Israel Luncurkan Operasi Skala Besar untuk Cari Sandera Terakhir di Gaza

Israel tidak menjelaskan berapa lama operasi akan berlangsung.

Diterbitkan 26 Januari 2026, 10:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Israel pada Minggu (25/1/2026) menyatakan militernya tengah melakukan operasi skala besar untuk menemukan sandera terakhir di Jalur Gaza, di tengah tekanan dari Amerika Serikat (AS) dan para mediator internasional lainnya agar Israel dan Hamas segera memasuki fase berikutnya dari gencatan senjata.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Kabinet Israel menggelar pertemuan untuk membahas kemungkinan pembukaan kembali perlintasan Rafah, jalur utama antara Gaza dan Mesir. Pertemuan itu berlangsung sehari setelah utusan senior AS bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu untuk membicarakan langkah lanjutan proses gencatan senjata.

Pemulangan sandera terakhir, Ran Gvili, selama ini dipandang sebagai hambatan utama untuk membuka perlintasan Rafah dan melanjutkan fase kedua gencatan senjata yang dimediasi AS.

Pada Minggu malam, kantor Netanyahu seperti dikutip Associated Press mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan, "Setelah operasi ini selesai dan sesuai dengan apa yang telah disepakati dengan AS, Israel akan membuka perlintasan Rafah."

Sejumlah pejabat militer Israel, seperti dikutip media lokal, mengatakan operasi itu bisa memakan waktu beberapa hari.

Pemulangan seluruh sandera yang tersisa, baik dalam keadaan hidup maupun meninggal, merupakan bagian utama dari fase pertama gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober. Pemulangan sandera yang terakhir sebelum operasi Minggu ini terjadi pada awal Desember. 

Meskipun Israel sebelumnya telah melakukan upaya pencarian terhadap Gvili, kali ini pihak militer memberikan keterangan yang lebih rinci dari biasanya. Militer Israel menyatakan tengah melakukan pencarian di sebuah pemakaman di Gaza utara, dekat Yellow Line, yaitu garis yang menandai wilayah Gaza yang berada di bawah kendali Israel.

Secara terpisah, seorang pejabat militer Israel mengatakan bahwa Gvili kemungkinan dimakamkan di wilayah Shijaiya–Tuffah di Kota Gaza. Ia menyebutkan bahwa rabi serta para ahli forensik gigi turut berada di lokasi bersama tim pencarian khusus. Pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena membahas operasi yang masih berlangsung.

Keluarga Gvili sebelumnya mendesak pemerintah Netanyahu agar tidak melanjutkan fase kedua gencatan senjata sebelum jenazah Gvili berhasil ditemukan dan dipulangkan.

Namun, tekanan untuk melanjutkan proses perdamaian terus meningkat. Pemerintahan Presiden Donald Trump dalam beberapa hari terakhir bahkan telah menyatakan bahwa fase kedua gencatan senjata sudah berjalan.

Israel berulang kali menuduh Hamas mengulur-ulur waktu dalam proses pemulangan sandera terakhir. Hamas, dalam pernyataan pada Minggu, mengatakan pihaknya telah memberikan seluruh informasi yang dimilikinya terkait keberadaan jenazah Gvili. Hamas juga menuduh Israel menghambat upaya pencarian di wilayah-wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militer Israel.

 

Kantor Badan PBB di Yerusalem Timur Dibakar

Sementara itu, kantor pusat badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) di Yerusalem Timur dilaporkan dibakar pada Minggu malam, beberapa hari setelah buldoser Israel menghancurkan sebagian kompleks tersebut. 

Belum diketahui siapa yang memicu kebakaran itu. Roland Friedrich, Direktur Badan PBB tersebut untuk wilayah Tepi Barat, mengatakan bahwa pemukim Israel terlihat pada malam hari menjarah gedung utama dan mengambil perabotan. Ia menyebutkan pula bahwa sejumlah lubang ditemukan pada pagar kompleks.

Dinas pemadam kebakaran Israel menyatakan telah mengerahkan tim untuk mencegah api menyebar lebih luas. Pada Mei 2024, badan PBB itu sebelumnya mengumumkan penutupan kompleks tersebut setelah para pemukim membakar pagar di sekelilingnya.

Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan kepada Associated Press bahwa insiden ini merupakan serangan terbaru terhadap PBB dalam upaya berkelanjutan untuk membongkar status pengungsi Palestina.

UNRWA memiliki mandat untuk memberikan bantuan dan layanan kepada sekitar 2,5 juta pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat yang diduduki Israel, dan Yerusalem Timur, serta sekitar 3 juta pengungsi lainnya di Suriah, Yordania, dan Lebanon. Namun, operasinya dibatasi tahun lalu setelah parlemen Israel mengesahkan undang-undang yang memutus hubungan dan melarang badan tersebut beroperasi di wilayah yang didefinisikan Israel sebagai wilayahnya, termasuk Yerusalem Timur.

Israel telah lama mengkritik UNRWA dengan tuduhan disusupi oleh Hamas, serta menuduh sebagian pegawainya terlibat dalam serangan tahun 2023 yang memicu perang Israel di Gaza yang kini telah berlangsung selama dua tahun. Pimpinan badan PBB tersebut menyatakan telah mengambil tindakan cepat terhadap para pegawai yang dituduh terlibat, serta membantah tuduhan bahwa lembaga itu menoleransi atau bekerja sama dengan Hamas.