Liputan6.com, San Francisco - Pada 12 Juni 1962, tiga narapidana berhasil melarikan diri dari Alcatraz dan tak pernah terlihat lagi. Nasib akhir Frank Morris serta saudara John dan Clarence Anglin hingga kini masih menjadi misteri.
Namun, keberanian dan kecerdikan di balik pelarian dari penjara paling ketat di Amerika Serikat ini tetap memikat perhatian dunia. Dua tahun sejak kejadian tersebut, BBC mengunjungi tempat bersejarah itu, dikutip dari laman BBC, Senin (5/5/2025).
Pada Mei 1964, Michael Charlton dari program Panorama BBC melakukan "perjalanan paling ditakuti di dunia kriminal" melintasi perairan bergolak Teluk San Francisco menuju Pulau Alcatraz, rumah bagi penjara terkenal itu.
Advertisement
Dijuluki "the Rock", Alcatraz pernah menampung para kriminal paling berbahaya di Amerika Serikat. Penjara ini dianggap sebagai benteng yang mustahil ditembus. Namun, pada dini hari 12 Juni 1962, tiga pria berhasil melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan: kabur.
Awalnya, Alcatraz dibangun sebagai benteng pertahanan laut untuk menjaga pintu masuk teluk. Saat Perang Saudara AS, karena lokasinya yang terisolasi, tebing-tebing curam, serta arus laut yang dingin dan deras, pulau ini digunakan untuk menahan tawanan Konfederasi.
Di awal abad ke-20, Alcatraz beralih fungsi menjadi penjara militer. Pada 1930-an, saat kejahatan terorganisasi merajalela di era Larangan Alkohol (Prohibition), Departemen Kehakiman mengambil alih dan mulai menempatkan narapidana federal paling berbahaya di sana. Nama-nama besar seperti Al Capone, Mickey Cohen, George "Machine Gun" Kelly, hingga Robert Stroud, si "Birdman of Alcatraz", pernah menjadi penghuni pulau ini. Charlton dari BBC menggambarkan para narapidana itu sebagai "pria-pria yang terlalu ganas dan bermasalah untuk ditahan di penjara biasa".
Rencana Pelarian yang Rumit
Empat tahun sebelum BBC berkunjung, Frank Lee Morris tiba di Alcatraz. Sejak kecil, hidup Morris penuh masalah: ia menjadi yatim piatu pada usia 11 tahun dan dihukum untuk kejahatan pertamanya di usia 13 tahun. Dikenal cerdas, Morris adalah kriminal kawakan dengan riwayat mulai dari kepemilikan narkoba hingga perampokan bersenjata -- serta keahlian melarikan diri dari penjara.
Ia dikirim ke Alcatraz pada Januari 1960 setelah melarikan diri dari Penjara Negara Bagian Louisiana. Begitu tiba di "the Rock", ia langsung mulai menyusun rencana kabur.
Di blok sel yang sama, Morris bertemu dengan saudara Anglin, John dan Clarence, serta Allen West, yang sudah mendekam di Alcatraz sejak 1957. Mereka sudah saling kenal dari penjara lain dan sel mereka bersebelahan, memungkinkan mereka berkomunikasi tiap malam.
Ketika Charlton mengunjungi Alcatraz setahun setelah ditutup, ia mencatat reputasi penjara itu yang terkenal kejam: penjaga yang tanpa ampun, kondisi keras, serta angin laut yang selalu menderu. "Angin yang tiada henti melolong dan bergema di antara jeruji," ujarnya. "Dibangun di atas reruntuhan benteng tua... fondasi Alcatraz kini membusuk dan rapuh."
Â
Rencana Pelarian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2825026/original/015706200_1560150220-20190610-Alcatraz.jpg)
Dipimpin oleh Morris, keempat narapidana mulai mengerjakan rencana pelarian yang luar biasa. Selama berbulan-bulan, mereka mengikis beton rapuh di sekitar ventilasi udara di bawah wastafel sel mereka, menggunakan sendok logam curian, mata bor rakitan dari motor vacuum cleaner, dan bilah gergaji bekas. Untuk menutupi suara pengeboran, Morris memainkan akordeon saat jam musik di penjara.
Begitu lubang cukup besar untuk dilewati, mereka menyelinap ke lorong utilitas tersembunyi. Mereka membuat bengkel rahasia di loteng blok sel, menyamarkan lubang di dinding dengan kisi-kisi buatan dari majalah perpustakaan penjara. Di bengkel itu, mereka membuat rakit karet sepanjang 6 kali 14 kaki dan pelampung dari lebih dari 50 jas hujan curian.
Penyegelan karet dilakukan dengan menggunakan pipa uap penjara. Mereka juga membuat alat untuk mengisi udara dari akordeon bekas dan mendesain dayung dari potongan kayu lapis.
Untuk mengelabui penjaga saat malam, mereka membuat replika kepala dari sabun, pasta gigi, dan tisu toilet, lengkap dengan rambut asli dari lantai tukang cukur penjara, serta cat warna kulit hasil curian. Replika ini mereka letakkan di atas bantal yang dibentuk menyerupai tubuh mereka.
