Penguatan Militer AS di Dekat Iran Terpantau dari Satelit

Bagaimana postur kekuatan militer AS di sekitar Iran? Berikut penjelasannya.

Diterbitkan 17 Februari 2026, 13:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Laporan BBC Verify mengonfirmasi lokasi kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln, yang berada di dekat Iran berdasarkan citra satelit, di tengah upaya Washington meningkatkan tekanan terhadap Teheran terkait program nuklirnya dan dugaan tindakan mematikan terhadap para demonstran.

Konfirmasi tersebut muncul saat pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Swiss pada Selasa (17/2/2026) untuk menggelar putaran kedua perundingan. Pemerintah Iran menyatakan pertemuan itu akan berfokus pada program nuklirnya serta kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh AS. Namun, Washington sebelumnya mengindikasikan ingin membahas isu-isu lain dalam agenda perundingan tersebut.

Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang memimpin satu kelompok tempur bersama tiga kapal perusak berpemandu rudal, membawa sekitar 90 pesawat termasuk jet tempur F-35 dan diawaki 5.680 personel. Kapal tersebut dilaporkan dikerahkan ke kawasan Teluk pada akhir Januari, namun baru kini terdeteksi dalam citra satelit. Berdasarkan data yang dihimpun, kapal itu berada di lepas pantai Oman, sekitar 700 kilometer dari Iran.

Selain Abraham Lincoln, AS juga dilaporkan mengirimkan USS Gerald R. Ford, kapal perang terbesar di dunia, ke kawasan Timur Tengah. Kapal tersebut diperkirakan akan tiba di wilayah itu dalam waktu tiga pekan ke depan.

Kehadiran Abraham Lincoln menambah daftar penguatan militer AS di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. BBC Verify mencatat peningkatan jumlah kapal perusak, kapal tempur, dan jet tempur AS di kawasan tersebut.

Pergerakan Aset Militer AS

Citra publik dari satelit Sentinel-2 milik Uni Eropa menunjukkan Abraham Lincoln berada di Laut Arab, sekitar 240 kilometer dari pantai Oman. Sejak dilaporkan memasuki kawasan pada Januari, kapal itu belum terlihat dalam citra satelit karena melintasi laut lepas yang memiliki cakupan pemantauan terbatas. Berbeda dengan aset militer di darat yang lebih mudah terlihat dan lebih sering tertangkap citra satelit.

Sejauh ini, melalui citra satelit, terpantau 12 kapal AS berada di Timur Tengah. Rinciannya meliputi Abraham Lincoln—kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz—yang bersama tiga kapal perusak kelas Arleigh Burke membentuk satu kelompok tempur kapal induk. Selain itu, terdapat dua kapal perusak lain yang mampu meluncurkan serangan rudal jarak jauh serta tiga kapal khusus untuk operasi tempur dekat pantai yang saat ini berada di pangkalan angkatan laut Bahrain di Teluk.

Dua kapal perusak lainnya terdeteksi di wilayah Mediterania timur dekat pangkalan militer AS di Teluk Souda, sementara satu kapal perusak lagi berada di Laut Merah.

Selain pergerakan kapal perang, BBC Verify juga memantau aktivitas pesawat militer AS di kawasan tersebut. Terjadi peningkatan jumlah jet tempur F-15 dan EA-18 yang ditempatkan di Pangkalan Militer Muwaffaq Salti di Yordania. Selain itu, terdapat peningkatan pergerakan pesawat kargo AS serta pesawat pengisian bahan bakar dan komunikasi yang menuju Timur Tengah dari wilayah AS dan Eropa.

 

Respons Iran

Komando Pusat AS (US Central Command) pada 6 Februari merilis gambar-gambar USS Abraham Lincoln yang diapit oleh kapal perusak, jet tempur, pesawat pengintai, dan kapal penjaga pantai di Laut Arab, dalam apa yang diyakini sebagai unjuk kekuatan militer. 

Iran merespons dengan langkah serupa. Pada Senin (16/2), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan latihan maritim di Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran di utara dan Oman (Semenanjung Musandam) serta Uni Emirat Arab di selatan.

Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC melaporkan bahwa dalam latihan tersebut, Panglima IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour memeriksa kapal-kapal angkatan laut di sebuah pelabuhan sebelum rudal diluncurkan dari salah satu kapal. 

Selat Hormuz menempati posisi strategis karena merupakan satu-satunya pintu gerbang laut yang menghubungkan produsen minyak terbesar di Teluk Persia dengan pasar energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati selat tersebut, termasuk dari Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran.

Dalam laporan tersebut, Pakpour juga terlihat terbang dengan helikopter di atas pulau tersebut sebagai bagian dari manuver militer terbaru Iran.

 

Perbandingan dengan Situasi di Venezuela dan Operasi Midnight Hammer

Pakar intelijen militer Justin Crump mengatakan kepada BBC Verify bahwa persiapan militer AS di Timur Tengah saat ini lebih luas dan berkelanjutan dibandingkan manuver Washington menjelang penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari, maupun saat pelaksanaan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu dalam operasi yang disebut Operation Midnight Hammer. 

Ketiga situasi tersebut sama-sama melibatkan satu kelompok tempur kapal induk dan sejumlah kapal perusak yang beroperasi secara terpisah. Namun, menurut Crump, konteks dan skala pengerahan kekuatan militer AS dalam masing-masing kasus berbeda secara signifikan.

Dalam kasus Venezuela, AS mengerahkan kapal induk USS Gerald R. Ford ke kawasan Karibia menjelang serangan. Saat itu, BBC Verify melacak delapan kapal perang AS di wilayah tersebut. Penggunaan pesawat tempur relatif lebih sedikit karena Washington dapat dengan mudah mengirimkan jet dari pangkalan di daratan utama AS maupun dari pangkalannya di Puerto Rico. Selain itu, AS juga menempatkan kapal serbu amfibi di kawasan Karibia yang dapat digunakan sebagai landasan operasi helikopter, sebagaimana terlihat dalam operasi penangkapan Maduro. Secara umum, militer Venezuela dinilai memiliki kemampuan yang lebih terbatas untuk mempertahankan diri atau melakukan pembalasan terhadap AS.

Situasinya berbeda ketika AS melancarkan Operation Midnight Hammer terhadap Iran tahun lalu.

Operasi tersebut menargetkan fasilitas nuklir Iran, negara yang memiliki kekuatan militer jauh lebih besar dibandingkan Venezuela dan dinilai mampu menyerang pangkalan-pangkalan AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Dalam operasi itu, AS menempatkan dua kelompok tempur kapal induk di kawasan, lima kapal perusak di Laut Mediterania dan Laut Merah, serta tiga kapal tempur di Teluk. Sejumlah skuadron jet tempur dan pesawat pengisian bahan bakar juga dipindahkan dari AS ke Eropa. Namun, pesawat pengebom siluman B-2 yang digunakan untuk menyerang fasilitas nuklir di Fordo, Isfahan, dan Natanz lepas landas langsung dari pangkalan AS di Missouri.

Menurut Crump, pengerahan kapal perang dan pesawat AS saat ini—ditambah delapan pangkalan udara yang sudah ada di kawasan—memungkinkan Washington melaksanakan sekitar 800 sorti penerbangan per hari dengan tujuan membuat setiap respons Iran menjadi tidak efektif.

"Apa yang kita lihat bukan sekadar persiapan serangan, melainkan penempatan kekuatan penangkal yang lebih luas dan dapat diperbesar atau diperkecil," terangnya. "Artinya, pengerahan ini memiliki cakupan yang lebih besar dan kemampuan bertahan lebih lama dibandingkan paket kekuatan yang disusun untuk Venezuela maupun dalam Operation Midnight Hammer tahun lalu. Ini dirancang untuk mempertahankan keterlibatan serta menghadapi berbagai kemungkinan respons terhadap aset-aset AS di kawasan dan, tentu saja, Israel."