Nyaris Meregang Nyawa di Penjara Rusia, Mantan Marinir AS Akhirnya Pulang

Penantian Robert Gilman berakhir, mantan Marinir AS ini dibebaskan dari penjara Rusia setelah empat tahun.

Diterbitkan 12 Agustus 2026, 19:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington - Mantan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS), Robert Gilman, akhirnya dibebaskan Rusia setelah menjalani penahanan selama empat tahun. Pria berusia 32 tahun itu dijadwalkan kembali ke AS pada Selasa malam waktu setempat.

Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (12/8/2026), Presiden AS Donald Trump mengatakan Gilman diperkirakan tiba di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, dekat Washington DC, pada Selasa malam. Trump menyampaikan kabar tersebut melalui platform Truth Social.

Gilman ditahan Rusia pada 2022 setelah dituduh terlibat dalam insiden dengan seorang polisi. Menurut Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui pembebasan Gilman “atas dasar kemanusiaan”. Trump juga mengatakan tidak ada tahanan yang dibebaskan AS sebagai pertukaran atas kepulangan Gilman.

Pemerintah AS sebelumnya telah mendesak Moskow membebaskan Gilman agar ia dapat menjalani perawatan medis di tanah air. Gilman selama ini ditahan di sebuah penjara di Voronezh, sekitar 550 kilometer sebelah selatan Moskow. Namun, kondisi kesehatannya secara pasti belum diketahui.

Seorang pejabat AS yang berbicara dengan Gilman mengatakan mantan marinir tersebut sudah dapat berjalan dan berbicara.

“Secara keseluruhan, dia tampaknya dalam kondisi cukup baik,” kata pejabat tersebut.

Sejumlah dokter akan memeriksa kondisi Gilman selama penerbangan menuju AS. Ibunya, Nina, juga berada dalam pesawat yang sama dalam perjalanan pulang ke AS, menurut Trump.

Trump mengatakan sejumlah pejabat pemerintahannya terlibat dalam upaya mengamankan pembebasan Gilman. Mereka antara lain utusan untuk negosiasi sandera Adam Boehler, penasihat Steve Witkoff dan Sebastian Gorka, serta menantunya, Jared Kushner.

Setelah tiba di AS, Gilman akan diterbangkan ke sebuah pusat rehabilitasi di San Antonio, Texas, untuk mendapatkan perawatan medis.

Senator AS Ed Markey, yang selama ini bekerja sama dengan keluarga Gilman untuk mengupayakan pembebasannya, mengatakan kondisi Gilman sempat sangat kritis.

Dalam sebuah pernyataan, Markey menyebut Gilman berada dalam kondisi “mendekati kematian” setelah mengalami pneumonia parah dan memasuki kondisi katatonik. Dalam kondisi tersebut, Gilman disebut “tidak responsif dan tidak mampu berinteraksi maupun makan”.

Markey menilai pembebasan Gilman sudah “sangat terlambat”. Ia juga mengatakan Gilman mengalami “penyiksaan fisik, pemberian obat secara paksa, dan provokasi oleh otoritas Rusia” selama menjalani penahanan.

 

 

Bertugas di Korps Marinir AS

Gilman pernah bertugas di Korps Marinir AS dari Agustus 2019 hingga Agustus 2020. Menurut kelompok advokasi yang mewakili keluarganya, ia sedang bepergian dengan kereta ketika ditangkap di Voronezh pada Januari 2022.

Media pemerintah Rusia melaporkan Gilman ditahan karena diduga menendang seorang polisi dalam keadaan mabuk.

Namun, tuduhan tersebut dibantah ayahnya, Vladimir Gilman, yang merupakan imigran dari Rusia dan tinggal di Massachusetts. Dalam tulisan opini di Boston Globe pada Oktober 2024, Vladimir mengatakan tuduhan terhadap putranya tidak benar.

Menurut Vladimir, Robert jatuh sakit ketika insiden tersebut terjadi dan secara tidak sengaja menendang polisi. Polisi tersebut tidak mengalami cedera, mencabut tuntutan, dan tidak memberikan bukti dalam persidangan Gilman, tulisnya.

Gilman awalnya dijatuhi hukuman empat setengah tahun penjara. Namun, masa hukumannya kemudian beberapa kali diperpanjang setelah ia didakwa melakukan dugaan penyerangan selama berada di penjara.

Pemerintah AS baru-baru ini menetapkan Gilman sebagai tahanan yang ditahan secara tidak sah. Ia merupakan salah satu dari sedikitnya 10 warga negara AS yang diketahui masih dipenjara di Rusia.