanti.

"Saya pikir anak-anak tentara kami yang gugur harus memiliki kesempatan untuk hidup: mereka berhak hidup di negara yang diperjuangkan orang tua mereka," tegasnya

Tantangan Sosial dan Psikologis

Di garis depan, Maxim sepakat.

"Itulah sebabnya saya melakukannya dan itu bagus!" katanya. "Karena mungkin besok saya tiba-tiba pergi. Tetapi istri saya akan memiliki sperma saya dan bisa menggunakannya. Itu satu hal yang tidak perlu saya khawatirkan."

Menurutnya, tantangan terbesar adalah meyakinkan para pria untuk mendaftar.

Oksana menceritakan seorang veteran perang yang mengatakan banyak tentara datang kepadanya dengan air mata karena kesulitan berhubungan intim atau memiliki anak.

"Pria itu tertutup, tetapi ada banyak masalah psikologis," aku Maxim.

Ia bahkan menyarankan agar pembekuan sperma dilakukan saat tentara direkrut, sebagaimana mereka menyerahkan sampel DNA untuk identifikasi jika gugur.

"Yang menjadi hambatan sebenarnya hanya kurangnya pembicaraan dan pemahaman tentang pentingnya hal ini," tutupnya. "Karena kami para pria biasanya tidak akan bertindak jika tidak didorong atau bahkan dipaksa."