Pria di Jepang Menyesal Lantaran Hidup Terlalu Hemat Setelah Istri Meninggal Dunia, Ini Alasannya

Cara apa saja yang dilakukan oleh pria di Jepang agar bisa berhemat?

Diterbitkan 28 September 2025, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Seorang pria Jepang berusia 67 tahun, yang selama puluhan tahun menjalani hidup dengan pola penghematan ketat, mengaku menyesal setelah istrinya meninggal dunia. Ia merasa seharusnya bisa lebih banyak menikmati hidup bersama orang yang dicintainya.

Pria yang dikenal dengan nama samaran Suzuki ini menjadi sorotan di media sosial usai kisahnya dilaporkan oleh media manajemen aset The Gold Online.

Suzuki lahir dari keluarga miskin dan mulai bekerja paruh waktu sejak duduk di bangku sekolah menengah. Setelah mendapat pekerjaan tetap, ia memilih tinggal di apartemen murah jauh dari kantornya, selalu memasak sendiri, dan membawa bekal sederhana—biasanya berisi tauge dan ayam.

Untuk menekan biaya listrik, ia hampir tak pernah menyalakan AC. Ia lebih sering berjalan kaki atau bersepeda, dan tidak pernah makan di restoran. Selama bertahun-tahun, gaya hidup hemat ini sudah menjadi prinsip hidupnya, dikutip dari laman SCMP, Minggu (28/9/2025).

Istrinya, yang juga merupakan rekan kerja, menerima kebiasaan tersebut. Setelah mereka dikaruniai seorang anak, gaya hidup keluarga tetap sederhana. Rekreasi keluarga biasanya berupa piknik di taman terdekat, dan bila bepergian, Suzuki selalu memilih rute termurah.

Mereka tidak pernah membeli rumah atau mobil.

Berkat kedisiplinannya, Suzuki berhasil mengumpulkan tabungan sebesar 35 juta yen (sekitar Rp3,6 miliar). Di usia 60 tahun, ia mulai menarik sebagian dana pensiun untuk berinvestasi, hingga total asetnya mencapai 65 juta yen (sekitar Rp6,8 miliar).

“Uang ini saya simpan untuk keadaan darurat dan masa depan,” ujarnya saat itu.

Namun, kebahagiaannya runtuh ketika sang istri didiagnosis menderita penyakit serius tak lama setelah ia pensiun. Istrinya meninggal di usia 66 tahun.

 

Penyesalan di Ujung Usia

Kini, Suzuki hanya bisa menyesali keputusannya yang terlalu berfokus pada menabung.

“Saya berharap bisa lebih sering mengajak istri berlibur atau sekadar makan di restoran,” ucapnya.

“Tapi waktu tidak bisa diputar kembali. Apa arti hidup jika hanya uang yang tersisa?”

Fenomena di Jepang

Suzuki bukan satu-satunya. Gaya hidup hemat ekstrem menjadi fenomena tersendiri di Jepang. Tahun lalu, seorang pria berusia 45 tahun juga menarik perhatian setelah berhasil menabung 135 juta yen (sekitar Rp14,2 miliar) dengan hidup sederhana selama lebih dari 20 tahun.

Makanan sehari-harinya hanyalah buah plum asam, sayuran asin, dan semangkuk nasi. Kadang, makan malamnya hanya berupa minuman energi yang ia dapatkan gratis dari poin belanja di toko swalayan.