Donald Trump Tuduh Presiden Gustavo Petro Terlibat Perdagangan Narkoba, AS Hentikan Bantuan ke Kolombia

Bagaimana presiden Kolombia merespons tuduhan Trump? Simak penjelasannya berikut ini.

Diterbitkan 20 Oktober 2025, 08:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat (AS) akan memangkas bantuan kepada Kolombia karena Presiden Gustavo Petro tidak melakukan apa pun untuk menghentikan produksi narkoba. Pernyataan keras itu disampaikan Presiden Donald Trump pada Minggu (19/10/2025), menandai meningkatnya ketegangan antara Washington dan salah satu sekutu terdekatnya di Amerika Latin.

Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menuding Petro memiliki hubungan dengan perdagangan narkoba dan menilainya sebagai sosok yang tidak populer. Ia memperingatkan bahwa jika Kolombia tidak segera menindak operasi narkoba, Amerika Serikat akan turun tangan dengan cara yang keras.

Beberapa jam setelah pernyataan tersebut, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengumumkan serangan terbaru terhadap sebuah kapal yang diduga membawa jumlah besar narkotika. Menurutnya, kapal itu terkait dengan kelompok pemberontak Kolombia, Tentara Pembebasan Nasional (ELN), yang tengah berkonflik dengan pemerintahan Petro. Demikian seperti dikutip dari Associated Press.

Hegseth tidak menunjukkan bukti apa pun, namun membagikan cuplikan video pendek yang memperlihatkan kapal terbakar setelah ledakan pada Jumat (17/10).

Petro Bantah Tuduhan Trump

Presiden Petro, yang aktif pula di media sosial seperti Trump, menolak tuduhan itu dan membela upayanya dalam memerangi narkotika di Kolombia — negara yang dikenal sebagai pengekspor kokain terbesar di dunia.

"Berusaha menegakkan perdamaian di Kolombia bukan berarti menjadi pengedar narkoba," tulis Petro di media sosial.

Ia menuduh Trump telah disesatkan oleh para penasihatnya, menyebut dirinya sebagai musuh utama narkoba di negaranya, serta menilai Trump bersikap kasar dan tidak sopan terhadap Kolombia.

Kementerian Luar Negeri Kolombia menanggapi pernyataan Trump sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan nasional karena berisi ajakan untuk melakukan intervensi ilegal di wilayah Kolombia. Sementara itu, Menteri Pertahanan Pedro Sanchez menegaskan bahwa negaranya telah mengerahkan seluruh kemampuan, dan kehilangan banyak nyawa, dalam perang melawan perdagangan narkoba.

Ketegangan Regional

Serangan verbal Trump terhadap Petro berpotensi memperluas ketegangan di kawasan Amerika Latin.

Amerika Serikat saat ini juga sedang meningkatkan tekanan terhadap Venezuela dan presidennya, Nicolas Maduro. Kapal perang, jet tempur, dan drone Amerika Serikat telah dikerahkan di wilayah tersebut dalam apa yang disebut pemerintahan Trump sebagai konflik bersenjata melawan kartel narkoba. Trump bahkan mengizinkan operasi rahasia di dalam wilayah Venezuela.

Namun berbeda dari Venezuela, Kolombia merupakan sekutu lama Amerika Serikat sekaligus penerima bantuan terbesar di kawasan. Meski demikian, menurut PBB, penanaman koka di Kolombia mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah tahun lalu. Situasi ini diperburuk oleh kekerasan yang kembali muncul di daerah pedesaan — wilayah yang dulu menjadi medan perang antara pemerintah dan kelompok pemberontak sebelum tercapainya kesepakatan damai satu dekade lalu.

Pada September lalu, pemerintahan Trump menuduh Kolombia gagal bekerja sama dalam perang melawan narkoba. Meskipun demikian, Washington saat itu masih memberikan pengecualian sanksi yang mencegah pemotongan bantuan secara langsung. Tahun fiskal yang berakhir 30 September mencatat bantuan Amerika Serikat untuk Kolombia sekitar USD 230 juta — turun tajam dari lebih dari USD 700 juta dalam beberapa tahun sebelumnya.

Rangkaian Perseteruan Trump dan Petro

Petro, presiden berhaluan kiri pertama dalam sejarah Kolombia, telah beberapa kali berseteru dengan Trump sepanjang tahun ini. Ketegangan meningkat ketika Petro menolak penerbangan militer Amerika Serikat yang membawa migran deportasi, hingga membuat Trump mengancam memberlakukan tarif perdagangan.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat bahkan sempat mengancam mencabut visa Petro saat ia akan menghadiri Sidang Umum PBB di New York karena Petro pernah meminta tentara Amerika Serikat untuk tidak mematuhi perintah Trump.

Keduanya juga berselisih mengenai serangan-serangan Amerika Serikat terhadap kapal di Laut Karibia. Baru-baru ini, Petro menuduh pemerintah Amerika Serikat melakukan pembunuhan, menuding serangan udara pada 16 September telah menewaskan seorang warga Kolombia bernama Alejandro Carranza. Menurut Petro, Carranza adalah seorang nelayan yang tidak terlibat dalam perdagangan narkoba dan kapalnya tengah rusak saat diserang.

"Amerika Serikat telah menyerang wilayah kami, menembakkan rudal untuk membunuh seorang nelayan sederhana, menghancurkan keluarganya dan anak-anaknya. Ini adalah tanah yang diperjuangkan Bolivar, dan mereka membunuh anak-anaknya dengan bom," tulis Petro. 

Ia mengaku telah meminta kejaksaan Kolombia memulai proses hukum di pengadilan internasional dan Amerika Serikat.

Gedung Putih dan Pentagon belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Respons dan Dampak Diplomatik

Meskipun Petro mengecam keras serangan Amerika Serikat, pemerintah Kolombia tetap akan menuntut secara hukum warga negaranya yang selamat dari serangan terhadap kapal yang diduga digunakan untuk mengangkut narkoba.

Sementara itu, salah satu korban selamat lainnya telah dipulangkan ke Ekuador. Kementerian Dalam Negeri Ekuador menyatakan bahwa pria tersebut tidak akan dituntut setelah jaksa memutuskan ia tidak melakukan pelanggaran hukum di wilayah mereka.

Kelompok ELN, yang disebut Hegseth sebagai target serangan Amerika Serikat, membantah keterlibatan dalam perdagangan narkoba dan menawarkan diri untuk diperiksa oleh komisi internasional. Mereka belum memberikan tanggapan atas pernyataan Hegseth. Pemerintah Kolombia secara rutin melaporkan pembongkaran laboratorium kokain dan penyitaan narkoba yang diduga milik kelompok gerilya tersebut.

Sejak awal September, Amerika Serikat telah melancarkan tujuh serangan di kawasan itu dengan dalih menargetkan pengedar narkoba. Sedikitnya 32 orang dilaporkan tewas.

Pada Minggu pula, Trump menyebut Petro telah berbicara dengan sikap kurang ajar terhadap Amerika Serikat. Ia mengeluhkan bahwa penyelundupan narkoba masih terus terjadi meskipun pihaknya telah memberikan bantuan dan subsidi besar-besaran yang selama ini hanya menjadi penipuan jangka panjang terhadap Amerika Serikat.

"Mulai hari ini, seluruh bentuk bantuan atau subsidi untuk Kolombia tidak akan lagi diberikan," tegas Trump.

Kebijakan Trump Tidak Masuk Akal

Elizabeth Dickinson, analis senior untuk kawasan Andes di International Crisis Group, menilai langkah Trump membingungkan dan sangat tidak bijak. Ia mengatakan, tidak masuk akal bagi Amerika Serikat untuk memusuhi mitra militernya yang terkuat di Amerika Latin, terutama di saat ketegangan dengan Venezuela berada di titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, hubungan antara Washington dan Bogota selama ini menjadi pilar utama kebijakan keamanan di kawasan.

"Namun, kebijaksanaan itu kini disingkirkan begitu saja dengan konsekuensi yang bisa berakibat fatal," ungkap Dickinson.

Kolombia sebelumnya telah kehilangan sebagian besar pendanaan dari Amerika Serikat setelah Trump memangkas anggaran Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) awal tahun ini. Pemangkasan tambahan, kata Dickinson, berisiko melemahkan kerja sama militer dan menghambat upaya pemberantasan kelompok pemberontak.

"Jika bantuan itu benar-benar dihentikan, Kolombia akan kehilangan kemampuan strategis militer dan kepolisian pada saat mereka menghadapi krisis keamanan terbesar dalam lebih dari satu dekade," imbuhnya.