Cerita Seorang Wanita di China Mengabdikan Hidupnya sebagai Bidan

Apa alasan yang membuat wanita di China ini mengabdikan hidupnya sebagai bidan?

Diterbitkan 09 Januari 2026, 07:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Sebuah dokumenter bertajuk Beyond Blood and Borders yang tayang pada Desember di platform streaming Tiongkok berhasil menyita perhatian publik. Tayangan tersebut mengangkat perjalanan hidup 10 anak yatim piatu perang asal Jepang yang tertinggal setelah kekalahan Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua pada 1945.

Setelah perang berakhir, lebih dari empat ribu anak Jepang terlantar di Tiongkok pasca-perang, sebagian besar berada di wilayah Timur Laut dan Mongolia Dalam. Banyak dari mereka kemudian diadopsi dan dibesarkan oleh keluarga Tiongkok. 

Mengutip laporan NDTV, Jumat (9/1/2026) salah satu sorotan utama dalam seri tersebut adalah kisah Xu Yan, wanita kelahiran Shenyang yang bernama asli Sakura Yamamoto.

Xu Yan memiliki masa lalu yang kelam. Ayah kandungnya tewas setelah pesawatnya ditembak jatuh, sedangkan sang ibu meninggal akibat komplikasi setelah melahirkan. Ia kemudian diadopsi dan dibesarkan oleh keluarga Tiongkok sebagai anak mereka. 

Situasi keluarga angkat pertamanya berubah ketika sang ayah dikirim ke militer, membuat istrinya kesulitan merawat tiga anak sekaligus. Akhirnya, tetangga mereka, Xu Zhenfu beserta istrinya mengambil alih tanggung jawab dan membesarkan gadis kecil itu layaknya putri kandung mereka sendiri.

Mereka memberinya nama Xu Yan yang berarti "burung walet," dengan harapan sang putri tumbuh mandiri dan kuat.

Karena ibu angkat keduanya kurang berpengalaman mengasuh anak, Xu kemudian dikirim ke Dalian, sebuah kota pelabuhan di timur laut Tiongkok, untuk tinggal bersama neneknya. Di sana, ia mendapatkan pendidikan serta kasih sayang berlimpah, mulai dari perawatan sehari-hari hingga masakan udang kesukaannya.

 

Membalas Budi Lewat Persalinan dan Pilihan Identitas

Pada 1962, Xu memulai pengabdiannya sebagai dokter di daerah pedesaan Provinsi Shandong, Tiongkok timur. Setelah merampungkan pelatihan medis di rumah sakit setempat, ia mendedikasikan diri sebagai bidan.

Wanita tersebut membantu kelahiran banyak bayi dan dengan bangga menuturkan bahwa seluruh bayi yang ia tangani lahir dengan selamat dan sehat. Baginya, profesi tersebut adalah panggilan jiwa.

"Hidup saya memiliki tujuan. Pertama, saya diselamatkan oleh orang-orang Tiongkok, dan kemudian, saya melayani ibu dan bayi Tiongkok. Itu adalah cara untuk membalas budi."

Pada tahun 1980, Shu kembali ke Shenyang bersama anaknya dan mulai bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Setelah pensiun, ia mempelajari pengobatan tradisional Tiongkok sendiri dan mulai mengobati tetangganya.

Fakta mengenai asal-usulnya sebagai yatim piatu perang Jepang baru terungkap setelah ia pensiun dari perusahaan konstruksi di Shenyang. Identitas tersebut diketahui melalui perbedaan bekas vaksinasi antara praktik medis Jepang dan Tiongkok pada masa perang.

Meski banyak rekan senasibnya memilih kembali ke Jepang untuk mencari keluarga kandung, Xu memutuskan sebaliknya. Palang Merah Tiongkok mencatat, dari 120 yatim piatu perang Jepang yang pernah tinggal di Provinsi Liaoning, kini hanya tersisa lima orang.

Xu, yang telah menganggap dirinya orang Tiongkok seutuhnya, menegaskan bahwa Dalian, tempat ia dibesarkan oleh kakek dan nenek angkatnya, dan akan selamanya menjadi rumah sejatinya.

Â