Â
Advertisement
Malam Pelarian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2825025/original/072647300_1560150145-20190610-Alcatraz_2.jpg)
Pada malam 11 Juni 1962, semuanya siap. Setelah meletakkan kepala palsu di ranjang masing-masing, Morris dan saudara Anglin meloloskan diri lewat lubang di dinding. Allen West gagal keluar tepat waktu dan harus ditinggalkan. Ketiganya naik ke atap, berlari melintasinya sambil membawa rakit rakitan mereka -- dalam jarak pandang menara penjaga -- turun lewat pipa pembuangan, melintasi halaman, memanjat dua pagar berduri setinggi 3,7 meter, dan menuruni tebing curam menuju pantai timur laut pulau. Di tepi air, mereka mengembangkan rakit dan menghilang ke dalam malam. Alarm baru berbunyi keesokan paginya saat kepala palsu mereka ditemukan.
Pulau Alcatraz juga menjadi rumah bagi keluarga para penjaga. Jolene Babyak, putri wakil kepala penjara saat itu, menceritakan betapa mencekamnya suasana. "Sirene yang terus berbunyi saat aku terbangun itu sangat menusuk, sangat keras. Aku benar-benar ketakutan," katanya kepada BBC Witness History.
Pencarian besar-besaran segera dilakukan. Pada 14 Juni, penjaga pantai menemukan dayung buatan. Hari itu juga ditemukan paket berisi barang-barang pribadi keluarga Anglin yang disegel dalam karet. Seminggu kemudian, sisa-sisa rakit ditemukan di dekat Jembatan Golden Gate. Namun, Frank Morris dan kedua saudara Anglin tidak pernah ditemukan.
Â
Kasus yang Belum Tuntas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3550569/original/020379800_1629871407-prison-553836_1280.jpg)
Meskipun berhasil keluar dari penjara, pihak berwenang meyakini ketiganya tewas tenggelam akibat arus laut yang ganas. Kepala penjara saat itu, Richard Willard, kepada BBC menyatakan, "Kami memang kehilangan beberapa orang, tapi tidak ada yang membual soal itu. Saya yakin mereka tenggelam. Dengarkan saja angin ini, lihat air itu, menurut Anda apakah mungkin bisa selamat?"
Alcatraz ditutup pada 1963, sebagian karena kondisi bangunan yang memburuk dan tingginya biaya operasional, namun juga karena kontroversi atas kebijakan keras penjara tersebut. Sejak 1939, upaya untuk menutupnya sudah mulai dilakukan dengan alasan bahwa suasana penjara justru memperburuk mental para narapidana.
Seiring berjalannya waktu, banyak narapidana yang memilih bunuh diri atau melukai diri karena tak sanggup menahan kerasnya kehidupan di Alcatraz. Pada era 1960-an, fokus sistem peradilan pidana AS mulai bergeser dari hukuman ke rehabilitasi.
Tiga pelarian itu secara hukum dinyatakan meninggal pada 1979. FBI menutup kasusnya dan menyerahkannya kepada US Marshals Service. Namun, spekulasi tentang nasib mereka tak pernah padam.
Pada tahun yang sama, film Escape from Alcatraz dirilis dengan Clint Eastwood memerankan Frank Morris. Sejak pelarian mereka, berbagai laporan kemunculan dan pesan misterius bermunculan.
Pada 2018, polisi San Francisco mengungkapkan bahwa mereka menerima surat misterius dari seseorang yang mengaku sebagai John Anglin lima tahun sebelumnya. Dalam surat itu tertulis,
"Saya melarikan diri dari Alcatraz pada Juni 1962. Ya, kami semua berhasil malam itu, meski nyaris gagal!" Penulis surat mengklaim bahwa Morris meninggal pada 2005 dan Clarence Anglin pada 2008. Ia juga menawarkan diri untuk menyerahkan diri dengan imbalan perawatan kanker.
Namun, FBI tidak dapat memastikan keaslian surat tersebut. Hingga kini, US Marshals Service tetap membuka kasus ini, bahkan pada 2022 mereka merilis gambar rekonstruksi wajah ketiga buronan, berharap ada petunjuk baru yang dapat mengakhiri misteri besar ini.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3565418/original/077374400_1631100325-Infografis_Deretan_Kebakaran_Penjara_di_Indonesia_dan_Dunia_Timbulkan_Korban.jpg)
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317507/original/011159500_1786016808-cek_fakta_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5209116/original/072916000_1746425177-WhatsApp_Image_2025-05-05_at_13.04.21.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5524833/original/035238900_1773017298-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1679084/original/064714700_1502716829-20170814-Retno-Marsudi-CMS-GM5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316786/original/087225900_1785989372-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261713/original/017908800_1750682486-AP23215607070697.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3035321/original/019803800_1580276853-airplane-744865_960_720.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1881704/original/035883300_1518159850-Kim-Yo-Jong-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316754/original/007216600_1785987240-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316707/original/020259600_1785984073-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290338/original/083924200_1783473452-Untitled.jpg)