Ibu Suri Sirikit Meninggal, Ini Profil dan Jejak Pengabdian Ibu Bangsa Thailand

Sirikit meninggal pada Jumat (24/10/2025), pukul 21.21 waktu Bangkok.

Diterbitkan 25 Oktober 2025, 09:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bangkok - Ibu Suri Kerajaan Thailand, Sirikit, sosok yang dikenal karena pengabdiannya membantu rakyat miskin di pedesaan, melestarikan kerajinan tradisional, dan melindungi lingkungan, wafat di usia 93 tahun.

Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand menyatakan bahwa Sirikit meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Bangkok. Sejak 17 Oktober, sang ibu suri berjuang melawan infeksi darah, namun kondisinya tidak membaik meski telah mendapat perawatan intensif.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia jarang tampil di hadapan publik karena kesehatannya menurun. Suaminya, Raja Bhumibol Adulyadej, telah lebih dulu berpulang pada Oktober 2016.

Foto-foto yang dirilis istana untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-88 memperlihatkan putranya, Raja Maha Vajiralongkorn, bersama anggota keluarga kerajaan lain menjenguk Sirikit di Rumah Sakit Chulalongkorn, tempat ia menjalani perawatan jangka panjang.

Meski sering berada di bawah bayang-bayang mendiang suami dan putranya, Ibu Suri Sirikit tetap menjadi sosok yang dicintai dan berpengaruh. Potretnya terpajang di rumah, kantor, dan ruang publik di seluruh Thailand, sementara hari ulang tahunnya setiap 12 Agustus dirayakan sebagai Hari Ibu nasional. Ia dikenal karena kepeduliannya, dari membantu pengungsi Kamboja hingga menyelamatkan hutan-hutan Thailand yang nyaris musnah.

Namun, seiring meningkatnya sorotan terhadap peran monarki di tengah gejolak politik beberapa dekade terakhir, kiprahnya pun ikut diperbincangkan. Beredar kisah tentang pengaruhnya di balik layar selama masa ketegangan yang ditandai oleh dua kudeta militer dan demonstrasi berdarah. Ketika ia hadir di pemakaman seorang pengunjuk rasa yang tewas dalam bentrokan dengan polisi, banyak yang menilai kehadirannya sebagai isyarat keberpihakan di tengah perpecahan politik negara itu.

Sirikit Kitiyakara lahir pada 12 Agustus 1932 di Bangkok, dari keluarga bangsawan kaya raya. Tahun kelahirannya bertepatan dengan peralihan sistem monarki absolut menjadi monarki konstitusional. Kedua orang tuanya masih memiliki garis keturunan dengan raja-raja terdahulu dari Dinasti Chakri.

Ia menempuh pendidikan di Bangkok selama Perang Dunia II, ketika kota itu menjadi sasaran serangan udara Sekutu. Setelah perang usai, ia pindah ke Prancis bersama ayahnya yang menjabat sebagai duta besar.

 

 

 

Dekat dengan Rakyat

Pada usia 16 tahun, Sirikit bertemu Raja Bhumibol yang baru naik takhta di Paris, di mana ia belajar musik dan bahasa. Persahabatan mereka tumbuh setelah sang raja mengalami kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawanya. Sirikit kemudian pindah ke Swiss untuk merawatnya dan di sanalah hubungan mereka berkembang — Bhumibol menulis puisi dan menciptakan waltz berjudul "I Dream of You" untuknya.

Mereka menikah pada tahun 1950. Dalam upacara penobatan tidak lama kemudian, keduanya berikrar untuk memerintah dengan kebajikan demi kemaslahatan dan kebahagiaan rakyat Siam (Thailand). Pasangan ini dikaruniai empat anak: Raja Maha Vajiralongkorn yang kini memimpin Thailand, serta tiga putri — Ubolratana, Sirindhorn, dan Chulabhorn.

Pada awal pernikahan, Sirikit dan Raja Bhumibol melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk membangun hubungan baik dengan para pemimpin dunia. Namun, sejak awal 1970-an, keduanya memusatkan perhatian pada persoalan dalam negeri seperti kemiskinan, kecanduan opium di suku pegunungan, dan pemberontakan komunis.

Setiap tahun, pasangan kerajaan ini berkeliling ke pelosok Thailand sambil tetap menghadiri ratusan kegiatan kerajaan, keagamaan, dan kenegaraan.

Ibu Suri Sirikit dikenal sebagai sosok modis namun tangguh — mendaki bukit, menembus desa-desa miskin, dan berbincang dengan para perempuan tua yang menyapanya dengan panggilan hangat, "anak kami". Ribuan orang datang menyampaikan keluh kesah, dari persoalan rumah tangga hingga penyakit serius, dan banyak yang ditanganinya langsung bersama para asistennya.

Meski gaya hidup mewah dan rumor intrik istana kerap menjadi bahan pembicaraan di Bangkok, popularitas Sirikit di pedesaan tidak pernah luntur. Dalam wawancara dengan The Associated Press tahun 1979, ia mengatakan, "Sering muncul kesalahpahaman antara masyarakat pedesaan dan orang-orang kota yang disebut beradab. Rakyat di pedesaan merasa diabaikan dan kami berusaha menjembatani kesenjangan itu dengan tinggal bersama mereka di daerah terpencil."

Dari semangat itu lahir berbagai proyek pembangunan kerajaan di seluruh Thailand, banyak di antaranya diprakarsai dan diawasi langsung olehnya.

Untuk meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan melestarikan kerajinan yang hampir punah, pada 1976 ia mendirikan Yayasan SUPPORT, yang melatih ribuan warga desa dalam menenun sutra, membuat perhiasan, melukis, membuat keramik, dan berbagai kerajinan tradisional lain.

Dijuluki "Ratu Hijau", beliau juga mendirikan pusat penangkaran satwa liar, kebun binatang terbuka, dan tempat penetasan penyu laut untuk melindungi spesies langka. Melalui proyek "Forest Loves Water" dan "Little House in the Forest", ia menunjukkan bahwa menjaga hutan dan sumber air juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Berbeda dengan banyak monarki lain yang hanya bersifat seremonial, Ibu Suri Sirikit percaya bahwa monarki adalah institusi penting bagi Thailand.

Dalam wawancara yang sama, ia menegaskan, "Ada sebagian orang di universitas yang menganggap monarki sudah usang. Tapi saya yakin Thailand membutuhkan seorang raja yang memahami rakyatnya. Saat terdengar seruan 'Sang Raja akan datang', ribuan orang akan berkumpul. Kata 'raja' sendiri memiliki kekuatan magis. Itu luar biasa."

Dari kasih dan pengabdiannya, sosok Sirikit dikenal luas sebagai "Ibu Bangsa".

Â