Bali hingga Sulawesi, TETO Luncurkan Program Smart Farming di 4 Proyek Pertanian Indonesia

Taiwan Technical Mission (TTM) berkomitmen untuk terus meningkatkan ketahanan dengan Indonesia.

Diterbitkan 27 November 2025, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Demi meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia, The Taiwan Technical Mission (TTM) berbagi keterampilan dan teknologi pertanian antara Taiwan dan Indonesia yang sekaligus mempererat kerja sama bilateral pada acara "Showcase of Taiwan Technical Mission achievements in the Republic of Indonesia."

Representative Taipei Economic and Trade Office (TETO), Bruce Hung menunjukkan kekhawatirannya dengan memberikan solusi terhadap ketahanan pangan di Indonesia dalam pidato sambutannya Kamis pagi (27/11/2025), di Energy Building, Jakarta.

"Dunia seiring waktu terus menghadapi tantangan ketahanan pangan yang semakin besar. Dalam hal ini, Taiwan berkomitmen untuk menjadi mitra dalam pembangunan Indonesia yang juga membantu antarmasyarakat agar memperkuat sistem pemasaran mereka," ucapnya.

Dengan begitu, inovasi terbaru yang didukung pun termasuk sistem pemantauan data lahan dan penerapan teknologi drone dalam manajemen pertanian.

Empat wilayah yang telah berjalan dalam peningkatan ketahanan pangan ini, yaitu:

  1. Bali dengan Proyek One Village One Project (2011-2014)
  2. Sulawesi Selatan dengan Proyek Hight Quality Rice Seed Production Expantion (2021-2023)
  3. Sumatera Utara dengan Proyek Production and Marketing of Garlic and Shallot Demonstration (2023-2025)
  4. Karawang dengan Proyek Vegetarian and Fruit System Enhancement (2019-2025).

Peningkatan pertanian ini dimulai melalui penggunaan sensor lahan, pemetaan digital, dan sistem monitoring yang memungkinkan para petani lokal dapat memutuskan metode budidayanya yang berbasis data setelah melakukan uji coba bersama.

Contohnya di Karawang dengan menanam tanaman hortikultura yang memudahkan para petani lokal, di mana tidak perlu membutuhkan lahan yang luas seperti padi dan kebutuhan airnya jauh lebih sedikit. Hasil panen juga dapat dipasok ke berbagai wilayah secara berkelanjutan, tidak seperti padi yang menunggu musim tanam lebih panjang dan jika hujan akan menjadi gagal panen.

Indonesia sebagai Penerima TTM

Leader of Taiwan Technical Mission of Repulic of Indonesia, Kao Hsiang Tai, menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara penerima misi dikarenakan Taiwan-Indonesia memiliki hubungan yang sangat baik, terutama ada lebih dari 300.000 orang Indonesia bekerja di Taiwan, bahkan produksi pertanian yang beragam di lingkungan yang mendukung ini memiliki potensi besar untuk ketahanan pangan.

Dalam hal itu, dukungan yang diberikan untuk melakukan pemasaran yang merata dan semakin memperkuat hubungan kerja sama.

Penjualan dari peningkatan budidaya pertanian dengan smart farming ini mampu memasok pemasaran secara ekspor. Salah satunya adalah proyek di Karawang saat tiga tahun yang lalu.

Taiwan mengajarkan mereka cara menanam asparagus serta membantu penjualan ke Singapura, di mana asparagus hanya dijual beberapa kali karena permintaan Singapura yang membutuhkan jumlah yang banyak.

Meski keduanya ingin menandatangani kontrak kerja sama dalam memenuhi kebutuhan pasar, proyek di Karawang belum mampu pasokan dalam jumlah banyak per hari.

Sehingga asparagus yang dihasilkan dilanjutkan persebaran pasokannya ke supermarket. Karena itu, kemampuan agrikultul dan teknologi dari Taiwan ini meningkatkan produk penjualan ke pasar yang sesuai. Misi yang dibawa Taiwan juga mendorong perubahan strategi terhadap pertanian yang memudahkan setiap wilayah dan para petani lokal.