Pengorbanan Erawati, ART Indonesia yang Peluk Anak Majikan Saat Kebakaran Gedung Hunian di Hong Kong

Sebelum kematiannya, Erawati melakukan panggilan telepon dengan suami yang tinggal di Jawa Timur, Indonesia.

Diterbitkan 03 Desember 2025, 13:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Hong Kong - Kisah pilu datang dari tragedi kebakaran besar di Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong. Seorang pekerja rumah tangga asal Indonesia, Erawati (39), melakukan panggilan terakhir kepada suaminya sebelum meninggal dunia saat berusaha melindungi bayi majikan.

Suyitno, suami Erawati yang tinggal di Malang, Jawa Timur, pertama kali melihat video kebakaran di media sosial.

Meski rekaman memperlihatkan asap pekat dan kobaran besar, ia tidak langsung mengira istrinya berada di lokasi tersebut. Ia tidak mengenali gedung itu sebagai tempat pekerjaan istrinya, dikutip dari SCMP, Rabu (3/12/2025).

Namun beberapa jam kemudian, sebuah panggilan video dari Erawati mengubah segalanya.

Sekitar pukul 19.00 waktu Hong Kong, Erawati menelepon suaminya dalam kondisi panik. Dalam panggilan video itu, ia terlihat terjebak di dalam gedung yang dipenuhi asap.

“Dia bilang tidak bisa bernapas dan merasa tidak akan selamat,” ujar Suyitno, mengenang momen terakhir percakapan mereka.

Erawati meminta maaf kepada suaminya dan keluarganya, seakan tahu ajalnya sudah dekat.

Menurut laporan SCMP, seorang teman Erawati menyampaikan bahwa perempuan itu ditemukan meninggal dunia saat menggendong bayi majikannya. Bayi tersebut berhasil diselamatkan.

Erawati sudah bekerja di Hong Kong sejak 2011. Dalam tragedi tersebut, ia tengah menjaga bayi majikannya ketika kebakaran cepat menyebar di kompleks Wang Fuk Court, menutup akses keluar.

Video rekaman amatir yang beredar menunjukkan sejumlah penghuni terjebak di balkon dan koridor. Suyitno mengatakan ia baru menyadari bahwa salah satu sosok dalam video itu adalah istrinya setelah melihat rekaman itu berulang kali.

 

Dikenang Sebagai Pahlawan

Ungkapan duka dan penghormatan bermunculan di media sosial. Banyak yang menyebut Erawati sebagai pahlawan karena tetap memeluk bayi majikannya hingga napas terakhir.

“Dia menghabiskan detik-detik terakhirnya melindungi anak yang bukan anaknya,” tulis seorang teman dalam unggahan duka.

Kebakaran Tai Po menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di Hong Kong. Puluhan korban dilaporkan tewas, dan sejumlah lainnya masih dalam proses identifikasi karena banyak jasad ditemukan dalam kondisi hangus.

Bagi Suyitno, tragedi ini menyisakan kehilangan mendalam dan kenangan terakhir yang tak akan pernah ia lupakan.

“Dia meminta saya memaafkannya… tapi dialah yang paling tidak bersalah,” ujarnya.