12 Februari 1554: Eksekusi Mati Lady Jane Grey, Ratu Sembilan Hari dalam Sejarah Inggris

Bagaimana intrik perebutan mahkota menuntun Lady Jane Grey menuju akhir yang tragis pada 12 Februari 1554?

Diterbitkan 12 Februari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Pada 12 Februari 1554, di dalam kompleks Menara London, seorang remaja bangsawan Inggris berjalan menuju tiang eksekusi. Ia adalah Lady Jane Grey — perempuan muda yang hanya sembilan hari menyandang mahkota sebelum dijatuhkan dan akhirnya dihukum mati atas perintah Ratu Mary I of England.

Peristiwa ini menjadi salah satu episode paling dramatis dalam sejarah Dinasti Tudor.

Menurut artikel "Edward VI and the Succession" yang diterbitkan oleh The British Library, menjelang wafatnya pada 6 Juli 1553, Raja Edward VI menghadapi persoalan suksesi. Secara hukum, takhta seharusnya jatuh kepada saudari tirinya, Mary, putri Henry VIII yang beragama Katolik.

Namun Edward adalah seorang Protestan yang taat. Ia khawatir Inggris akan kembali ke Katolik jika Mary naik takhta. Karena itu, ia menyusun dokumen yang dikenal sebagai Devise for the Succession, yang mengubah urutan pewaris dan menunjuk Lady Jane Grey — sepupunya yang Protestan — sebagai penerus.

Dalam artikel "The 1553 Succession Crisis" di situs resmi The National Archives (UK), dijelaskan bahwa keputusan Edward sangat dipengaruhi oleh John Dudley, Duke of Northumberland, tokoh paling berkuasa dalam pemerintahan saat itu. Dudley berkepentingan mempertahankan dominasi kelompok Protestan dan menikahkan Jane dengan putranya, Guildford Dudley, hanya beberapa minggu sebelum Edward wafat.

Pada 10 Juli 1553, Lady Jane Grey diproklamasikan sebagai ratu. Namun fondasi kekuasaannya rapuh.

Seperti dijelaskan dalam artikel tentang Lady Jane Grey di Encyclopaedia Britannica, dukungan terhadapnya lemah karena perubahan suksesi itu tidak pernah disahkan parlemen. Undang-Undang Suksesi tahun 1544 yang dibuat pada masa Henry VIII masih mencantumkan Mary sebagai pewaris sah. Banyak bangsawan menilai bahwa mendukung Mary berarti mengikuti hukum yang berlaku.

Kebangkitan Mary dan Kejatuhan Jane

Mary bergerak cepat. Berdasarkan penjelasan di Encyclopaedia Britannica, ia menggalang dukungan militer dan politik dari East Anglia. Dalam hitungan hari, kekuatannya membesar.

Melihat arus dukungan yang berbalik, dewan kerajaan di London meninggalkan Jane. Pada 19 Juli 1553, Mary diproklamasikan sebagai ratu yang sah. Jane ditangkap dan dipenjara di Menara London.

Awalnya, seperti diterangkan dalam artikel tentang Mary I di Encyclopaedia Britannica, sang ratu tidak segera menjatuhkan hukuman mati. Namun situasi berubah setelah pecahnya Pemberontakan Wyatt pada Januari 1554. Menurut laporan yang dirangkum oleh History.com dalam artikel "Lady Jane Grey is executed", pemberontakan tersebut menentang rencana pernikahan Mary dengan Philip dari Spanyol dan kembali mengangkat nama Jane sebagai simbol perlawanan Protestan.

Dalam situasi politik yang genting, keberadaan Jane dianggap ancaman.

Pada 12 Februari 1554, Jane dieksekusi di dalam Menara London. Seperti dicatat oleh Encyclopaedia Britannica dan juga dirangkum oleh History.com, ia menyampaikan pernyataan singkat sebelum kematiannya, menyatakan menerima hukuman tersebut dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Suaminya dieksekusi lebih dulu pada hari yang sama.

Dengan itu berakhirlah kisah "Ratu Sembilan Hari".

Warisan Sejarah

Sejumlah kajian yang dipublikasikan oleh The National Archives dan The British Library menilai Lady Jane Grey sebagai figur yang terjebak dalam pusaran ambisi politik elite di sekelilingnya. Ia bukan penggerak utama perebutan takhta, melainkan bagian dari permainan kekuasaan yang lebih besar.

Eksekusi pada 12 Februari 1554 bukan sekadar hukuman mati seorang bangsawan muda. Ia adalah puncak dari konflik agama, hukum, dan politik yang membelah Inggris Abad ke-16 — dan menjadi pengingat betapa rapuhnya mahkota ketika legitimasi dipertaruhkan.