Malaysia Siap Guncang Industri EV dengan Baterai Graphene

Malaysia bersiap memasuki babak baru industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan memulai produksi baterai lithium-ion berbasis graphene

Diterbitkan 14 Juli 2026, 17:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Malaysia bersiap memasuki babak baru industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan memulai produksi baterai lithium-ion berbasis graphene pada bulan ini. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi negara tersebut untuk memperkuat rantai pasok kendaraan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Dilansir dari Paultan, baterai terbaru itu dikembangkan oleh NanoMalaysia melalui anak usahanya, Gigafactory Malaysia.

Fasilitas tersebut diklaim menjadi pabrik pertama di Malaysia yang memproduksi teknologi baterai hasil pengembangan dalam negeri dan ditargetkan dapat melayani kebutuhan pasar ASEAN.

Chief Executive Officer (CEO) NanoMalaysia, Rezal Khairi Ahmad, mengatakan proyek ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.

Menurutnya, Malaysia kini hampir mengoperasikan fasilitas produksi baterai lokal pertama yang memanfaatkan teknologi buatan dalam negeri.

Bahkan, proyek tersebut disebut berpotensi menjadi yang pertama di kawasan ASEAN dengan teknologi baterai yang dikembangkan secara mandiri.

Berbeda dari baterai lithium-ion konvensional, produk terbaru NanoMalaysia menggunakan kimia nikel mangan kobalt (NMC) dan memanfaatkan material graphene sebagai pengganti grafit pada elektroda negatif.

Penggunaan graphene diklaim mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga tiga kali lipat dibandingkan baterai lithium-ion berbasis grafit.

Selain itu, baterai ini diproyeksikan mampu memberikan jarak tempuh hingga 640 kilometer dalam sekali pengisian daya. Teknologi pengisian cepat juga telah disematkan dengan target kepadatan energi melebihi 200 Wh/kg.

Meski demikian, perusahaan belum mengungkap kapasitas baterai secara rinci maupun model kendaraan yang digunakan sebagai acuan pengujian performa tersebut.

 

Investasi Besar

Pengembangan baterai ini didukung investasi sekitar RM20 juta atau setara Rp 89 miliar. Pada tahap awal, NanoMalaysia telah menerima pesanan baterai berkapasitas 25 kWh dari salah satu organisasi lokal, sementara sejumlah kerja sama lain masih dalam tahap finalisasi.

Produksi perdana akan dilakukan di fasilitas seluas sekitar 15.000 kaki persegi yang berlokasi di Kawasan Industri Suria, Sepang.

Perusahaan menargetkan kapasitas produksi meningkat ke skala megawatt-jam (MWh) paling cepat pada September 2026.

Saat beroperasi penuh, pabrik tersebut diperkirakan mampu memproduksi sekitar satu MWh kapasitas baterai per tahun atau setara kurang lebih 92.000 sel baterai.

Untuk memperkuat rantai pasok bahan baku, NanoMalaysia juga berencana menjalin kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai pemasok nikel.

Selain itu, perusahaan menyiapkan program daur ulang baterai guna menjaga keberlanjutan pasokan material di masa depan.

Hingga saat ini, harga resmi baterai tersebut masih belum diumumkan. Namun, NanoMalaysia optimistis produksi lokal dapat membantu menekan biaya kendaraan listrik melalui pengurangan biaya impor, logistik, dan penyimpanan.