Skandal Guncang Israel: Penasihat Hukum Militer Tertinggi Mengundurkan Diri, Menghilang, Ditemukan, lalu Dipenjara

Kasus ini disebut menggambarkan benturan antara penegakan hukum dan tekanan politik di tubuh militer Israel. Berikut penjelasannya.

Diterbitkan 04 November 2025, 13:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Hingga minggu lalu, Mayor Jenderal Yifat Tomer-Yerushalmi menjabat sebagai penasihat hukum militer tertinggi Israel. Kini, ia justru mendekam di balik jeruji besi dan menjadi pusat dari sebuah skandal besar yang mengguncang negeri itu, setelah rangkaian peristiwa janggal—mulai dari pengunduran dirinya yang mendadak, sempat menghilang secara misterius, hingga pencarian panik yang berakhir dengan ditemukannya ia di sebuah pantai di Tel Aviv. 

Kisah yang menyerupai drama berseri ini bermula minggu lalu, ketika Tomer-Yerushalmi membuat pengakuan mengejutkan: ia menyetujui kebocoran rekaman video pengawasan yang menjadi pusat penyelidikan penuh mengenai tuduhan penyiksaan berat terhadap seorang warga Palestina di penjara militer Israel yang terkenal kejam. Demikian seperti dikutip Associated Press.

Video tersebut memperlihatkan sebagian dari serangan di mana para tentara Israel dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap seorang tahanan Palestina.

Dengan membocorkan video ini tahun lalu, Tomer-Yerushalmi bermaksud menunjukkan betapa seriusnya tuduhan yang sedang diselidiki oleh kantornya. Namun, tindakannya justru memicu gelombang kritik keras dari para pemimpin politik garis keras Israel. Setelah mengundurkan diri di bawah tekanan minggu lalu, ia tetap menjadi sasaran serangan pribadi dari para pengkritiknya.

Ia meninggalkan sebuah catatan singkat untuk keluarganya dan mobilnya ditemukan di dekat pantai. Hal itu menimbulkan kekhawatiran bahwa ia mungkin telah mengakhiri hidupnya sendiri, memicu pencarian besar-besaran yang bahkan melibatkan penggunaan drone militer.

Namun belakangan, ia akhirnya ditemukan masih hidup di pantai pada Minggu (2/11/2025) malam. Setelah itu, kecaman terhadap dirinya justru semakin keras.

"Kita bisa melanjutkan 'penghakiman massal'-nya," tulis tokoh televisi sayap kanan dan sekutu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Yinon Magal, di platform X, disertai emoji wajah mengedip.

Setelah terungkap bahwa salah satu ponsel milik Tomer-Yerushalmi hilang, sejumlah politikus dan komentator sayap kanan menuduhnya berpura-pura melakukan percobaan bunuh diri untuk menghancurkan kemungkinan barang bukti.

Peristiwa luar biasa ini menunjukkan bahwa dua tahun perang yang menghancurkan belum banyak membantu menyembuhkan luka dan perpecahan di negara yang sudah sangat terbelah bahkan sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Kasus ini juga menjadikan Tomer-Yerushalmi sebagai tokoh terbaru dari jajaran pejabat keamanan tinggi yang meninggalkan jabatannya atau dipaksa mundur — sebagian besar digantikan oleh orang-orang yang dianggap loyal kepada Netanyahu dan pemerintahan garis kerasnya.

Fokusnya Bergeser dari Penyiksaan ke Kebocoran Video

Dalam sidang pengadilan pada hari Senin (3/11), hakim menyatakan bahwa penahanan Yifat Tomer-Yerushalmi akan diperpanjang hingga Rabu (4/11). Ia diduga melakukan penipuan, pelanggaran kepercayaan, dan menghalangi proses peradilan. Sambil menunggu penyelidikan terhadap tindakannya, Tomer-Yerushalmi ditahan di penjara perempuan di Israel tengah.

Media Israel melaporkan bahwa mantan jaksa militer utama, Kolonel Matan Solomesh, juga ditangkap sehubungan dengan penyelidikan kebocoran tersebut. Kantor Perdana Menteri menolak memberikan komentar mengenai penangkapan Solomesh.

Kemarahan publik terhadap video yang bocor dinilai memperlihatkan betapa dalamnya polarisasi di Israel. Untuk sementara waktu, perhatian media dan masyarakat pun beralih — bukan lagi pada tuduhan penyiksaan terhadap tahanan Palestina, melainkan pada kontroversi seputar kebocoran video.

Serangan yang terekam dalam video yang bocor terjadi pada 5 Juli 2024 di penjara militer Sde Teiman, berdasarkan dakwaan terhadap para tentara yang dituduh. Kantor berita Associated Press sebelumnya telah menyelidiki laporan tentang perlakuan tidak manusiawi dan penyiksaan di Sde Teiman, bahkan sebelum insiden dalam rekaman terjadi.

