Sanae Takaichi, Drummer Heavy Metal yang Siap Catat Sejarah Baru sebagai PM Perempuan Pertama Jepang

Perpaduan antara posisi politik yang tegas dan sisi personal yang unik menjadikan Takaichi salah satu figur paling mencolok di kancah politik Jepang.

Diterbitkan 04 Oktober 2025, 22:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Sanae Takaichi baru saja terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), kemenangan yang menempatkannya di ambang sejarah sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang. Pemilihannya terjadi di tengah masa sulit partai yang kehilangan mayoritas di parlemen setelah serangkaian skandal dan kekalahan pemilu.

Di balik citranya sebagai politikus ultra-konservatif, Takaichi dikenal luas karena latar belakang yang tidak biasa: dia pernah menjabat sebagai menteri dan menjadi pembawa acara televisi, sementara di luar politik sosoknya dikenal mampu menggebuk drum musik heavy metal. 

Melansir BBC, sebagai murid politik dari mendiang Shinzo Abe, Takaichi bertekad melanjutkan warisan gurunya. Dia berjanji menghidupkan kembali Abenomics, strategi ekonomi berbasis belanja fiskal besar-besaran dan pinjaman murah.

Takaichi memiliki pandangan sosial yang tegas: menolak legalisasi pernikahan sesama jenis, menentang perubahan hukum yang akan memberi pilihan bagi perempuan untuk tetap menggunakan nama keluarga asalnya setelah menikah—karena menurut tradisi Jepang pasangan harus berbagi nama keluarga yang sama—serta rutin berziarah ke Kuil Yasukuni, sebuah tempat peringatan perang yang sering memicu kontroversi karena di sana juga dihormati para penjahat perang.

Iron Lady Jepang

Kursi kepemimpinan partai yang kini diduduki Takaichi datang bersama tantangan besar. Dia harus memulihkan LDP yang terpecah setelah dilanda skandal dan kekalahan pemilu, sekaligus menjawab keresahan publik atas perekonomian yang stagnan. Inflasi terus menekan rumah tangga, sementara upah tidak kunjung meningkat.

Di ranah internasional, ia menghadapi hubungan Jepang–Amerika Serikat yang sedang renggang, terutama terkait kesepakatan tarif.

Menurut laporan AP, Takaichi dikenal sebagai seorang China hawk—politikus yang kerap mengambil sikap keras dan penuh kewaspadaan terhadap kebijakan Beijing. Reuters menyebutkan, dalam langkah diplomatiknya dia menekankan pentingnya memperkuat hubungan dengan Taiwan, sebuah posisi yang berpotensi memicu ketegangan lebih lanjut dengan China.

Sejak lama Takaichi mengagumi Margaret Thatcher, perdana menteri perempuan pertama Inggris. Dia kerap menyebut dirinya sebagai "Thatcher Jepang" untuk menegaskan keteguhan dan disiplin politik yang diusungnya. Namun, kekaguman itu tidak otomatis membuatnya dipandang sebagai pejuang perempuan.

Profesor Jeff Kingston dari Temple University Tokyo menilai Takaichi memang kuat dalam merebut dukungan sayap kanan, namun kurang memiliki daya tarik luas di mata publik. Dia menilai Takaichi belum banyak berbuat untuk mendorong kesetaraan gender, meski kini berpeluang besar menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang.