5 November 1955: Kembalinya Musik di Staatsoper Jadi Simbol Kebangkitan Austria Usai Perang Dunia II

Usai Perang Dunia II, warga Austria kembali bangkit melalui seni dari Vienna State Opera (Staatsoper), yang juga menjadi identitas budaya mereka.

Diterbitkan 05 November 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Vienna - Dari puing-puing kehancuran usai Perang Dunia II, Austria kembali bangkit dengan harmoni dan nada dari sebuah opera di Wina, yang didukung oleh dana publik dan uang pajak untuk kembali dibuka pada 5 November 1955.

Gedung megah yang memukau pengunjung ini butuh sepuluh tahun bagi Vienna State Opera (Staatsoper) kembali berdir dengan pertunjukan gemilang "Fidelio" karya Beethoven sebagai simbol kebebasan dan kemanusiaan bagi rakyatnya, dilansir dari The New York Times, Rabu (5/11/2025).

Selain itu, terdapat pepatah lokal yang berisi sindiran halus terhadap kecintaan warga Wina pada seni, yang mengatakan bahwa 1,8 juta penduduk Wina, 900 ribu merasa mereka harus menjadi direktur opera, dan 900 ribu lainnya merasa mereka harus mengelola Burgtheater.

Bahkan sejak abad ke-18 dan ke-19, istana kekaisaran telah menarik perhatian bagi para komposer besar karena prospek patronase yang mendapatkan dukungan dari bangsawan.

Para komposer seperti Mozart, Haydn, dan Strauss tertarik untuk berkarya di lingkungan yang mendukung musik klasik. Sehingga tidak mengherankan lagi jika musik dapat terus hidup hingga saat ini, yang dikembangkan oleh generasi muda melalui pendidikan musik di sekolah.

Di tengah kemegahan dan pertunjukan yang diberikan oleh Staatsoper pun membuat setiap pengunjung rela berdiri demi menikmati keindahan dari seni yang ditampilkan.

Meski tempat duduk sangat terbatas, ruang berdiri menjadi alternatif dengan memberikan harga yang sangat terjangkau, yaitu 60 sen AS (sekitar Rp9.600) di area orkestra dan 45 sen AS (sekitar 7,200) di balkon.

Dengan kapasitas hampir 500 penonton berdiri, peluang mendapatkan tiket juga cukup besar dibandingkan di Metropolitan Opera, yang hanya memiliki 175 tempat berdiri.

Keberadaan Staatsoper menunjukkan bagaimana seni dapat menumbuhkan semangat untuk bangkit dari kehancuran, di mana mampu memulihkan kembali rasa percaya diri dan menyatukan warganya di tengah luka sejarah.

 

Sebagai Jantung Kota

Tinggi di kubah auditorium gedung opera ini menampilkan perpaduan mencolok antara gading dan emas yang dihiasi lingkaran lampu kristal berkilauan.

Tidak hanya tangganya yang megah, tetapi sebuah lampu gantung unik yang sejajar dengan langit-langit memberikan atmosfer menegangkan saat melangkah ke dalam telur Paskah besar berwarna krem karya Fabergé.

Staatsoper juga telah menampilkan ratusan pertunjukan setiap tahun yang bukan hanya sekadar alunan musik dan opera, melainkan mencerminkan disiplin, apresiasi, dan cinta rakyat Austria terhadap budaya.

Setiap musim, Staatsoper menawarkan banyak repertoar opera dan balet dengan total sekitar 50 atau 60 opera.

Dalam satu bulan, opera ini mencapai sekitar 20 pertunjukan. Secara tradisional juga telah dibawa oleh Staatsoper, yang berasal dari karya Mozart, Gluck, Beethoven, Richard Strauss, dan Wagner.

Bagi para pecinta seni, menonton pertunjukan di Staatsoper menjadi pengalaman yang nyaris mendekati kesempurnaan.

Meski tiket berlangganan didominasi warga lokal, banyak turis dari berbagai negara setiap tahun memenuhi kursi demi merasakan gedung mewah tersebut.

Dengan demikian, warga Austria yang masih menyimpan trauma dari sejarah kelam dapat perlahan memudar dengan melodi yang memperkuat kebersamaan.

Dari sebuah musik dan seni menjadi sumber kekuatan baru untuk menghadapi tantangan, sekaligus memperkokoh budaya terhadap generasi muda.

Â