Sukses

Pejabat Top Iran Sebut Donald Trump Lebih Berbahaya dari Virus Corona COVID-19

Liputan6.com, Tehran - Seorang pejabat Iran menyebut Presiden AS Donald Trump "lebih berbahaya daripada Virus Corona COVID-19", dengan mengatakan langkah-langkah untuk memblokir pasokan medis vital untuk memerangi Virus Corona yang akan mencapai Iran sama dengan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Laksamana Muda Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menuduh pemerintah Amerika menentang upaya Dana Moneter Internasional untuk membantu Iran selama pandemi. Demikian seperti dikutip dari laman Al Jazeera, Rabu (8/4/2020). 

"Sanksi atas barang-barang kesehatan adalah tindakan ilegal dan tidak manusiawi dan jadi simbol permusuhan terbuka Trump kepada orang-orang Iran," tulis Shamkhani di akun Twitternya. 

"Oposisi AS untuk memberikan fasilitas kepada Iran oleh Dana Moneter Internasional untuk memenuhi barang-barang medis yang diperlukan untuk memerangi virus corona adalah contoh nyata dari kejahatan terhadap kemanusiaan."

"Trump lebih berbahaya daripada Virus Corona," tambah Shamkhani.

Lebih dari 3.600 orang telah meninggal karena COVID-19 di Iran, sementara jumlah kasus yang dikonfirmasi di negara itu mencapai hampir 60.000, menurut Universitas Johns Hopkins.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Bantuan AS untuk Iran

Trump pada hari Jumat mengatakan ia akan memiliki "tanggung jawab moral" untuk membantu Iran dalam perangnya melawan pandemi Virus Corona jika para pemimpin negara itu meminta bantuan.

"Yah mereka bahkan belum meminta kami untuk melakukan itu," kata Trump ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran sehubungan dengan wabah global.

"Jika mereka ingin bertemu, kami akan senang bertemu dan kami akan menyelesaikan semuanya," tambahnya.

Sejak 2018, pemerintahan Trump telah memberlakukan kebijakan sanksi "tekanan maksimum" terhadap Teheran setelah Washington menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 yang penting.

Di bawah kesepakatan, yang dicapai antara Iran, AS, Uni Eropa, China, Prancis, Rusia, Inggris dan Jerman pada tahun 2015, Teheran berjanji untuk mengurangi ambisi nuklirnya dengan imbalan bantuan sanksi.

Selama bulan lalu, ketika virus menyebar dengan cepat di Iran, AS  berulang kali memperketat sanksi yang dirancang untuk mencekik ekspor minyak penting Teheran.

Pada 26 Maret, pemerintahan Trump memberlakukan sanksi baru terhadap 20 orang dan perusahaan Iran yang dituduh mendukung milisi Syiah di Irak, yang diyakini bertanggung jawab atas serangan terhadap pangkalan-pangkalan di mana pasukan AS berada.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini: