Baterai Mobil Listrik Ternyata Bisa Jauh Lebih Awet, Ini Fakta Terbarunya

Usia pakai baterai masih menjadi salah satu alasan yang membuat sebagian konsumen ragu beralih ke mobil listrik.

Diterbitkan 10 Juli 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Usia pakai baterai masih menjadi salah satu alasan yang membuat sebagian konsumen ragu beralih ke mobil listrik. Selama bertahun-tahun, muncul anggapan, komponen termahal di mobil listrik ini akan cepat mengalami penurunan performa, sehingga membutuhkan biaya penggantian yang tak sedikit.

Namun, data atau studi terbaru menunjukan kondisi yang sebaliknya.

Berdasarkan laporan yang dikutip Digital Trends dari The Wall Street Journal, Jumat (10/7/2026), baterai mobil listrik modern memiliki daya tahan jauh lebih baik dibanding perkiraan industri.

Sejumlah kendaraan bahkan masih mampu mempertahankan sebagian besar jarak tempuhnya, meski telah digunakan hingga ratusan ribu mil atau kilometer. Temuan itu dinilai berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mobil listrik.

Salah satu contohnya datang dari Richard Symons, pemilik dealer mobil listrik bekas asal Inggris. Tesla Model 3 miliknya, yang telah berusia lima tahun sudah menempuh perjalanan sejauh 247.000 mil atau sekitar 397.000 kilometer. Meski begitu, mobil tersebut masih sanggup digunakan untuk perjalanan jarak jauh dengan baik.

Kondisi tersebut sejalan dengan temuan para peneliti dan analis industri, yang melihat laju penurunan kapasitas baterai pada generasi terbaru berlangsung jauh lebih lambat daripada perkiraan sebelumnya.

Perusahaan analitik baterai Recurrent memperkirakan, rata-rata mobil listrik masih mampu mempertahankan hingga 95 persen jarak tempuh awalnya setelah lima tahun pemakaian.

Peningkatan ini didukung oleh perkembangan teknologi kimia baterai, sistem manajemen suhu yang lebih baik, serta perangkat lunak pengelola baterai yang semakin canggih untuk menjaga kesehatan sel dalam jangka panjang.

Data Recurrent juga menunjukkan sekitar 1 dari 12 mobil listrik produksi 2011 hingga 2016 sudah memerlukan penggantian baterai. Sebaliknya, untuk model yang diproduksi mulai 2022, angkanya turun drastis menjadi hanya sekitar 0,3 persen.

Persepsi Konsumen Belum Banyak Berubah

Meski demikian, persepsi konsumen belum sepenuhnya berubah. Survei AutoPacific pada 2025 menunjukkan kekhawatiran terhadap mahalnya biaya penggantian baterai, masih menjadi alasan utama banyak calon pembeli menunda beralih ke mobil listrik.

Jessica Caldwell, Head of Insights Edmunds mengatakan kepada The Wall Street Journal, banyak konsumen masih memandang baterai kendaraan listrik dengan keraguan meskipun data keandalannya terus membaik.

Di sisi lain, baterai mobil listrik tetap tidak sepenuhnya kebal terhadap penurunan performa. Laporan itu menyebut penggunaan pengisian daya cepat DC (fast charging) berdaya tinggi secara rutin, bisa mempercepat degradasi baterai dibandingkan metode pengisian lebih lambat.

Berdasarkan data Geotab, baterai yang sering menerima pengisian cepat berdaya tinggi rata-rata masih memiliki kapasitas sekitar 89,7 persen setelah beberapa tahun. Sedangkan kendaraan yang lebih jarang menggunakan fast charging, mampu mempertahankan sekitar 94,9 persen kapasitas awalnya.

Kebiasaan mengisi daya hingga 100 persen secara terus-menerus, membiarkan baterai kosong terlalu lama, serta penggunaan di suhu ekstrem juga dapat memengaruhi kesehatan baterai dalam jangka panjang.

 

Biaya Penggantian Baterai

Sebagai informasi, biaya penggantian baterai di luar masa garansi juga masih tergolong tinggi, berkisar antara USD 5.000 hingga USD 16.000 atau sekitar Rp 90 juta hingga Rp 288 juta.

Meski begitu, banyak produsen kini merancang paket baterai agar modul tertentu dapat diperbaiki tanpa harus mengganti seluruh unit, sehingga biaya perawatan bisa ditekan.

Para analis juga memperkirakan adopsi mobil listrik akan kembali meningkat dalam jangka panjang, dengan proyeksi kendaraan listrik menyumbang 11 persen penjualan mobil baru di Amerika Serikat pada 2030, dan mendekati 25 persen secara global pada akhir dekade ini. 

Â