Longsor Hantam Perkemahan di Selandia Baru, Sejumlah Orang Dilaporkan Hilang

Kini, petugas keselamatan di Selandia Baru masih mencari korban hilang akibat longsor.

Diterbitkan 22 Januari 2026, 14:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Wellington - Tanah longsor menghantam sebuah lokasi perkemahan di wilayah utara Selandia Baru yang diguyur hujan lebat pada Kamis (22/1/2026), menyebabkan sejumlah orang dilaporkan hilang.

Polisi dan tim penyelamat setempat menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung meski terkendala kondisi tanah yang labil, 

Longsor tersebut menghantam area perkemahan yang terletak di kaki Gunung Maunganui, gunung berapi yang sudah tidak aktif, di Pulau Utara.

Lumpur dilaporkan menimbun dan menghancurkan blok kamar mandi serta merusak beberapa mobil karavan. Rekaman video dan foto yang beredar di media lokal memperlihatkan bangunan yang rata dengan tanah akibat longsoran.

Pejabat darurat menyebut suara-suara sempat terdengar dari bawah reruntuhan sesaat setelah kejadian.

“Meskipun tanah masih bergerak dan berbahaya, tim tetap berupaya melakukan misi penyelamatan,” kata Asisten Komisaris Polisi Tim Anderson kepada wartawan di lokasi.

Ia menolak menyebutkan jumlah pasti korban yang hilang.

“Yang bisa saya sampaikan, jumlahnya hanya beberapa orang,” ujarnya, dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (22/1).

Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sepanjang malam disebut sebagai pemicu longsor. Tanah bergerak cepat dan menghantam beberapa bangunan di area perkemahan.

 

Laporan Saksi Mata

Seorang saksi mata, Nix Jaques, mengatakan ia melihat langsung detik-detik longsor saat hendak mendaki gunung. “Saya berbalik dan melihat tanah longsor menghantam beberapa bangunan. Longsoran itu menimpa blok kamar mandi dan menggeser sebuah mobil karavan,” katanya kepada radio publik RNZ. Ia meyakini ada orang-orang yang berada di dalam kamar mandi saat kejadian.

Jaques juga mengaku berbicara dengan sepasang orang tua yang kehilangan anak mereka akibat bencana tersebut.

Evakuasi dan Risiko SusulanKomandan Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Selandia Baru, William Pike, mengatakan warga perkemahan sempat berusaha menggali puing-puing secara mandiri setelah mendengar teriakan dari bawah reruntuhan. “Orang-orang langsung mencoba membantu dan mendengar suara-suara dari bawah,” ujarnya.

Namun, upaya tersebut dihentikan sementara setelah petugas menilai adanya risiko longsor susulan. Seluruh warga dan relawan ditarik menjauh dari lokasi demi keselamatan. Pike mengatakan hingga saat ini belum ada laporan suara lanjutan yang terdengar dari bawah reruntuhan.

Saksi lain, Mark Tangney, yang tengah berada di kawasan tersebut, mengatakan ia melihat orang-orang berlarian keluar dari perkemahan sebelum kembali untuk membantu. “Saya mendengar orang-orang berteriak, lalu langsung memarkir kendaraan dan berlari ke lokasi,” katanya kepada New Zealand Herald.

Tangney mengaku menjadi salah satu orang pertama yang tiba di lokasi kejadian. Ia melihat enam hingga delapan orang naik ke atap blok toilet sambil membawa peralatan sederhana untuk membongkar atap. “Kami mendengar teriakan, ‘Tolong kami, tolong keluarkan kami dari sini’,” ujarnya.

Pihak berwenang menyatakan operasi penyelamatan akan dilanjutkan setelah kondisi dinilai aman, sembari terus memantau potensi pergerakan tanah susulan di area tersebut.