Sukses

Uni Emirat Arab Jalin Diplomatik dengan Israel, Turki Siap Pulangkan Dubesnya

Liputan6.com, Istanbul - Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan membuka wacana untuk memulangkan duta besar negaranya dari Uni Emirat Arab (UEA). Hal itu akibat adanya normalisasi hubungan diplomatik UEA dan Israel.

Pengumuman tersebut disampaikan Presiden Erdoğan usai salat Jumat di Istanbul.

"Kita mungkin mengambil langkah untuk mensuspens hubungan diplomatik dengan UEA atau menarik duta besar kita," ujar Erdogan seperti dilaporkan Anadolu, Jumat (14/8/2020).

Turki menjadi salah satu negara yang mengecam keputusan normalisasi antara Uni Emirat Arab dan Israel. Negara lain yang turut mengecam adalah Iran.

Di lain pihak, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut normalisasi UEA dan Israel didukung oleh Mesir dan dua negara teluk: Oman dan Bahrain.

"Saya berterima kasih Presiden Mesir al-Sisi, dan pemerintah Oman dan Bahrain, atas dukungan mereka kepada perjanjian damai bersejarah antara Israel dan Uni Emirat Arab, yang mengekspansi lingakran perdamaian dan akan baik untuk seluruh daerah," ujar PM Netanyahu via Twitter. 

Normalisasi hubungan diplomatik antara Uni Emirat Arab dan Israel dipenuhi nuansa bisnis. Sektor-sektor yang akan dikembangkan beberapa di antaranya, yakni investasi, telekomunikasi, energi, dan keamanan. 

Perjanjian itu diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia mengatakan perjanjian ini sebagai sebuah terobosan besar. 

2 dari 3 halaman

Palestina Sebut Uni Emirat Arab Khianati Yerusalem dan Al-Aqsa

Pemerintah Palestina resmi mengecam keputusan Uni Emirat Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Kedua negara melakukan normalisasi hubungan untuk memperat kerja sama di berbagai bidang, seperti investasi. 

Berkat perjanjian itu, Israel menangguhkan aneksasi Tepi Barat. Meski demikian, Palestina tetap tidak terima.  

"Pimpinan Palestina menganggap langkah ini menghancurkan inisiatif perdamaian Arab dan resolusi KTT Arab dan Islam, dan legitimasi internasional, dan sebagai agresi terhadap rakyat Palestina, dan pengabaian hak dan kesucian Palestina, terutama Yerusalem dan kemerdekaan Negara Palestina di perbatasan 4 Juni 1967," tulis pernyataan resmi yang dirilis Kedutaan Besar Palestina di Indonesia, Jumat (14/8/2020).

Lebih lanjut, Pimpinan Palestina menganggap Uni Emirat Arab melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina, serta mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Pimpinan Palestina menolak apa yang telah dilakukan oleh Uni Emirat Arab karena itu adalah pengkhianatan terhadap Yerusalem, Al-Aqsa dan perjuangan Palestina, dan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel," ujar pihak Palestina.

Palestina lantas menuntut Uni Emirat Arab untuk segera menarik diri dari kesepakatan yang mereka sebut tercela. Argumen melakukan normalisasi hubungan dengan dalih mencegah aneksasi Tepi Barat juga dianggap hanya kedok saja.

Pihak Amerika Serikat mendorong supaya Israel meneruskan upaya diplomasi dengan negara-negara Arab lain. Palestina pun meminta sebaliknya kepada negara-negara sekutunya.

"Pimpinan Palestina memperingatkan saudara-saudara untuk tidak tunduk pada tekanan Amerika, mengikuti jejak UEA, dan normalisasi bebas dengan negara penjajah Israel yang dengan itu mengorbankan hak-hak Palestina," ujar pihak Palestina.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: