3 Kasus Keracunan Makanan Dilaporkan di China, Ratusan Anak Jadi Korban

Di wilayah mana saja yang melaporkan paling banyak kasus keracunan makanan?

Diterbitkan 14 Oktober 2025, 09:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - China dikejutkan oleh tiga kasus keracunan makanan massal yang menimpa ratusan anak. Kasus pertama terjadi pada 11 September 2025 di sebuah sekolah dasar di Provinsi Guangdong. Sebanyak 94 siswa harus dilarikan ke rumah sakit akibat muntah dan diare.

Meski pemerintah daerah mengklaim sebagian besar telah pulih, laporan dari orang tua dan rumah sakit menyebut banyak anak yang masih dirawat intensif, bahkan ada yang mengalami komplikasi serius.

Bukannya memberikan klarifikasi terbuka, pihak berwenang justru menekan orang tua yang mencoba membagikan video kondisi anak-anak mereka di media sosial, dikutip dari laman Hong Kong Post, Rabu (15/10/2025).

Hanya berselang sehari, kasus serupa kembali muncul di Provinsi Shandong. Data resmi mencatat 138 anak terinfeksi dengan gejala ringan. Namun, video dari rumah sakit menunjukkan antrean panjang anak-anak dengan infus di tangan, menggambarkan situasi yang jauh lebih serius daripada pernyataan resmi pemerintah.

Insiden paling parah terjadi pada 18 September di Provinsi Guizhou. Lebih dari 100 anak dan orang tua keracunan setelah mengonsumsi roti lapis dari sebuah toko roti lokal. Pemerintah hanya berhasil menarik 29 dari 208 roti yang telah terjual.

Para korban mengalami gejala parah, termasuk pendarahan internal dan kerusakan organ. Beberapa di antaranya bahkan harus menjalani operasi darurat di luar provinsi.

Tragedi ini menambah panjang daftar kasus serupa di China. Pada Juli lalu, taman kanak-kanak di Provinsi Gansu dilaporkan memberi makanan yang terkontaminasi cat timbal industri kepada anak-anak. Lebih dari 200 anak dirawat, beberapa mengalami kerusakan gigi dan gangguan saraf.

 

Investigasi Dilakukan

Investigasi kemudian mengungkap rantai pelanggaran: sekolah ilegal yang beroperasi bertahun-tahun, laporan laboratorium palsu, hingga pejabat pendidikan yang tutup mata.

Beragam insiden ini memperlihatkan persoalan yang lebih dalam — rusaknya sistem keamanan pangan di negeri tersebut.

Pemeriksaan yang bisa “diloloskan” dengan suap, penggunaan bahan tambahan berbahaya, hingga proses sterilisasi yang buruk menjadi praktik umum.

Dalam sistem yang lebih mengutamakan laba dan stabilitas politik dibanding keselamatan publik, makanan beracun menjadi ancaman nyata bagi jutaan warga.

Peringatan serupa sebenarnya sudah disuarakan sejak lama. Skandal susu formula melamin tahun 2008 yang menyebabkan hampir 300.000 bayi sakit seharusnya menjadi titik balik.