Video yang telah ditayangkan oleh media Israel memperlihatkan sejumlah tentara membawa seorang tahanan pria Palestina ke area yang mereka pagar menggunakan perisai, tampaknya untuk menyembunyikan tindakan mereka. Dakwaan menyebutkan bahwa para tentara menyerang dan menyiksa tahanan Palestina tersebut secara seksual menggunakan pisau, hingga menyebabkan luka serius di beberapa bagian tubuh. 

Seorang tenaga medis yang mengetahui kasus ini — yang berbicara dengan syarat anonim karena khawatir atas keselamatannya — mengatakan bahwa tahanan terkait tiba di rumah sakit sipil dalam kondisi kritis, dengan trauma tumpul di perut dan dada serta tulang rusuk yang patah.

Menurut sumber medis yang sama, korban menjalani operasi akibat robeknya usus besar, kemudian dipulangkan kembali ke Sde Teiman beberapa hari setelahnya. Ia menambahkan bahwa kasus ini merupakan bentuk penyiksaan paling ekstrem yang pernah ia temui dari penjara tersebut.

Pada bulan Juli, ketika polisi militer mendatangi Sde Teiman untuk menahan para tentara yang diduga terlibat dalam penyiksaan, mereka terlibat bentrokan dengan para demonstran yang menentang penangkapan. Tidak lama kemudian, ratusan demonstran yang bertindak secara keras menerobos masuk ke pusat penahanan.

Dalam surat pengunduran dirinya, Tomer-Yerushalmi menjelaskan bahwa ia memutuskan untuk mengungkap bukti penyiksaan itu guna menangkis pandangan bahwa militer sedang menargetkan tentaranya sendiri secara tidak adil. 

Militer, menurutnya, memiliki kewajiban untuk menyelidiki ketika ada kecurigaan yang masuk akal terhadap kekerasan terhadap tahanan. Ia menegaskan, "Sayangnya, pemahaman dasar ini — bahwa ada tindakan yang tidak boleh dilakukan bahkan terhadap tahanan paling keji sekalipun — tidak lagi diyakini oleh semua orang."

Menurut dokumen dari kantor jaksa militer yang diperoleh Associated Press, tahanan Palestina yang menjadi korban dalam video tersebut dibebaskan kembali ke Gaza bulan lalu, sebagai bagian dari pertukaran antara sandera hidup dan tahanan Palestina. 

Kasus ini hingga kini masih dalam proses di pengadilan militer.

Tanggapan Ahli

Ada tiga isu hukum terpisah yang harus diselesaikan dalam penyelidikan Israel terkait apa yang terjadi di Sde Teiman, kata Yohanan Plesner, presiden lembaga think tank berbasis di Yerusalem, Israel Democracy Institute.

Yang pertama berkaitan dengan bukti bahwa para tentara Israel menyiksa tahanan Palestina saat mereka berada dalam tahanan. Yang kedua adalah apakah warga sipil Israel — termasuk anggota parlemen — mencoba mengacaukan penyelidikan dengan menerobos masuk ke pangkalan militer tempat para tentara yang dituduh ditahan. Yang ketiga adalah apakah Tomer-Yerushalmi diduga melakukan sejumlah pelanggaran, termasuk penipuan, untuk melemahkan penyelidikan mengenai bagaimana video pengawasan itu bocor ke media.

"Retorika yang intens selama beberapa hari terakhir mengingatkan pada suasana di Israel tepat sebelum serangan 7 Oktober yang memicu perang di Gaza," kata Plesner.

Saat itu, publik sangat terpecah karena upaya Netanyahu untuk merombak sistem peradilan.

"Kekhawatiran selama beberapa jam pada Minggu malam atas nasib Tomer-Yerushalmi seharusnya menjadi 'rambu berhenti' bagi masyarakat Israel — terutama bagi para komentator yang menghina dirinya secara pribadi," tegas Plesner. "Ini sangat menyedihkan melihat bagaimana perdebatan internal bisa menimbulkan potensi akibat tragis di tingkat pribadi."

Hal itu terasa sangat simbolis, katanya, karena Tomer-Yerushalmi berada di pengadilan saat pemerintah Israel mengadakan upacara peringatan resmi memperingati 30 tahun pembunuhan Perdana Menteri Yitzhak Rabin.

Banyak pihak memandang pembunuhan Perdana Menteri Yitzhak Rabin pada tahun 1995 sebagai titik terendah dalam sejarah Israel — masa ketika perpecahan politik dan hasutan kebencian mencapai puncaknya. Kini, mereka khawatir peristiwa dramatis yang menimpa Tomer-Yerushalmi pada akhir pekan lalu menjadi pertanda bahwa Israel sedang kembali menuju masa kelam yang sama, ketika permusuhan internal kembali menguasai masyarakat.

"Itu sangat menyedihkan," ungkap Yohanan Plesner. "Melihat bagaimana perdebatan di dalam negeri bisa berujung pada potensi tragedi pribadi sungguh memilukan. Kita harus ingat bahwa ada cara untuk memperdebatkan perbedaan pandangan dalam masyarakat yang demokratis."